RSS

Winter Trip in South Korea: Busan in 2 Days

Tanggal 5 Januari 2012 adalah hari pertama aku, Elsa, Rifki menginjakkan kaki di Korea Selatan. Kami turun dari pesawat menuju ke dalam ruangan di dalam gedung Bandara Incheon. Bandaranya cukup mewah dan modern meskipun masih kalah dibanding Changi di Singapore tapi jauh lebih bagus dibanding Soetta. Hehehe. Dari terminal tempat kami turun ke terminal kedatangan utama kita harus naik kereta antar terminal. Lolos dari imigrasi, kami menuju ke hall kedatangan dan mencari pintu keluar no.10 untuk membeli tiket bus ke Busan. Loket penjualan tiket ke Busan ada di blok 10C (liat peta di bawah).

Brrrrr.. Adem banget pas pintu otomatis menuju keluar dari gedung terminal terbuka. Jadi kami pun langsung pakai kostum winter lengkap sebelum keluar untuk membeli tiket bus. Tiket bus Incheon – Busan harganya sekitar 42rb KRW. Mahal juga untuk ukuran kita. Dan itu juga ga dapet makanan apa-apa. Setelah dapet tiket yang jam 10.20, kami balik lagi masuk ke gedung terminal buat cari makan, dan yang kami langsung menuju ke KFC (bingung mau cari makan apa). Standar sih harga paketan di KFC sekitar 6rb – 8rb KRW. Oiya, di Korea kalau makan di resto cepat saji macem KFC gini, setelah makan, sampah-sampahnya musti dibuang ke tempat sampah yang tersedia dan nampannya pun ditumpuk di tempat yang telah disediakan.

tempat sampah yang selalu ada di KFC Korea

tempat sampah yang selalu ada di KFC Korea

Waktu udah mendekati jam 10.20, kami segera menuju ke tempat pemberhentian bus di depan loket tempat beli tiket tadi. Bus juga udah datang, kami pun langsung naik ke Bus karena ga mau kedinginan di luar. Bus-nya cukup nyaman sih.. Berangkattt.. Bus berangkat tepat waktu.. Di sepanjang jalan kami puas banget ngeliat salju di kanan kiri jalan bahkan sempat hujan salju jugaūüėÄ

Di tengah perjalanan, bus berhenti di semacam rest area. Standar lah seperti rest area di Indonesia, ada toilet, penjual makanan dan minuman. Yang beda bagi kami adalah pemandangannya, penuh dengan salju. Di belakang rest area juga ada perbukitan yang ditutupi salju.

Bus Incheon - Busan di Rest Area

Bus Incheon – Busan di Rest Area

Rest Area di percabangan jalan menuju Busan dan Seoul

Rest Area di percabangan jalan menuju Busan dan Seoul

bukit di bagian belakang Rest Area

bukit di bagian belakang Rest Area

Setelah berhenti sekitar 15 menit, perjalanan dilanjut lagi. Di sepanjang perjalanan berikutnya aku banyak-banyakin tidur biar fit lagiūüôā Akhirnya bus sampai juga di terminal bus Nopodong yang merupakan terminal bus antar kota-nya Busan. Letaknya di pinggiran kota Busan sebelah utara. Untuk menuju ke pusat kota, dari terminal ini kami naik subway train line 1 warna orange, dan tergantung dari tujuan masing-masing mau ke daerah mana, bisa transit ke jalur lain juga sesuai tujuannya. Tinggal lihat peta jalur subway aja. Berhubung kami mau ke penginapan yang udah kami booking sebelumnya (Kim’s House) yang lokasinya ada di deket stasiun subway Daeyeon, jadi kami naik line 1 dulu sampai stasiun Seomyeon trus ganti line 2 (warna hijau) yang ke arah Jangsan dan turun di stasiun Daeyeon.

Sampai di Daeyeon, kami agak kebingungan nyari alamat si Kim’s House dan kami harus nanya-nanya ke orang yang lewat. Untungnya mereka helpful sama orang asing meskipun orang yang kami tanyai itu agak kurang ngerti juga daerah situ. Tapi akhirnya ketemu juga. Kim’s House ini bentuknya nggak seperti penginapan tapi lebih ke rumah biasa. Sepertinya sama si empunya si Mr.Kim, rumah yang jadi tempat tinggalnya ini kamar-kamar kosongnya dimanfaatkan untuk disewakan ke turis-turis. Dia cuma tinggal berdua di situ sama istrinya. Umurnya juga masih muda, mungkin sekitar 30 tahunan ke atas. Jadi semua fasilitas di rumah itu bisa digunakan bersama-sama, si empunya dan para tamu-tamu yang menyewa rumahnya. Termasuk dapur dan ruang makannya. Mr. Kim-nya juga baik orangnya. Pas dateng kita dijelasin tempat-tempat wisata yang menarik dikunjungi di Busan pakai peta. Sebenernya sih aku juga udah buat itinerary-nya sih, jadi udah tau mau kemana aja dan kapan. Sore itu kami putuskan buat istirahat dulu, baru habis maghrib jalan keluar.

Kebingungan cari alamat Kim's House

Kebingungan cari alamat Kim’s House

Sekitar jam 7-an malam kami jalan keluar. Tujuan kami adalah ke Gwangalli Beach. Berhubung sekalian mau cari makan dan lokasinya nggak terlalu jauh dari penginapan, jadi kami putuskan buat jalan kaki. Wrrrr… anginnya kenceng juga di sepanjang jalan. Mungkin karena dekat dengan laut. Sebenernya ga ada masalah sama suhu musim dingin di Busan, asal nggak ada angin. Tapi begitu anginnya lumayan kenceng, dinginnya jadi berasa bangettt. Di sepanjang jalan kami bingung juga mau cari tempat makan. Mau masuk ke resto tapi kawatir harganya mahal dan merusak keuangan kami jadi ga brani deh masuk. Sampai akhirnya kami ketemu semacam warung mungkin kalo di Indonesia, jualannya semacam makanan cepat saji yang mereka masak dari makanan kemasan instan. Mungkin kalo di sini semacam warung burjo yang biasa jualan mie instan juga. Tapi ini lebih elit dikit, meja kursinya macem di foodcourt gitu meskipun space-nya kecil. Kami pesan nasi plus sup kimchi. Yah lumayan lah buat ngisi perut dan yang pasti harganya murah meriah.

Habis makan kami lanjut jalan kaki lagi dan akhirnya sampai juga di Gwangalli Beach. Agak aneh juga ke pantai malem-malem, di musim dingin pula. Hehehe. Kami kesini karena memang mau ngeliat suasana keramaian di sana karena banyak resto-resto dan tempat hangout orang Busan di sepanjang jalan di tepi pantai, apalagi waktu itu pas malem minggu. Selain itu kita juga pengen liat Gwangan Bridge yang tampak melintang di depan pantai dengan lampu-lampunya. Di pinggir pantai juga ada trotoar lebar dimana ada taman-taman kecil dan kursi-kursi buat duduk-duduk. Saat itu juga masih suasana natal & tahun baru, dekorasi-dekorasi natal dan tahun baru juga masih terpasang. Jadi kami bisa foto-foto juga di sana.

Gwangan Bridge from Gwangallin Beach

Gwangan Bridge from Gwangalli Beach

Gwangali Beach: (dari kiri atas searah jarum jam) cafe-cafe di tepi jalan sepanjang Gwangalli Beach; trotoar di tepi pantai yang masih berhias lampu-lampu dekorasi Natal & Tahun Baru; kertas-kertas yang digantung di bawah pohon lampu 2013 yang berisi harapan-harapan orang yang menulisnya di tahun yang baru; pohon lampu tahun baru 2013; kepiting salju di salah satu resto di pinggir pantai

Gwangali Beach: (dari kiri atas searah jarum jam) cafe-cafe di tepi jalan sepanjang Gwangalli Beach; trotoar di tepi pantai yang masih berhias lampu-lampu dekorasi Natal & Tahun Baru; kertas-kertas yang digantung di bawah pohon lampu 2013 yang berisi harapan-harapan orang yang menulisnya di tahun yang baru; pohon lampu tahun baru 2013; kepiting salju di salah satu resto di pinggir pantai

Puas jalan-jalan di Gwangalli Beach, kami pun mencari stasiun Metro (subway) terdekat yaitu Gwangan St. dan kami naik subway train jalur hijau ke Daeyeon St dan kembali ke penginapan.

Besok paginya kami siap-siap buat jalan lagi. Tujuan kami hari itu adalah ke Jagalchi Fish Market, Busan Film Festival Walk, Gukje Market, Busan Tower dan Dongnae Foot Bath Hot Spring. Sebelum berangkat jalan, kami sudah packing tas dan menitipkan tas ke Mr. Kim sekalian check out karena sorenya kami harus ke bandara untuk terbang ke Jeju. Tujuan pertama kami pagi itu ke Jagalchi Fish Market sekalian jalan-jalan di Busan Film Festival Walk, Gukje Market dan Busan Tower yang lokasinya nggak jauh dari Jagalchi Fish Market. Dari Daeyeon St. kami naik subway jalur hijau ke Seomyeon St. trus lanjut ganti jalur orange ke Jagalchi St. Sampai di Jagalchi St. kami jalan keluar melalui exit no.10 yang menuju ke Jagalchi Fish Market. Sampai di jalanan pasar, sudah banyak penjual ikan yang berjualan dagangannya di tepi jalan. Ada juga kios-kios yang merangkap resto-resto kecil yang menjual kepiting salju yang diletakkan hidup-hidup di akuarium-akuarium di depan resto mereka. Seneng banget ngeliatin ikan-ikan dan hasil laut lainnya dijual di pasar ini. Buanyak, baik kuantitas maupun jenisnya, jenis ikannya beragam dari berbagai macam ukuran, dan keliatan seger-seger. Masih belum masuk ke gedung pasarnya aja udah banyak banget yang jualan. Pas masuk ke dalam gedung pasar, pasarnya cukup bersih. Di lantai dasar berisi penjual hasil laut saja, sedangkan kalo kita naik ke lantai atas, terdapat warung-warung makan yang menjual menu-menu dengan bahan dasar hasil laut yang dijual di bawah. Berhubung waktu itu masih pagi jadi kami cuma liat-liat aja. Berbagai macam jenis hewan laut dijual di sana. Bahkan ada hewan laut yang belum pernah aku liat. Entah apa namanya. Kami turun lagi dan jalan keluar ke bagian belakang gedung yang berbentuk seperti pelabuhan dan bisa langsung memandang ke laut dari tempat tersebut. Pemandangannya bagus juga, jadi kami foto-foto di sana. Terasa banget Busan sebagai kota pelabuhan. Ada banyak burung camar juga yang berterbangan di sana.

Jalgachi Fish Market (searah jarum jam): lapak-lapak di jalanan depan gedung pasar (latar belakang gedung pasar Jagalchi); kerang super!; cumi dari berbagai ukuran; lapak di dalam gedung pasar; dagangan di salah satu lapak di dalam gedung pasar bentuknya aneh-aneh, yang warna ijo itu abalone kali ya; warung-warung di lantai atas gedung pasar

Jalgachi Fish Market (searah jarum jam): lapak-lapak di jalanan depan gedung pasar (latar belakang gedung pasar Jagalchi); kerang super!; cumi dari berbagai ukuran; lapak di dalam gedung pasar; dagangan di salah satu lapak di dalam gedung pasar bentuknya aneh-aneh, yang warna ijo itu abalone kali ya; warung-warung di lantai atas gedung pasar

View di Belakang Gedung Pasar Jagalchi dan Burung Camar yang hinggap dan berterbangan

View di Belakang Gedung Pasar Jagalchi dan Burung Camar yang hinggap dan berterbangan

Sambil menunggu jam makan siang, kami berjalan-jalan dulu ke Busan Film Festival Walk, Gukje Market dan Busan Tower. Busan Film Festival Walk lokasinya berada di seberang lurusannya jalan yang menuju ke Jagalchi Market. Jalan itu khusus untuk pejalan kaki saja  dan banyak penjual makanan yang berjualan di jalan tersebut. Salah satu makanan yang dijual adalah hotteok, semacam pancake goreng manis isi gula-kacang dan kacangnya bukan kacang tanah. Kalo diliat-liat sih mirip potongan-potongan pistachio. Aku beli sebiji. Enakkk ternyata dan dijualnya panas-panas jadi lumayan buat anget-anget. Harganya sebiji 1000 won. Di lantai sepanjang jalan ini juga ada cetakan tangan dan tanda tangan dari artis-artis yang datang di Busan International Film Festival ke-16.

Gapura Busan International Film Festival (atas); cetakan tangan dan tanda tangan di lantai jalan (bawah)

Gapura Busan International Film Festival (atas); cetakan tangan dan tanda tangan di lantai jalan (bawah)

ngantri beli Hotteok dan wujud Hotteok

ngantri beli Hotteok dan wujud Hotteok

Jalan terus ke arah utara kami menemukan Gukje Market. Masih banyak toko yang belum buka jadi kami lanjut jalan kaki ke arah timur laut menuju Busan Tower. Kami cuma foto-foto di depannya aja sih, yang penting ada foto bareng si towernyaūüôā

Busan Tower

Busan Tower

Kelar foto-foto sama Busan Tower, kami balik lagi ke Gukje Market. Elsa pengen beli boots lucu biar ga kalah trendy sama cewek-cewek Korea. Hehehe. Debenernya karena boots yang dia pake dari Indonesia, sol-nya udah lepas pas baru dipake jalan di Korea sih. Setelah keliling-keliling ketemulah toko yang jual sepatu dan modelnya macem-macem, akhirnya kebeli juga dah boots warna pink setelah ditawar-tawar. Selain sepatu, di Gukje Market ini banyak dijual juga syal, sarung tangan, kupluk dan segala macam pernak-pernik. Setelah keliling-keliling pasar dan waktu juga udah cukup siang, kami balik lagi ke Jagalchi Market. Tekad kami untuk makan kepiting salju udah bulat. Kami pun berhenti di salah satu resto/warung di tepi jalan yang masih termasuk kompleks Jagalchi Market. Tanya sama ibu-ibu penjual yang di depan harganya berapa. Dia bilang sekilonya kalo ga salah 65,000 won. Trus dia ambilin tuh seekor kepiting salju hidup dari akuariumnya. Pas ditimbang ternyata sekilo lebih dikit. Trus kami tawar deh 60,000 won dan udah dimasakin dan kami makan di tempat. Ok deal! Kami masuk ke dalam restonya. Bentuknya lesehan. Sambil nunggu kepitingnya matang, makanan pendamping seperti kimchi, pajeon (pancake korea yang mirip sama telur dadar kalo di Indonesia) dan berbagai macam sayuran lain dihidangkan. Dan itu semua gratis, termasuk di harga beli kepiting tadi, kecuali nasinya, kami harus nambah 1,000 won untuk semangkuk nasi. Setelah beberapa menit kemudian akhirnya kepiting kami dataaang. Baunya aja udah bikin ngiler.  Kami disediain penyungkil daging kepiting dari besi panjang gitu. Semacam garukan tapi langsing, jadi dia bisa masuk ke cangkang kaki si kepiting. Di semua kakinya ada daging yang bisa dimakan. Dagingnya lembut dan manis. Bentuk dagingnya seperti kumpulan benang berdiameter 1 mm gitu. Uenaaakkkk. Trus juga gampang banget lepas dari cangkangnya. Itu kepiting padahal cuma direbus doang masaknya tapi justru malah originalitas rasa daging kepitingnya jadi lebih terasa. Daging kepiting terenak yang pernah aku makan pokoknya. Untuk minumnya disediain pitcher air putih beserta gelasnya, jadi nggak perlu kluar duit lagi. Jadi lumayanlah 21,000 won seorangnya, udah puas.

kepiting salju di-display di dalam akuarium dan calon kepiting salju kami yang lagi ditimbang

kepiting salju di-display di dalam akuarium dan calon kepiting salju kami yang lagi ditimbang

kepiting salju siap santap plus segala makanan pendampingnya (all-in)

kepiting salju siap santap plus segala makanan pendampingnya (all-in kecuali nasi)

Selesai makan, kami lanjutin jalan ke Dongnae Foot Bath Hot Spring. Untuk ke sana kami harus naik subway ke Ocheonjang St. Dari Jagalchi St. kami naik subway jalur orange langsung ke Ocheonjang St.. Sampai di Oncheonjang St., keluar dari exit no.1 trus jalan ke kiri sampai ketemu lampu merah baru deh nyeberang jalan raya dan masuk ke jalan Geumganggongwon-ro trus ikuti petunjuk ke Dongnae Foot Bath Hot Spring. Begitu kami sampai sana, ehhhh malah lagi ditutup. Trus kami jalan lagi nyari Hur Shim Chung Spa yang katanya salah satu tempat spa terbesar di Asia. Susah bener nyari gedungnya. Setelah tanya ke orang baru deh ketemu. Bangunannya jadi satu sama hotel. Aku sebenernya pengen nyobain sih, tapi berhubung Elsa ma Rifki nggak pengen jadi ya foto-foto aja deh di depannya. Pas jalan mau balik ke Oncheonjang St., malah nemu tempat celup kaki yang lain, namanya Dongnae Spatopia dan tutup juga. Kolam-kolamnya pada kering, ga ada airnya. Apa mungkin sistem aliran air panasnya lagi under maintenance ya..

berbagai tempat di kompleks Dongnae Hot Spring

berbagai tempat di kompleks Dongnae Hot Spring

Karena kami harus segera ke Bandara Internasional Gimhae karena malamnya harus terbang ke Jeju dan kami nggak mau terburu-buru jadi kami putuskan untuk segera kembali ke penginapan untuk mengambil tas yang kami titipkan pagi tadi dan Shinsegae Centum City Mall terpaksa di-skip. Setelah pamitan sama Mr. Kim kami langsung menuju ke Daeyeon St. Untuk ke Bandara Gimhae, dari Daeyeon St. kami harus naik subway jalur hijau ke Sasang St. dan dari sana ganti naik Busan-Gimhae Light Metro yang harga tiketnya relatif lbh mahal dibanding harga tiket Metro (subway) biasa. Meskipun sampai di bandara lebih awal, kami tetep langsung check-in duluan. Kami naik Jeju Air yang sebelumnya sudah kami booking via website. Lumayan murah, cuma 42,800 won/person/one way. Tapi kita musti bikin akun dulu di website-nya biar dapet harga promo. Yah nggak masalah sih cuma isi-isi bentar dan kita dapet harga promo. Lumayan kan… Udah termasuk dapet bagasi pula. Hehehe.. Pesawatnya juga bagus, setipe sama Airasia. Jam 19.15 kami pun terbang menuju Pulau Jeju..

Cerita berlanjut di Jeju.. dan sampai saat ini masih ditulis.. sabar yaa.. ^_^’

 
7 Comments

Posted by on February 19, 2014 in South Korea

 

Winter Trip in South Korea: Jakarta – Incheon Flight

Bertiga sama Elsa & Rifki, petualangan kami yang pertama melihat salju pun dimulai.¬†Hari Jum’at tanggal 4 Januari 2013 sepulang kantor aku langsung berangkat menuju¬†Bandara Soetta. Sayang kalau harus cuti kalo perginya aja malem.¬†Tas¬†yang mau dibawa udah disiapkan dan dibawa ke kantor sehari sebelumnya. Aku cuma bawa 1 tas ransel ukuran gede (yah kalo ukuran¬†standard¬†carrier sih masih tergolong¬†ukuran kecil) berisi kaos-kaos, sweater tipis, sarung tangan, kupluk,¬†celdam, kaos kaki cadangan, long john 2 stel, peralatan mandi plus deodoran (sabun & shampo udah diwadahin ke botol-botol kecil bekas sabun-shampo hotel, odol bawa yg kecil, deodoran jg yg di bawah 100 ml, trus semuanya masuk ke plastik klip jadi aman naik ke kabin),¬†lap kanebo baru buat handuk, plus ransel kecil buat jalan & tas cadangan pas pulang. Winter coat nggak¬†masuk di dalem¬†tas tapi cukup ditenteng aja. Berat total ransel ga sampai¬†7 kg. Jadi kalo disuruh timbang, masih lolos¬†naik ke kabin (soalnya nggak beli bagasi).

Berhubung pesawatnya berangkat jam 18.50 dan aku takut macet di jalan, aku izin pulang agak cepet, setengah 4 sore udah keluar kantor dan jam 4 kurang udah dapet Damri (meminimalisasi budget dimulai, haha). Sukurlah tol ke bandara nggak macet, jam 5-an udah sampai terminal 3 Bandara Soetta. Sampai sana langsung lewat imigrasi trus ke ruang tunggu. Elsa sama Rifki ternyata belum sampai. Hari itu mereka udah mulai cuti jadi mereka berangkat dari rumah masing. Sebelum jam 6, mereka udah masuk ke ruang tunggu juga. Dan aku baru ingat, aku lupa nge-print dan bawa itinerary yang aku buat. Untunglah Rifki masih nyimpen di email di hp-nya. Jadi masih bisa liat meski agak ribet harus zoom-in & zoom-out.

Terbanglah kami naik Airasia menuju Kuala Lumpur jam 7 maleman. Seperti biasa, molor kalo udah flight-flight malem. Sampai Kuala Lumpur, begitu masuk ke gedung kedatangan, kami langsung masuk ke antrian transit di sebelah kiri sebelum eskalator naik menuju ke imigration hall LCCT. Kelar urusan transit check-in kami langsung masuk ke ruang tunggu dengan melewati pemeriksaan lagi seperti kalau mau masuk ke ruang tunggu. Ngantuk plus laper di ruang tunggu LCCT tanpa bisa beli makanan karena nggak bawa uang ringgit dan sayang kalo mau nukerin duit rupiah, jadinya ya makan aja roti bekal yang dibeli sebelum berangkat. Untunglah nggak lama-lama banget nunggunya dan tampak tepat waktu, dan kami pun antri boarding. Baru kali ini aku masuk ke pesawat AirasiaX yg ukurannya jumbo,¬†jadi ya agak-agak katrok gitu ngliat ada banyak gang, kursi, kamar mandi, pramugari-pramugara. Hahaha. Ok, it’s time to sleep..

waiting for the next flight *ngantuk*

waiting for the next flight *ngantuk*

Paginya bangun, langitnya udah lumayan cerah, pemandangan di luar tampak pucat. Sepertinya nggak lama lagi bakal sampai. Akhirnya kami bersiap mendarat juga di Incheon. Tampak dari atas bandara yang tertutup salju pada tepi-tepi landasan pacu dan jalan-jalan buat pesawat. Dan aku bisa liat salju secara langsung untuk pertama kalinya dan nggak lama lagi bisa nyentuh salju secara langsung. *super katrok*.

mendarat di Bandara Incheon

mendarat di Bandara Incheon

Cerita berlanjut di halaman Busan

 
Leave a comment

Posted by on February 19, 2014 in South Korea

 

Winter Trip in South Korea

Trip ini sebenernya udah lebih dari setaun yang lalu, tapi karena tahun lalu super sibuk dengan segala macam urusan jadinya baru bisa mulai buat catatan perjalanannya sekarang. Semoga catatanku kali ini bisa cepet kelar sampai akhir trip.ūüôā

————————————————–

Lagi-lagi berkat hunting tiket promo Airasia, komplotan jalan-jalanku (aku, Elsa & Rifki) dapet tiket Jakarta – Incheon PP yang cukup murah buat awal bulan Januari 2013, cuma 2.4 jt PP. Booking nya udah sejak akhir tahun 2011. Sejak mulai dapet tiket, seperti biasa aku mulai cari-cari info buat nyusun itinerary-nya. Dan yang terpenting persiapan bikin Visa Korea.

Cari bahan untuk nyusun itinerary sih gampang. Tinggal googling aja pas di sela-sela waktu luang di kantor ato di rumah, banyak yang nongol. Nah yang bikin repot itu harus nyiapin syarat-syarat buat bikin visa. Harus ngurus surat sponsor ke HRD kantor lah, ngurus surat sponsor dan print out rekening tabungan dari bank lah, bikin pas foto lah, dan yang paling repot musti ngumpulin duit di rekening bank biar orang keduataannya yakin kalau kita mampu pergi ke sono dan bisa balik lagi (secara sebelumnya aku ga punya tabungan yang berarti di rekening bank). Dan alhamdulillah visanya keluar 2 bulan sebelum hari H. Visa single entry Korea cuma valid untuk 3 bulan sejak dikeluarkan.

Dari hasil ngumpulin informasi, akhirnya jadi juga itinerary detail yang aku buat, mulai dari kota dan tempat-tempat wisata mana yang mau dikunjungi sampai transportasi yang digunakan. Penginapan-penginapan juga udah dibooking. Tiket pesawat antarkota juga udah dibeli. Secara umum itinerary yang aku buat ga terlalu beda jauh dengan actual-nya. Berikut actual itinerary winter trip ke Korea kami.

Itinerary 9D8N termasuk Flight Jakarta-Seoul PP

Itinerary 9D8N termasuk Flight Jakarta-Seoul PP

Lanjut ke catatan perjalanannya..

 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2014 in South Korea

 

Solo-Trip to Kuala Lumpur and Penang (Part 2)

Dari Kuala Lumpur, cerita perjalanan Solo-Trip to Kuala Lumpur and Penang (Part 1) ku berlanjut ke Penang. Berhubung pesawatnya pagi jam 7.15, jadilah aku berangkat subuh-subuh dari apartemen temen. Berhubung masih pagi banget, bus umum dan MRT masih belum jalan, akhirnya aku naik taksi ke KL Sentral. Sampai KL Sentral aku langsung menuju ke pool aerobus rute KL Sentral – LCCT. Sampe LCCT sekitar jam 6 dan aku langsung masuk ke ruang tunggu. Untuk sarapan aku beli roti ma minuman di minimarket yang ada di bandara. Terbanglah aku menuju Penang.Penang adalah salah satu negara bagian di Malaysia yang terletak di Barat Laut dari Semenanjung Malaysia. Negara bagian ini terdiri dari 2 bagian, bagian daratan (di Semenanjung Malaysia) yang disebut Seberang Perai dan bagian pulau yang disebut Pulau Pinang dimana ibukotanya George Town berada. Pulau inilah yang menjadi daya tarik wisatawan. Sebagai pulau bekas jajahan Inggris, bangunan-bangunan di pulau ini terutama di kota George Town, sebagian besar merupakan bangunan peninggalan Inggris dan sampai saat ini masih terawat dengan baik. Selain wisata kota dengan peninggalan-peninggalan bangunan bersejarahnya yang sudah menjadi salah satu dari World Herritage Site UNESCO, ada juga wisata pantai yaitu Pantai Batu Ferringhi dan juga yang paling menarik adalah wisata kulinernya.

Setelah sekitar 1 jam perjalanan udara dari Kuala Lumpur akhirnya sampai juga di Penang. Bandara di Penang tidak terlalu besar. Waktu itu bandaranya lagi direnovasi dan sepertinya mau diperbesar. Keluar dari pintu kedatangan aku bingung mau cari loket yang jual kartu rapid Penang yang merupakan kartu prabayar untuk naik Bus Rapid Penang, jadi biar bayar-bayarnya simpel dan bus ini yang bakal jadi transportasi utamaku selama di Penang. Udah cari sana-sini dan nanya petugasnya katanya ga ada yang jual di bandara. Padahal pas googling sebelumnya perasaan ada counter-nya di bandara. Ya sudahlah. Naik aja dulu bus menuju George Town. Aku naik Bus # 401E jurusan George Town via Queensbay Mall. Dari itinerary yang udah aku buat, dari bandara aku mau mampir dulu di Queensbay Mall, bukan untuk nge-mall pastinya (masih tutup juga toko-tokonya jam segitu) tapi buat ngeliat Jembatan Pulau Pinang yang menghubungkan Semenanjung Malaysia dengan Pulau Pinang. Aku jalan ke seberang mall, ke pinggir laut buat foto-foto jembatan.

Queensbay Mall

Queensbay Mall

Jembatan Pulau Pinang

Jembatan Pulau Pinang

Setelah puas foto-foto aku lanjut menuju Komtar (terminal bus pusat kota George Town) naik Bus # 401E juga dari halte tempat aku turun tadi. Untuk tarif bus ini akan bertambah sesuai jarak. Aku juga ga gitu ngerti sama itung-itungannya. Sewaktu naik (lewat pintu depan) kita sebutin tujuan kita ke mana sama pak supirnya trus nanti dia kasih semacam karcis kecil sesuai dengan jarak dan tarif perjalanan kita. Bayarlah sebesar harga yang tercantum di karcis, karena kalo uang kita lebih beberapa sen, kita ga bakal dikasih uang kembalian. Kalo sekali dua kali sih ga masalah, lah kalo berkali-kali kan lumayan, apalagi buat turis kere sepertiku. Jadi itulah kenapa lebih enak pakai kartu prabayar aja dibanding bayar tunai. Ribet bayar-bayar dan nyiapin duitnya.

Sampai Komtar, mulailah aku membuka google map dari BB, ke mana aku musti jalan untuk menuju ke Tune Hotel. Terpaksalah aku booking Tune Hotel karena cari-cari hostel yang punya single room dengan harga yang murah dan dekat dengan pusat kota susah. Sebelum ke hotel, karena masih terlalu dini buat check in, aku mampir dulu ke Chowrasta Market yang nggak jauh di sebelah utara Komtar. Rencananya sih di Pasar Chowrasta mau liat-liat sapa tau ada barang murah yang bisa dibeli buat oleh-oleh seperti magnet kulkas, dll. Tapi pas aku jalan kok nggak nemu. Kebanyakan tokonya jual makanan aja. Atau mungkin aku yang nggak tau dimana tempat yang jual.

Chowrasta Market

Chowrasta Market

Ibu Pejabat Polis Kontinjen Pulau Pinang (kantor Mabes Kepolisian Pulau Pinang) di depan Chowrasta Market

Ibu Pejabat Polis Kontinjen Pulau Pinang (kantor Mabes Kepolisian Pulau Pinang) di depan Chowrasta Market

Dari Chowrasta Market ke Tune Hotel nggak terlalu jauh tapi lumayan capek juga. Sampai hotel karena masih belum waktunya check-in jadilah aku nitip tas dulu. Berhubung budget hotel jadinya sgala sesuatunya ada charge-nya. Nitip tas aja musti bayar. Ya udahlah daripada capek bawa-bawa tas. Dari hotel aku jalan kaki menuju halte CAT (Central Area Transit) Free Shuttle Bus terdekat yaitu Halte Jalan Kedah yang ada di pinggir Jalan Transfer. Bus ini muterin pusat kota George Town dan free alias gratis jadi kalo mau keliling kota yang murah ya naik bus ini aja. Bus-nya pun AC, bersih dan bagus.

Halte CAT Jalan Kedah (Halte No. 11) di tepi Jalan Transfer

Halte CAT Jalan Kedah (Halte No. 11) di tepi Jalan Transfer

Tujuanku adalah Masjid Kapitan Keling dan sekitarnya. Aku naik CAT Bus dari Halte Jalan Kedah (Halte No. 11) ke Halte Kampung Kolam (Halte No. 15). Dari halte ini, jalan sedikit bisa mengunjungi Sri Maha Mariamman Temple dan Masjid Kapitan Keling. Berhubung hari itu pas hari Jum’at, jadilah sekalian sholat Jum’at di Masjid Kapitan Keling. Tapi berhubung pas sampai sana masih jam 11-an, jadinya aku ke Sri Maha Mariamman Temple dulu trus makan siang di warung makan yang ada di samping kiri masjid. Selesai makan pas jamnya sholat. Selesai sholat Jum’at barulah aku foto-foto di depan masjid.

Sri Maha Mariamman Temple

Sri Maha Mariamman Temple

tampak depan Masjid Kapitan Keling dan tempat wudhu yang berbentuk kolam

tampak depan Masjid Kapitan Keling dan tempat wudhu yang berbentuk kolam

Tujuan selanjutnya adalah ke Esplanade dan sekitarnya. Dilihat dari peta sih nggak terlalu jauh kalau jalan kaki jadi ya jalan kaki aja. Perjalanan dari masjid ke City Hall kita bisa liat Goodest of Mercy Temple, foto-foto di depan St. George’s Church, dan bangunan-bangunan bergaya Eropa yang lain.

Goodess of Mercy Temple

Goodess of Mercy Temple

St. George's Church dan gedung Mahkamah Tinggi Pulau Pinang

St. George’s Church dan gedung Mahkamah Tinggi Pulau Pinang

Dari St. George’s Church jalan dikit ke arah utara udah sampai Padang Esplanade. Esplanade ini semacam alun-alun kota, berwujud lapangan berumput yang cukup luas. Di sebelah barat Esplanade ini ada 2 gedung yang cukup menarik untuk foto-foto yaitu gedung Penang City Hall (Gedung Balai Kota) dan Jabatan Perlesenan (kalau bahasa Indonesia-nya Departemen Lisensi yang entah apa tugasnya). Di sebelah utara Esplanade ada yang namanya Dataran Pidato. Dataran Pidato itu semacam pelataran di tepi utara Esplanade yang biasanya digunakan untuk berpidato di Esplanade. Ada syarat-syarat tertentu kalau mau pidato/orasi di sini yang tertulis dengan jelas di papan petunjuk yang telah dipasang.

City Hall (kiri) dan gedung Pejabat Perlesenan (kanan)

City Hall (kiri) dan gedung Pejabat Perlesenan (kanan)

Dataran Pidato

Dataran Pidato

Di sebelah timur Esplanade ada Taman Kota Lama dan di sebelah timurnya Taman Kota Lama terdapat Fort Cornwallis (Kota Cornwallis). Kota ini dikelilingi oleh benteng dan bentuknya seperti bintang dengan 4 sudut. Kota ini dibangun pada tahun 1786 oleh Francis Light dan pasukannya dalam rangka untuk mengambil alih Pulau Pinang. Di sinilah mereka mendarat. Francis Light bisa disebut sebagai Bapak Pendiri Pulau Pinang karena dia yang membangun kota pertama kali di pulau ini. Di dalam kota ini ada beberapa bangunan yang masih kokoh berdiri antara lain kapel atau gereja kecil dan gudang bahan peledak atau bubuk senjata api. Anehnya kenapa pintu di kapel kok rendah banget ya? Apakah badan orang-orang saat itu nggak terlalu tinggi atau ada maksud lain? Entahlah. Selain itu ada bangunan lain yang dijadikan tempat untuk display yang menceritakan sejarah Pulau Pinang mulai dari latar belakang Francis Light, Francis Light mendarat di Pulau Pinang dan mulai membangun kota, hingga serangan Jepang pada PD II. Di sudut sebelah barat laut ada juga meriam yang diberi nama Meriam Seri Rambai.

dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah: bagian luar Fort Cornwallis, gerbang masuk Fort Cornwallis, tiket masuk Fort Cornwallis, patung Francis Light, gereja kecil, gudang bahan peledak, Meriam Seri Rambai

dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah: bagian luar Fort Cornwallis, gerbang masuk Fort Cornwallis, tiket masuk Fort Cornwallis, patung Francis Light, gereja kecil, gudang bahan peledak, Meriam Seri Rambai

Keluar dari Fort Cornwallis, tujuanku selanjutnya adalah ke arah halte CAT no. 1 Pangkalan Weld (Weld Quay), aku pengen mengunjungi Church Street Pier yang ada tak jauh dari halte tersebut. Dari Fort Cornwallis aku jalan kaki ke Church Street Pier, pertama menyusuri Lebuh Light kemudian ketemu dengan sebuah menara jam yang berada di tengah-tengah persimpangan jalan di ujung Lebuh Light. Nama menara ini adalah Queen Victoria Memorial Clocktower, sebuah menara jam setinggi 60 ft yang dibangun untuk memperingati Quuen Victoria Diamond Jubilee dan 60 ft diartikan sebagai 60 tahun masa pemerintahan Ratu Victoria (Ratu Inggris). Dari menara jam aku jalan lurus ke arah Jalan Pengkalan Weld kemudian jalan berbelok ke kanan. Di belokan Jalan Pengkalan Weld itu ada juga bangunan yang menarik yaitu Swettenham Pier, sebuah pelabuhan yang dibangun pada tahun 1903 dan hingga sekarang masih difungsikan sebagai pelabuhan kapal pesiar. Tak jauh dari Swettenham Pier, di sebelah kiri jalan ketemu sama halte Pengkalan Weld. Aku masih jalan lurus lagi untuk sampai ke Church Street Pier. Church Street Pier adalah sebuah pelabuhan yang dibangun pada tahun 1897 dan saat ini sudah tidak difungsikan lagi. Bangunannya cukup unik sebagai sebuah pelabuhan.

Queen Victoria Memorial Clocktower

Queen Victoria Memorial Clocktower

Swettenham Pier dengan latar belakang kapal pesiar yang sedang berlabuh

Swettenham Pier dengan latar belakang kapal pesiar yang sedang berlabuh

Church Street Pier (berhubung aku nggak dapet foto yg bagus jadi aku ambil dari sini http://www.asiaexplorers.com/malaysia/penang/churchstpier/01.jpg)

Church Street Pier
(karena aku ga dapet foto yg bagus jadi aku ambil dari sini http://www.asiaexplorers.com/malaysia/penang/churchstpier/01.jpg)

Dari Church Street Pier, tujuan selanjutnya adalah ke Pinang Peranakan Mansion. Berhubung tanggung kalau mau naik CAT Bus, aku pilih jalan kaki lagi ke Pinang Peranakan Mansion. Bangunan ini ada di Church Street (Lebuh Gereja) jadi dari pier aku jalan lurus aja menjauhi pier. Lumayan juga sih kalau jalan kaki, tapi sekalian bisa liat-liat bangunan-bangunan tua di sepanjang jalan ini. Pinang Peranakan Mansion ada di sebelah kiri jalan setelah melewati 1 perempatan besar. Pinang Peranakan Mansion adalah rumah megah yang diperbaharui sebagai museum untuk menunjukkan kehadiran pemukiman Cina di Penang pada masa lalu. Rumah megah ini dulunya adalah kediaman sekaligus kantor Kapten Cina Chung Keng Kwee. Dia adalah penambang timah Hakka pada abad ke-19 dan pemimpin perkumpulan rahasia Hai San. Pinang Peranakan Mansion berisi lebih dari 1.000 koleksi barang antik. Mansion yang dibangun pada tahun 1890-an ini unik karena menggabungkan berbagai arsitektur Cina dan menggabungkan panel ukiran kayu Cina dengan ubin lantai dari Inggris dan besi-besi dari Skotlandia. Jika kita masuk ke dalamnya kita tidak boleh mengambil foto sama sekali. Berhubung untuk masuk harus bayar 10 RM dan aku harus menghemat pengeluaran, jadilah aku cuma foto-foto di depannya doang sambil ngintip-ngintip yang bisa diliat dari pintu masuk. Kasian banget ya. Hehehe.

Pinang Peranakan Mansion

Pinang Peranakan Mansion

Selesai foto-foto di (depan) Pinang Peranakan Mansion, aku lanjut jalan lagi dan kali ini aku mau naik CAT Bus jadi harus cari halte. Kalau liat dari peta sih halte terdekat itu halte no. 3 Little India, tapi karena pengen liat-liat bangunan-bangunan tua yang lain jadi aku lewat jalan yang lain dan langsung menuju ke halte no. 5 Bank Negara. Dari halte no. 5 aku naik CAT Bus dan turun di halte no. 7 Lebuh Muntri, halte terdekat dengan Cheong Fatt Tze Mansion yang jadi tujuanku selanjutnya. Lumayan juga jalan kaki dari halte ke sana. Eh pas sampai sana, Cheong Fatt Tze Mansion tutup. Mansion ini dibangun pada akhir abad ke-19 oleh Cheong Fatt Tse yang diharapkan cukup untuk rumah tinggal keluarga 9 generasi berikutnya. Tanahnya dipilih berdasarkan hasil pemilihan ahli feng shui. Dia memutuskan untuk membangun rumah tradisional Cina meskipun orang-orang peranakan Cina yang lain di sekitar tempat tersebut saat itu membangun rumah dengan gaya Anglo-India. Kamar-kamar di mansion ini juga disewakan untuk umum. Untuk keterangan lebih lanjut bisa dilihat di website resminya berikut. Di sebelah kiri Cheong Fatt Tze Mansion ini juga ada sebuah toko coklat namanya The Chocolate Boutique. Aku sih tertarik pengen masuk sebenernya. Tapi lagi-lagi mengingat duit di kantong jadilah aku mengurungkan niat buat masuk. Lain kali kalau kesana lagi, aku harus bisa masuk ke sana. Hehehe.

Cheong Fatt Tze Mansion

Cheong Fatt Tze Mansion

The Chocolate Boutique di samping Cheong Fatt Tze Mansion

The Chocolate Boutique di samping Cheong Fatt Tze Mansion

Berhubung hari udah sore dan aku juga udah lumayan capek jadi dari Cheong Fatt Tze Mansion aku naik CAT Bus lagi, balik ke halte no. 11 Jalan Kedah dan jalan balik ke hotel. Sampe hotel aku ambil tas di penitipan dan masuk ke kamar. Hufff… akhirnya bisa rebahan juga di kasur yang empuk, meskipun pendinginnya cuma pakai kipas angin gede tepat di atas kasur. Sejak sampai di Penang, perutku rasanya udah agak-agak nggak enak dan sekarang mulai agak pusing. Tampaknya¬†aku diare gara-gara¬†ada salah makan pas di KL. Jadi bikin nggak enak aja buat jalan-jalan. Tidur sore dulu lah aku sebelum ntar malem beredar lagi, berharap ntar bangun tidur udah baikan sakitnya.

Bangun tidur sekitar jam 7-an sore, mandi, sholat, trus siap-siap jalan lagi meskipun badan masih rada-rada nggak enak. Aku jalan ke seberang hotel dan ke arah Komtar, ada halte bus di situ. Aku naik Bus Rapid Penang no. 101 ke arah Gurney Drive. Tujuanku adalah Gurney Drive Hawker Center sekalian mau cari makan malam. Sebenernya bus ini bisa sampai sana, tapi karena aku pengen jalan kaki menyusuri pantai, jadi aku turun di Jalan Kelawei sebelum sampai Gurney Drive trus jalan kaki menuju ke Jalan Persiaran Gurney dan jalan kaki menyusuri pantai sampai ke Gurney Drive Hawker Center. Lumayan jauh juga ternyata.

Gurney Drive Hawker Center adalah semacam area berkumpulnya banyak pedagang kaki lima yang menjual berbagai makanan khas Penang. Areanya dipisahkan antara makanan yang halal dan non halal. Bagian yang halal ada di paling ujung utara. Malam ini aku pilih makan Rojak Pasembur. Makanan ini berupa goreng-gorengan seperti bakwan udang, tahu goreng, dll yang bisa kita pilih sendiri lalu nanti si penjual yang akan memotong-motong dan akan dikasih potongan sayuran (kayaknya sih timun) dan bumbu semacam bumbu dari gula dan kacang, mirip bumbu rujak di Indonesia. Si bapak-bapak penjualnya atraktif banget pas motong-motong gorengan sama ngasih bumbunya. Pakai nyanyi-nyanyi segala. Sebenernya aku suka banget makanan ini, tapi gara-gara kondisi perut ini jadi bikin aku nggak terlalu bernafsu buat makan. Selesai makan aku balik lagi ke hotel. Untuk ke hotel aku musti ke halte bus, dari Gurney Drive aku nyebrang ke arah utara ke Jalan Tanjung Tokong di sebelah kanan jalan. Aku naik bus no. 101 lagi dan turun di halte Jalan Kedah di Jalan Transfer dan jalan balik ke hotel. Hari pertama di Penang yang cukup melelahkan. Saatnya istirahat mengumpulkan energi buat besok.

Gurney Drive Hawker Center

Gurney Drive Hawker Center

Penjual Rojak Pasembur

Penjual Rojak Pasembur

Rojak Pasembur

Rojak Pasembur

Keesokan harinya aku berangkat dari hotel pagi-pagi. Rencana hari itu aku mau ke Keh Lok Si Temple, Bukit Bendera dan Pantai Batu Ferringhi. Tujuan pertama adalah ke Keh Lok Si Temple dan Bukit Bendera (Penang Hill) yang lokasinya satu arah jika naik Bus RapidPenang. Dari hotel aku jalan kaki ke terminal Komtar dan naik bus no. 204 jurusan Penang Hill. Perjalanan dari Komtar ke Air Hitam (daerah di mana Keh Lok Si Temple dan Penang Hill berada) lumayan jauh. Bus 204 akan melewati Keh Lok Si Temple dulu sebelum sampai ke tujuan akhir Penang Hill, jadi aku turun di Jalan Pasar, Air Hitam dulu, tempat turun bus terdekat dengan jalan menuju Keh Lok Si Temple. Untuk menuju Keh Lok Si Temple, dari Jalan Pasar aku belok ke kiri dikit (menuju Jalan Balik Pulau) kemudian di sebelah kiri ada semacam gang kecil mirip terowongan menuju ke atas yang kanan kirinya penuh dengan orang jualan. Aku berjalan ke atas menyusuri gang berundak-undak. Selesai menyusuri gang aku ketemu semacam serambi yang isinya juga pertokoan, banyak kios-kios yang menjual souvenir. Setelah itu juga ada kolam yang berisi banyak kura-kura lalu ada taman-taman juga. Sampai serambi terakhir sebelum naik ke atas Pagoda atau Patung besar Dewi Kwan Yin (Dewi Kwan Im) terdapat beberapa patung tempat berdoa dan toko souvenir resmi. Untuk naik ke kedua tempat tersebut kita harus bayar. Aku pilih ke salah satu tempat aja yaitu ke Patung Dewi Kwan Yin. Untuk naik ke atas Patung Dewi Kwan Yin kita harus naik inclined lift. Di atas area tempat patung Dewi Kwan Yin berdiri ada taman, patung-patung dari semua shio yang ada dan ada beberapa bangunan. Dari sini kita juga bisa melihat ke bawah, kota Air Hitam yang tepat berada di bawahnya dan George Town yang agak jauh ke arah pantai.

Keh Lok Si Temple

Keh Lok Si Temple

mie goreng & es sari tebu pinggir jalan

jalan naik menuju Penang Hill Station

jalan naik menuju Penang Hill Station

Kelar foto-foto aku balik lagi turun. Aku mampir beli tempelan kulkas di pedagang yang ada di pinggiran gang. Pas aku sampai di Jalan Pasar lagi, eh bus 204-nya barusan lewat. Berhubung aku males nungguin lama, jadilah aku jalan kaki ke Penang Hill. Aku buka google map di BB. Di tengah jalan pake acara gerimis yang lumayan deres pula, untung bawa payung. Sampai persimpangan Jalan Air Hitam dan Jalan Bukit Bendera, aku mampir dulu beli makan siang. Ada pedagang kaki lima yang jualan di pojokan jalan. Aku beli mie goreng dan minum sari tebu. Selesai makan aku lanjut lagi jalan kaki¬†menanjak menyusuri¬†Jalan¬†Bukit Bendera¬†ke Penang Hill Station. Keringetan dah sampai Penang Hill Station. Aku langsung ngantri beli tiket naik kereta menuju ke atas Bukit Bendera. Harga tiketnya seorang 30 MYR buat turis asing, kalau penduduk Malaysia cuma 8 MYR. Kereta yang dioperasikan saat ini tergolong baru. Kereta sebelumnya lebih klasik bentuknya, sedangkan yang sekarang lebih modern, mirip dengan kereta MRT tapi desainnya dibuat miring jadi pada saat kereta dalam posisi miring, lantai di dalam kereta posisinya datar. Kereta mulai bergerak naik menyusuri jalur rel yang sangat menanjak hingga kemiringan kira-kira 60 derajat. Setelah beberapa lama akhirnya sampai juga di stasiun atas Bukit Bendera. Udaranya lumayan dingin. Dari atas Bukit Bendera kita bisa melihat ke arah kota George Town. Di atas sini ada beberapa bangunan antara lain cafe Sky Terrace, Owl Museum, Masjid Bukit Bendera, Kuil Hindu Murugan dan¬†Guard House. Masjid dan Kuil Hindu ini lokasinya bersebelahan. Aku sekalian sholat jama’ Dzuhur dan Ashar di Masjid Bukit Bendera.ūüôā

Bukit Bendera (Penang Hill)

Selesai keliling dan foto-foto di Bukit Bendera, aku balik turun lagi naik kereta sampai stasiun bawah. Dari stasiun bawah aku naik bus 204 jurusan Bukit Bendera – George Town yang memang sudah ngetem di sana karena Bukit Bendera memang terminal terakhirnya. Aku turun di terminal Komtar. Dari terminal komtar aku langsung naik bus 101 ke Pantai Batu Ferringhi. Di tengah perjalanan, setelah kota Tanjung Bungah di sisi kanan kita bisa liat ada Masjid Terapung Tanjung Bungah. Sampai Batu Ferringhi aku turun di depan Pom Bensin Petronas Batu Ferringhi. Dari situ aku nyebrang trus cari jalan masuk ke arah pantai. Aku jalan kaki menyusuri pantai ke arah barat daya karena rencananya aku mau ke Hard Rock Hotel, seperti biasa mau beli kaos Hard Rock Cafe (dibela-belain beli tiap dateng ke suatu¬†kota yang ada Hard Rock Cafe-nya meskipun biasanya bayarnya pake kartu kredit, hehehe). Pantai Batu Ferringhi ini panjan, lurus dan¬†tergolong bersih dengan pasirnya yang berwarna putih. Di sini juga tersedia berbagai macam olahraga pantai seperti jet ski, parasailing, banana boat,¬†dan lain-lain. Di pinggir pantai juga ada banyak penginapan-penginapan kecil yang langsung menghadap ke pantai. Lumayan jauh juga aku jalan kaki sampai Hard Rock tapi ga terlalu berasa karena di sepanjang pantai aku foto-foto sambil liat pemandangan. Pas banget juga waktu itu¬†udah hampir sunset. Sampai Hard Rock Hotel aku langsung cari tempat rock shop yang jual kaos dan berbagai souvenir Hard Rock. Aku nemu¬†Rock Shop¬†di bagian depan hotel. Tokonya kecil, barang yang dijual pun macamnya nggak banyak. Agak susah juga milih kaos yang pas di hati, meskipun akhirnya dapet juga. Kelar beli kaos, aku foto-foto di depan gitar khas-nya Hard Rock bentar trus jalan nyusuri jalan raya sampai nemu halte bus yang nggak jauh di sebelah kanan hotel. Nah pas jalan itu baru tau kalo ada Rock Shop-nya Hard Rock Cafe di sisi sebelah kanan kompleks hotel dan lebih gede tempatnya. Barangnya juga nampak banyak pilihan. Zzzzzz… Udah terlanjur, ya udahlah..

Lumayan lama juga aku duduk di halte nungguin bus 101 lewat sampai akhirnya ada juga bus yang nongol. Rencananya aku mau¬†mampir di Gurney Drive, cari makan malem sekalian. Sampai Gurney Drive aku nyobain char kway teow yang terkenal di Penang. Char kway tiaw itu kalau di Indonesia mirip kweitauw goreng tapi¬†ditambah udang dan sayuran seperti tauge dan daun bawang. Bumbu-bumbunya juga sepertinya agak beda. Bumbu char kway teow lebih complicated saos-saosannya. Malam terakhir di Penang ditutup dengan sepiring char kway teow, segelas teh dan es jeruk.ūüôā

Char Kway Teow

Char Kway Teow

Selesai makan aku naik bus 101 lagi dan seperti sebelumnya aku turun di halte yang ada di Jalan Transfer. Sampai hotel, mandi trus packing karena besok pagi-pagi buta harus berangkat ke bandara, balik lagi ke KL.

Besok paginya, aku naik bus 401E lagi dari Komtar ke bandara. Akhirnya balik lagi ke KL dan sampe LCCT masih cukup pagi. Pesawatku untuk balik ke Jakarta masih sorenya. Aku harus balik ke apartemen temenku dulu buat ambil barang-barangku yang aku tinggal pas pergi ke Penang. Buat ke kota, aku beli tiket aerobus ke KL Sentral sekalian untuk PP karena lebih murah 2 MYR itungannya kalau PP. Sampe KL Sentral aku mampir makan siang dulu di food court-nya sekalian mau ngabisin duit ringgit. Aku pesen nasi ayam hainan, semacam es campur, sama tea-o-ice. Pas makan aku sambil itung-itung sisa ringgit yang aku punya. Aku harus bisa ke apartemen temenku dan balik lagi ke KL Sentral hanya dengan uang 2.65 MYR (kalau nggak salah ingat). Kalau untuk ke bandara dari KL Sentral sih udah aman karena tadi udah beli tiket aerobus PP pas di LCCT. Waktu aku ke mesin tiket LRT, untuk ke stasiun Masjid Jamek (stasiun terdekat sama apartemen temenku kalo dilihat dari peta) aku butuh duit 1.4 MYR, kalo harus PP berarti butuh 2.8 MYR, nggak akan cukup duitku. Akhirnya aku putar otak, cari alternatif lain yang lebih murah. Aku liat jalur transportasi yang lain selain LRT. Aku liat jalur kereta komuter dan nemu stasiun yang masih bisa terjangkau kalau harus jalan kaki ke apartemen temen (meskipun lebih jauh jalannya dibanding kalau naik LRT dan turun di Masjid Jamek) yaitu stasiun Bank Negara. Aku langsung ke counter tiket Komuter trus nanya dulu ke Mbak penjualnya, kalau ke Bank Negara brapa duit, dia bilang 1 MYR. Mantaplah. Berangkat naik Komuter 1 MYR, baliknya naik LRT dari Masjid Jamek 1.4 MYR, total cuma 2.4 MYR dan duitku sisa 25 sen. Hehehe. Sampai apartemen temen, aku langsung beres-beres dan packing. Temenku bilang mau pergi keluar dulu sama temennya (yah karena waktu itu libur hari Minggu dia pasti mau jalan-jalan juga), ya udahlah aku juga malah seneng, bisa tidur dulu sambil nunggu sore. Begitu bangun tidur, ga lama temen datang bawain burger McD. Hehehe. Berhubung aku buru-buru harus berangkat, jadilah aku bilang ke temenku, gimana kalai makanannya aku bawa aja (nggak tau diri, hehehe). Sekitar 3 jam sebelum jam terbang, aku udah berangkat dari apartemen temen, jalan kaki ke stasiun Masjid Jamek, naik LRT ke KL Sentral trus langsung naikaerobus ke bandara. Pas lah aku sampai di bandaranya. And finally, selamat kembali lagi ke tanah air. *langsung males mikirin besok harus mulai kerja lagi*

Terminal Komtar di pagi buta

Terminal Komtar di pagi buta

Bagian Depan Terminal Bandara Penang

Makan Siang penghabisan di KL Sentral

Makan Siang penghabisan di KL Sentral

 
19 Comments

Posted by on July 3, 2013 in Malaysia

 

Solo-Trip to Kuala Lumpur and Penang (Part 1)

Akhir Maret 2012 ini aku traveling ke Kuala Lumpur sama Penang sendirian. Seperti biasa, aku jadi korban promo AirAsia. Aku beli tiketnya awal tahun 2011. Tiket yang tadinya untuk 8 orang tapi pada kenyataannya pas hari H batal berangkat semua kecuali aku. Yah gara-gara dapet tiket Jakarta РKL PP seharga 95rb rupiah per orang dan tiket KL РPenang PP seharga 31.2 ringgit (93600 rupiah, dengan kurs 1 RM = 3000 IDR), jadi mereka pikir batal juga nggak masalah, murah ini. Mereka nggak mikir betapa besar usaha dan susahnya untuk dapat tiket ini. Mungkin nggak ngerti juga mereka karena aku yang susah payah booking tiket ini. Ya udahlah siapa takut pergi traveling sendiri! Aku malah bebas mau ngapain dan kemana, nggak perlu mikirin orang lain.

Beberapa hari sebelum tanggal keberangkatan, segala persiapan aku lakuin, terutama booking penginapan di Penang dan nyusun itinerary. Untung di KL ada temen kuliah dulu yang tinggal di sana, jadi nggak perlu sewa penginapan di KL. Penginapan di Penang aku booking TuneHotel-nya AirAsia seharga 127.6 RM (sekitar 382800 IDR) untuk 2 malam. Total travelingku 5 hari, 2 hari full aku di KL (hari pertama dan ke-2), hari ke-3 pagi-pagi berangkat ke Penang, di Penang 2 malam (hari ke-3 dan ke-4), hari ke-5 pagi-pagi balik
ke KL dan sorenya balik ke Jakarta.

Untuk sim card HP aku beli kartu Tune Talk yang dijual di terminal kedatangan Bandara LCCT. Aku pilih ini karena sepertinya memang yang paling murah untuk paket BB-nya. Kios penjualan TuneTalk ada di terminal kedatangan, setelah lewat gate imigrasi trus turun lewat eskalator. Di situ juga banyak kios-kios yang menjual sim card dari provider lain.

Dalam 2 hari di KL, cukup banyak tempat yang bisa aku kunjungi, antara lain:

1. Genting Highland

Genting Highland adalah sebuah resort di sebuah puncak dari Perbukitan Titiwangsa, jaraknya tak jauh dari Kuala Lumpur, sekitar 1 jam berkendara. Bangunan utamanya terdiri dari semacam mall, hotel dan taman bermain. Di dalam mall terdapat beberapa casino. Hanya di tempat inilah judi dilegalkan oleh Pemerintah Malaysia, hanya saja tidak semua orang bisa masuk ke casino-casino tersebut, cuma turis dari luar Malaysia atau penduduk asli Malaysia yang non-Muslim yang boleh masuk.

Untuk bisa ke Genting Highland ini kita bisa naik bus dari KL Sentral. Loket pembelian tiket ada di dekat pemberhentian bus KL Sentral, dekat dengan pemberhentian bus-bus bandara seperti Skybus dan Aerobus. Harganya 10.3 RM untuk sekali jalan (termasuk tiket bus KL Sentral – Skyway Lower Station dan tiket skyway ke Genting Highland Resort di atas). Sebenernya ada beberapa tempat lain yang menjadi pemberangkatan dari bus ini. Informasinya bisa dilihat di website resminya berikut.

Perjalanan dari KL Sentral sampai Skyway Lower Station sekitar 1 jam. Sampai di Lower Station, dari tempat pemberhentian bus, kita naik ke lantai paling atas untuk antri naik gondola skyway. Kalau beli tiket bus-nya nggak terusan sama tiket skyway berarti harus beli tiket skyway dulu di konter tiket. Perjalanan naik gondola ini sekitar 15 menit sampai ke kompleks Genting Highland yang ada di atas. Perjalanan skyway ke atas ini cukup menegangkan terutama bagi orang yang phobia ketinggian, karena jalur kabelnya sangat tinggi dan menanjak terjal dengan sesekali ada jalur yang menurun mengikuti perbukitan yang ada di bawahnya. Stasiun skyway yang ada di atas berada di gedung yang merupakan bagian dari shopping center atau mall-nya Genting. Begitu turun dari gondola kita jalan menyusuri koridor-koridor mall mengikuti petunjuk sesuai tempat yang mau kita tuju.

Sebenernya aku bela-belain ke Genting Highland lagi (meskipun pernah ke sini juga tahun 2009) karena pengen naik flying coaster-nya. Jadilah aku cari-cari petunjuk untuk menuju ke theme park (taman bermain) yang indoor. Karena dapat info sebelumnya kalau flying coaster ada di area indoor. Masuk ke theme park indoor ini kita nggak perlu bayar, yang harus bayar itu kalau kita naik wahana-wahana yang ada di sana yang kebanyakan cuma wahana untuk anak kecil. Sedang kalo masuk ke yang outdoor baru deh kita harus bayar macam kalau mau masuk dufan. Pas sampai di sana, muter-muter ke segala penjuru theme park indoor, tapi nggak ketemu-ketemu juga. Akhirnya aku nanya ke mbak-mbak petugas di sana. Ternyata flying coaster tepat ada di luar gedung theme park indoor lewat pintu masuk yang berada di seberang terminal bus. Flying coaster ini sebenernya nggak termasuk theme park indoor maupun outdoor. Dia wahana tersendiri yang punya loket penjualan tiket tersendiri. Dan sialnya pas sampai ke flying coaster ternyata lagi nggak jalan. Mungkin karena gerimis kali, ngga tau dah. Sia-sia dah pengorbananku ke Genting. Tujuan utamanya malah nggak tercapai. Jadilah aku cuma foto-foto doang di sana, habis itu terus pulang ke Kuala Lumpur lagi.

Wahana Flying Coaster di Genting Highland

Wahana Flying Coaster di Genting Highland

Outdoor Theme Park di Genting Highland

Outdoor Theme Park di Genting Highland

Indoor Theme Park di Genting Highland

Indoor Theme Park di Genting Highland

Harga Tiket Terusan di Genting Highland

Harga Tiket Terusan di Genting Highland

Dari Genting, aku balik ke Kuala Lumpur naik bus langsung dari terminal Genting. Penasaran juga pengen liat jalan yang langsung menghubungkan dengan Genting Highland yang ada di atas bukit ini. Soalnya pas ngeliat bukit-bukit yang ada di bawah waktu naik sky train, lumayan curam juga. Ternyata pas lewat naik bus, jalannya mulus dan lebar. Jadi ga ada serem-seremnya lewat jalan ini, meskipun menanjak dan berkelok-kelok. Bus langsung dari Genting ke Kuala Lumpur akan berakhir di Terminal Titiwangsa dan aku turun di terminal ini. Harga tiketnya 5.9 RM.

Terminal Bus Genting Highland

Terminal Bus Genting Highland

Di dalam bus Genting - Kuala Lumpur

Di dalam bus Genting – Kuala Lumpur

2. Batu Cave

Untuk ke Batu Cave dari Kuala Lumpur, dari informasi yang aku dapet, paling mudah adalah naik KTM (Kereta Commuter Line) jurusan Batu Cave dari KL Sentral. Jadi dari Titiwangsa, aku naik monorail ke KL Sentral dulu. Sebenernya bisa juga sih naik LRT “Star Line” ke KL Sentral tapi harus transit di Masjid Jamek Station dulu ganti LRT “Putra Line”. Kalo dari segi harga sih umumnya lebih murah naik LRT dibanding naik monorail. Berhubung waktu itu aku masih agak bingung ada dimana pas turun dari bus, pas liat ada stasiun monorail, langsung aja ke sana, karena yang aku tahu, jalur monorail pasti bisa ke KL Sentral. Stasiun LRT-nya ga keliatan. Aku juga kurang tau, mungkin dari terminal Titiwangsa ini ada bus yang ke Batu Cave. Soalnya ke Batu Cave lebih deket dari Titiwangsa daripada dari KL Sentral.

Sampai stasiun monorail KL Sentral, aku harus jalan kaki dan menyebrang jalan untuk masuk ke kompleks KL Sentral. Stasiun monorail ini memang terpisah sama bangunan kompleks KL Sentral. Agak repot kalau pas bawa koper yang pakai roda.

Begitu sampai di KL Sentral aku langsung beli tiket KTM. Perjalanan dari KL Sentral ke Batu Cave kurang lebih 1 jam atau kurang. Lokasi Batu Cave ini ada di utara kota Kuala Lumpur. Stasiun KTM Batu Cave tidak jauh dari kompleks wisata Batu Cave itu sendiri. Sepertinya stasiun ini dibuat memang sengaja ditujukan untuk wisatawan yang akan mengunjungi Batu Cave dan merupakan ekstensi dari jalur KTM yang tadinya hanya sampai Sentul saja. Harga tiket berangkat cuma 1 RM.

Platform KTM di KL Sentral

Platform KTM di KL Sentral

Interior kereta KTM yang baru (kiri) dan tiket KTM (kanan)

Interior kereta KTM yang baru (kiri) dan tiket KTM (kanan)

Stasiun KTM Batu Caves

Stasiun KTM Batu Caves

Batu Cave merupakan gua karst di perbukitan batugamping (mirip dengan gua-gua di Gunung Kidul, Yogyakarta). Hanya saja gua ini dibangun kuil Hindu di dalamnya untuk beribadah umat Hindu penduduk Malaysia yang umumnya dari keturunan India. Di depan bukit Batu Cave ini ada juga patung berukuran raksasa yang merupakan seorang Dewa dari umat Hindu. Untuk naik ke gua, kita harus menaiki tangga yang cukup tinggi dengan jumlah anak tangga 272 buah. Lumayan kringetan juga pas sampai di atas. Di tengah-tengah perjalanan naik ke atas, di sebelah kiri jalur tangga ada semacam gua kelelawar gitu kalo baca dari tulisan di depan mulut guanya. Waktu itu sedang tutup jadi ga bisa masuk. Di sepanjang tangga juga ada cukup banyak gerombolan monyet yang datang menghampiri pengunjung, terutama yang memang sengaja membawa pisang atau buah-buahan lain untuk diberikan pada mereka. Selesai foto-foto di dalam gua, aku balik turun dan menuju ke stasiun KTM untuk kembali lagi ke KL Sentral mengambil ransel yang aku titipkan sebelum jalan-jalan ke Genting.

tampak depan Batu Caves

tampak depan Batu Caves

Kuil Hindu di dalam Batu Caves

Kuil Hindu di dalam Batu Caves

Kuala Lumpur dari atas Batu Caves

Kuala Lumpur dari atas Batu Caves

gerbang masuk ke Dark Cave

gerbang masuk ke Dark Cave

interior kereta KTM waktu pulang (model lama)

interior kereta KTM waktu pulang (model lama)

Di KL Sentral ini memang ada tempat penitipan barang. Sebenernya di lantai dasar (di belakang tangga) dekat dengan toilet, ada loker yang disewakan untuk menyimpan barang. Tapi berhubung aku ga yakin sama ukuran lokernya muat buat ranselku dan agak ribet juga dengan cara pakai loker ini (meskipun ada penjaganya sih) jadilah aku titip ransel di tempat penitipan tas aja. Tempat penitipan tas ada di lantai 1. Dari lantai dasar naik eskalator atau tangga sekali trus belok ke kanan. Penitipan tasnya ada di sebelah kanan. Tarif penitipannya 3 RM/tas/hari, lebih murah dibanding loker yang kalau ga salah harga paling murahnya 5 RM untuk sekali tutup-buka dan tas segede apapun bisa dititipin di sini. InsyaAllah aman karena nanti dikasih kuitansi untuk dipakai pas ambil tas. Kalau ga salah, tempat penitipan ini ada jam tutupnya. Jadi tanya dulu kalau misal tasnya mau diambil lagi pas udah malem, tutupnya jam berapa. Selesai ambil tas, aku lanjut jalan-jalan ke Pasar Seni, Chinatown (termasuk ke Petaling Street) dan Tanah Merdeka.

3. Pasar Seni

Dari KL Sentral ke Pasar Seni, naik LRT dan turun di stasiun LRT Pasar Seni. Di Pasar Seni dijual berbagai macam pernak-pernik souvenir dan tekstil. Di sini jg ada lapak yg jual coklat dan permen. Lokasinya di lantai dasar, pas di tengah-tengah. Di lapak ini aku beli coklat berryl, coklat yang merupakan produk asli Malaysia. Ada macem-macem rasa. Selain coklat berryl, coklat lainnya yg terkenal adalah coklat tongkat ali. Katanya coklat ini berkhasiat untuk pria dewasa. Bahannya dicampur sama akar apa gitu yang bisa menambah stamina pria. Ada-ada aja. Hahaha.. Selesai keliling pasar seni, aku jalan ke jalan¬†Hang Kasturi¬†di samping kiri pasar yang di situ juga banyak penjual souvenir dan makanan. Dari situ aku cari jalan menuju Petaling Street dengan mengandalkan google map di BB.ūüôā

Pasar Seni

Pasar Seni

Counter penjual coklat di dalam Pasar Seni

Jalan Hang Kasturi di samping Pasar Seni

Jalan Hang Kasturi di samping Pasar Seni

4. Chinatown, Petaling Street

Daerah di antara Pasar Seni hingga Petaling Street itu termasuk daerah Chinatown. Di daerah ini banyak¬†toko-toko yang pemiliknya orang Chinese, selain itu juga banyak hostel-hostel yang murah di area ini. Lokasi Petaling Street tidak terlalu jauh dari Pasar Seni. Begitu sampai di seberang ujung jalan (gerbang)¬†Petaling Street sebelah utara, aku merasa nggak asing dengan wujud dari Petaling Street ini. Ternyata bentuknya mirip banget sama jalan Pasar Baru di Jakarta. Di sepanjang jalan, di kanan kirinya toko yang jual pakaian dan lain-lainnya, trus bagian tengah jalan juga berderet padat lapak-lapak non-permanen di sini aku cuma jalan-jalan sambil liat-liat barang aja, trus beli chestnut bakar, penasaran sama rasanya gara-gara nonton film Thailand “The Billinoaire” (film yang nyritain tentang kisah si pencipta rumput laut kemasan “Tao Kae Noi”). Enak ternyata..ūüôā

gerbang atau pintu masuk Petaling Street sebelah utara

gerbang atau pintu masuk Petaling Street sebelah utara

suasana di Petaling Street

suasana di Petaling Street

chestnut bakar

chestnut bakar

Berhubung perut juga udah laper banget jadi aku mulai cari makan malem. Aku jalan ke arah Jalan Sultan. Di pinggir jalan itu ada banyak yang jualan makan (semacam kaki lima di Indonesia). Akhirnya aku makan di situ. Menunya ada nasi agoreng, mie goreng, bihun goreng, kwetiau goreng, mie instan, roti tawar aneka rasa dan minuman standar (menunya bisa diliat di foto). Aku pesen teh ais alias es teh yang di sini pasti pakai susu. Kalau mau es teh manis yang sama ma di Indonesia mesennya musti bilang teh/tea O ais yang artinya es teh manis tanpa susu.

lapak makanan di pinggir Jalan Sultan

lapak makanan di pinggir Jalan Sultan

Daftar menu warung makan di pinggir Jalan Sultan

Daftar menu lapak makanan di pinggir Jalan Sultan

Makan malam nasi goreng Kampung (kiri atas), Nasi Lemak (kiri bawah), Tea Ais (kanan)

Nasi Goreng Kampung (kiri atas), Nasi Lemak (kiri bawah), Tea Ais (kanan)

5. Tanah Merdeka

Setelah kenyang makan malam, aku lanjut jalan kaki lagi menuju tanah merdeka. Lagi-lagi aku pakai google map di BB. Di sekitar tanah merdeka banyak bangunan-bangunan menarik peninggalan zaman penjajahan Inggris yang sekarang jadi kantor-kantor pemerintahan.

Museum Tekstil

Museum Tekstil

Prasasti di Dataran Merdeka

Prasasti di Dataran Merdeka

Sultan Abdul Samad Building (Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur)

Sultan Abdul Samad Building (Pengadilan Tinggi KL)

6. Masjid Jamek

Dari tanah merdeka aku lanjut jalan ke Masjid Jamek sekalian naik LRT dari stasiun Masjid Jamek. Foto-foto bentar di Masjid Jamek trus aku masuk ke stasiun dan cari platform yang ke arah Stasiun Dang Wangi. Stasiun Masjid Jamek ini merupakan stasiun transit jadi jangan sampai salah jalur dan arah, soalnya aku sempat salah jalur dan arah gara-gara ga merhatiin petunjuk. Setelah ikut dlm LRT di jalur yang salah sampai 2 stasiun dan akhirnya balik lagi ke Masjid Jamek, akhirnya aku nemu jalur yang bener juga dan sampai Stasiun Dang Wangi dengan selamat. Aku janjian ketemu sama temen kuliah dulu di stasiun LRT Dang Wangi. Selama di KL, aku bakal nginap di apartemen dia. Lumayan penginapan gratis. Hehehe. Setelah menunggu beberapa menit, temenku datang dan kami jalan menuju apartemen. Akhirnya sampai juga di apartemennya dan bisa istirahat. Jam udah menunjukkan jam 10 malam. Capek bener seharian kliling KL dan sekitarnya.

Masjid Jamek

Masjid Jamek

7. KLCC dan Petronas Twin Tower

Esok paginya aku berencana ke KLCC, pengen naik ke Petronas Twin Tower & ke bridge-nya. Cari-cari info dari internet tiket naik ke tower musti ngantri sejak pagi. Jadi aku berangkat pagi-pagi dari apartemen temen naik bus. Si temen udah ngasih tau bus nomor berapa yang lewat KLCC. Ternyata jam berangkat kantor di KL jalanannya juga lumayan macet. Sampai di KLCC aku janjian ketemu dulu sama temen orang Malaysia yang kerja di Petronas, kenal pas training bareng di Jakarta. Aku cerita sama dia kalau aku mau naik ke atas tower dan dia nganterin aku ke loket pembelian tiket naik ke tower. Waktu itu antriannya udah lumayan panjang padahal loket belom buka. Setelah nganter, temenku pamit karena dia harus ngantor. Begitu loket dibuka, antrian mulai maju perlahan-lahan tapi pasti. Loketnya lumayan banyak jadi ga butuh waktu lama aku sampai di depan loket. Aku memilih jadwal yang masih ada yang kosong yang cukup buatku cari sarapan dulu. Tiap jadwal jam atau 1 rombongan berisi 10 orang kalau ga salah. Update info jadwal dan jumlah slot kosongnya bisa diliat di layar tv yang dipasang di jalur antrian. Jadi kita tau di jam brapa aja yang masih kosong. Aku pilih yang 1 jam berikutnya pas masih kosong untuk 1 orang. Harga tiketnya 50 RM.

Loket Pembelian Tiket Petronas Tower

Loket Pembelian Tiket Petronas Tower

Sambil nunggu jam masuk/naik, aku cari makan di semacam minimarket ga jauh dari antrian tiket yang di situ ada meja dan kursinya buat yang mau makan di tempat. Di situ dijual berbagai macan menu sarapan yang udah dibungkusin. Harganya nggak terlalu mahal juga. Banyak juga para pegawai-pegawai di gedung petronas yang sarapan di situ.

minimarket di dekat loket pembelian tiket

minimarket di dekat loket pembelian tiket (kiri) dan nasi goreng yang dijual (kanan)

Begitu udah mendekati jam masuk, aku buru-buru ke pintu masuk. Sebelum masuk kita dikasih name tag yang dikalungin pake tali berwarna gitu. Dalam 1 rombongan, warna talinya sama. Dan utk rombongan sebelum dan sesudahnya dikasih warna yang berbeda untuk membedakan rombongan. Di pintu masuk juga disediakan tempat penitipan tas karena kita nggak boleh bawa tas ke atas. Kami di antar oleh seorang pemandu. Sebelum naik lift kami ditunjukin video mengenai petronas twin tower.

tiket dan name tag visitor

tiket dan name tag visitor

Video 3D yang menceritakan pembangunan Petronas Tower sebelum naik lift

Video 3D yang menceritakan pembangunan Petronas Tower sebelum naik lift

Selanjutnya kami naik lift menuju ke lantai di mana ada jembatan yang menghubungkan twin tower. Di situ kami diberi waktu sekitar 15 menit buat foto-foto dan liat pemandangan di luar. Setelah itu kami naik lift lagi menuju ke lantai 86, kalau ga salah 1 lantai di bawah lantai teratas. Di situ ada semacam museum kecil mengenai Petronas Tower. Di situ juga disediakan teleskop untuk ngeliat berbagai obyek di KL secara lebih dekat dari atas tower. Sekitar 15 menit kemudian kami dipanggil sama pemandu kami untuk kembali naik lift turun ke lantai asal. Sebelum pintu kluar seperti biasa pengunjung dilewatkan toko souvenir. Di sini banyak dijual souvenir yang bertemakan twin tower. Aku sih cuma liat-liat doang. Harganya harga mall sih. Hehehe. Habis itu aku langsung kluar.

Sky Bridge Menara Petronas

Sky Bridge Menara Petronas

Taman di belakang Menara Petronas tempat biasa turis mengambil foto berlatarkan Menara Petronas (difoto dari sky bridge)

Taman di belakang Menara Petronas, tempat biasa untuk foto2 berlatarkan Menara Petronas (difoto dari sky bridge)

City View from Sky Bridge

City View from Sky Bridge

Museum lantai 86 Menara Petronas

Museum lantai 86 Menara Petronas

City View dari atas lantai 86

City View dari atas lantai 86

Setelah puas naik ke Menara Petronas, aku menuju ke halaman belakang KLCC buat foto-foto sama si menara kembar ini. Yah menara ini kan udah jadi ikon dari Kuala Lumpur, bahkan Malaysia. Jadi ya foto dengan latar belakang menara ini jadi menu wajib kalau lagi jalan-jalan ke Kuala Lumpur. Pas ke sini tahun 2009 dulu juga udah pernah foto-foto di sini sih, tapi waktu itu malem-malem, agak bermasalah dengan pencahayaan orangnya.

Foto Wajib kalo main ke Kuala Lumpur untuk pertama kalinya

Foto wajib di depan Menara Petronas kalo baru pertama kali ke Kuala Lumpur

8. Putrajaya

Tujuanku selanjutnya setelah dari Menara Petronas adalah ke Putrajaya. Putrajaya adalah kota baru yang dibuat memang khusus sebagai kota pemerintahan. Semua kantor pemerintahan negara Malaysia, istana dan tempat tinggal dinas Perdana Menteri sampai tempat tinggal buat para pegawai pemerintahan ada di Putrajaya. Lokasinya kurang lebih 1 jam dari pusat kota Kuala Lumpur ke arah Sepang atau bandara.

Ada beberapa alternatif angkutan umum yang bisa digunakan untuk menuju ke Putrajaya. Di antaranya adalah kereta ekspres dengan tujuan bandara KLIA dan bus. Berhubung harga tiket kereta mahal, aku lebih memilih naik bus yang harganya hanya sekitar 4 RM dengan nomor bus E1. Bus ini start dari Pasar Seni, tepatnya di jalan Hang Katsuri (jalan di samping kanan gedung yang ada di seberang Pasar Seni). Dari KLCC aku naik LRT Kelana Jaya line dan turun di stasiun Pasar Seni trus jalan kaki menuju jalan Hang Kasturi. Di situ ternyata ada banyak bus dengan nomor yang berbeda-beda. Jadi agak susah juga cari nomor E1. Begitu ketemu aku langsung naik ke dalam bus.

Bus E1 Pasar Seni - Putrajaya

Bus E1 Pasar Seni – Putrajaya

Sekitar kurang dari 1 jam perjalanan aku ketiduran di dalam bus, bangun-bangun udah sampai di kompleks Putrajaya. Aku liat di sisi kanan kiri jalan rumah-rumah dan¬†apartemen khusus untuk pegawai pemerintahan. Bus pun berhenti di terminal bus Putrajaya.¬†Sampai terminal ini ada banyak bus nadiputra yang siap mengantar keliling kompleks Putrajaya. Tinggal tanya aja sama petugas di sana¬†tujuan kita kemana dan harus naik bus yang mana. Tarif bus-nya murah cuma 50 sen¬†(0.5 RM) sekali jalan kalau nggak salah. Karena rencananya aku¬†nggak mau terlalu lama di Putrajaya, aku pilih 1 lokasi aja buat didatengi, yaitu Masjid Putra dan sekitarnya. Aku naik bus nadiputra yang ditunjuk sama si petugas. Di dalam bus¬†cukup sepi, hanya beberapa orang Malaysia dan¬†serombongan keluarga turis Arab yang (maaf) ribut banget. Sabar dahhh…¬†Aku turun di halte bus terdekat dengan kompleks Masjid Putra dan rombongan itu pun¬†ternyata juga mau ke sana. Jalan kaki ke arah¬†Masjid lumayan jauh juga ternyata.¬†Aku¬†foto-foto di sekitar kompleks masjid Putra.¬†Lumayan banyak obyek ikonik yang bisa dijadiin latar buat foto. Dan berhubung udah masuk waktu Dzuhur, sekalian aku¬†ke¬†Masjid Putra buat sholat.¬†Habis itu jalan balik lagi ke halte, nunggu bus nadiputra buat balik lagi ke terminal Putrajaya. Aku naik bus E1 lagi buat balik ke Pasar Seni.

Terminal Putrajaya Sentral

Terminal Putrajaya Sentral

Dataran Putra (kiri) dan Bangunan Perdana Putra sebagai Kantor Perdana Mentri (kanan)

Dataran Putra (kiri) dan Bangunan Perdana Putra sebagai Kantor Perdana Mentri (kanan)

Jembatan Seri Wawasan dan Istana Darul Ehsan

Jembatan Seri Wawasan dan Istana Darul Ehsan

Masjid Putra

Masjid Putra

Perumahan dan Apartemen buat Pegawai Pemerintah

Perumahan dan Apartemen buat Pegawai Pemerintah

Taman di pinggir Danau dekat Souq Putrajaya (sebelah selatan Masjid Putra)

Taman di pinggir Danau dekat Souq Putrajaya (sebelah selatan Masjid Putra)

9. Bukit Bintang

Tujuanku berikutnya setelah dari Putrajaya adalah Bukit Bintang, sebuah daerah yang merupakan pusat perbelanjaan yang menjadi tujuan para turis kalau mau shopping, semacam Orchard Road-nya Kuala Lumpur lah, dan yang pasti nggak cocok buat turis gembel macem aku ini. Hehehe.. Tapi tetep penasaran jadi harus didatengi. Dari Pasar Seni aku naik LRT ke KL Sentral trus transit naik monorail yang harus jalan kaki lagi karena stasiunnya di luar kompleks KL Sentral. Aku turun di stasiun monorail Bukit Bintang. Dan ternyata memang bener mirip sama Orchard Road Singapore. Keliling-keliling bentar sambil foto-foto, aku lanjut jalan kaki ke arah barat menyeberang perempatan besar dan menyusuri jalan Bukit Bintang yang di kanan kirinya didominasi bangunan lama semacam ruko-ruko, beda dengan di sebelah timur yang didominasi sama mall-mall besar. Pas jalan kaki di trotoarnya ternyata banyak mbak-mbak ato mungkin udah ibu-ibu kali ya yang nawarin jasa pijat (malah berasa lagi jalan kaki di jalanan pinggir pantai Patong, hehehe). Dari dandanannya sih pijatnya pasti ++, hahaha. Dari jalan Bukit Bintang aku cari jalan belok ke kanan menuju jalan Alor yang sejajar sama jalan Bukit Bintang. Jalan Alor ini terkenal sebagai food street. Pada waktu itu udah sekitar jam 6-an sore (belum gelap kalau di Kuala Lumpur, baru gelapnya jam 7-an malam), jalan Alor masih belum terlalu ramai. Warung-warung/resto di kiri kanan jalan sedang berbenah, bersiap untuk buka lapak. Meja-meja dan kursi-kursi plastik sedang mulai di susun hingga ke bahu jalan. Beberapa penjual makanan dengan gerobak sudah ada beberapa yang mulai berjualan. Aku cuma jalan aja nyusuri jalan Alor trus balik lagi ke stasiun monorail Bukit Bintang. Selesai sudah jalan-jalanku di Kuala Lumpur. Aku balik lagi ke apartemen temen buat istirahat dan nyiapin buat ke Penang besok paginya karena rencananya aku nggak akan bawa semua barangku. Cerita berlanjut ke Solo-Trip to Kuala Lumpur and Penang (Part 2).

Stasiun Monorail Bukit Bintang

Stasiun Monorail Bukit Bintang

Mall-Mall di Bukit Bintang

Mall-Mall di Bukit Bintang

Jalan Bukit Bintang yang berisi bangunan lama berbentuk ruko

Jalan Bukit Bintang yang berisi bangunan lama berbentuk ruko

Suasana di Jalan Alor (kiri) dan penjual chestnut di Jalan Alor (kanan)

Suasana di Jalan Alor (kiri) dan penjual chestnut di Jalan Alor (kanan)

 
16 Comments

Posted by on June 1, 2013 in Malaysia

 

Vesak Day 2012 at Mendut and Borobudur Temple

May 2012, my office mates (Elsa and Rifki) and I planned to see celebration of Vesak Day 2012 in Borobudur Temple. Vesak Day is a feast day for Buddhist that is celebrated annually on May and full moon. In 2012, Vesak Day is on May 6 (Sunday). In Indonesia, the biggest celebration of Vesak Day takes place at Mendut Temple (in the morning) and Borobudur Temple (in the night). Mendut and Borobudur are Buddhist Temple located in Magelang Regency, Central Java Province, around 40 km from Jogja (Yogyakarta) to the northwest. Borobudur is the biggest temple in Indonesia and one of UNESCO World Heritage Site.

We went to Jogja from Jakarta by an air-con economic class train Friday evening on May 4. The ticket fare are around 150K IDR. We arrived at Jogja Railway Station in the next day (Saturday morning). Jogja is my hometown and my parents still live in Jogja, so Rifki and I can stay on my family’s house. Elsa prefers to stay at her sister’s boarding house who is studying at Gadjah Mada University Yogyakarta. My parents pick us up from station with their car. We drop Elsa off and then we go to my family’s house. Because the Vesak Day Celebration was still the next day, that day we decided to go to the beaches in Gunung Kidul, a regency in the east of Jogja.

The day is coming. We start from Jogja at around 7 am. I drove my father’s car and it needed around 1 hour. We arrived at Mendut at 8 am. I parked my car in the left of street just before Mendut Temple. There were many cars and bus parking on this street. We only walked around 300 m to reach Mendhut Temple. There were a lot of people in Mendut Complex and surrounding area. Many Buddhists prayed in front of the temple. It was open for public so we could go inside the complex and take pictures. The moment of the celebration in 2012 was at 10:34:49 (GMT+7). This moment time was different in every year. We could check the time at WALUBI website here. We could see the schedule too. After that procession, Monks and all Buddhist walked in a procession from Mendut to Borobudur that is around 6 km.

Image

            Vesak Celebration at Mendut Temple

When people started to walk, my friends and I went back to my car and went to Kledung Pass (mountainside between Mt. Sindoro and Mt. Sumbing), road between Temanggung and Wonosobo. We planned to spend a time there while we were waiting for ceremonial at Borobudur Temple in the evening. Mendut/Borobudur – Kledung Pass needed not more than 2 hours driving.

We arrived at Borobudur at 6 pm. Area around Borobudur complex was not too crowded. I parked my car outside the complex. There were many spaces that were prepared and operated by local people being parking lots. I chose a parking that we could go away quickly when the Vesak ceremony ended.

We walked from our parking to the temple. We just followed other people that walked in groups. We thought that our direction was one, the temple. There were many tents when we walked through the temple yard. When we arrived in front of the temple, there were many people who sat down on the floor and face the temple. We took some pictures first and then sat down in back row. We followed all the ceremony with just sitting on the floor. I thought that Buddhists were as many as the visitors/tourists. The most awaited agenda of the ceremony was lantern release into the air. This agenda closed the ceremony.

There were a thousand lanterns would be released. They were distributed by the committee to the visitors too but only the visitors that had a coupon, for free. We didn’t know when the coupons were distributed. Nevertheless, the committee distributed to the visitors who didn’t have a coupon but we had to substitute it with 100K IDR for donation. It was OK! Finally, we had 1 lantern to be release!

We disclosed and prepared¬†our lantern. It was ready to be burnt and released into the air. We waited command from the master of ceremony when we released the lantern so they would fly at the same time. Nevertheless, not all people knew how to turn on and operate the lantern so they didn’t fly at the same time. I had operated lantern before so I could operate it smoothly. For some people, these lanterns are a form of prayer from human that is sent to God. People wish their prayers and hopes will be delivered to God and God will grant their prayers and hopes.

Finally, lanterns flied into the night sky. Damn, it was a really beautiful scene!!!

Image

             Vesak Night Ceremony at Borobudur Temple

The reasons why we must attend Vesak Day Ceremony in Borobudur Temple:

  1. Borobudur Temple is one of the biggest Buddha temple in the world and one of UNESCO World Heritage Site.
  2. I think the best view of Borobudur Temple is at Vesak Day.
  3. I think Vesak Ceremony in Borobudur is one of the biggest Vesak Ceremony in the world.
  4. The scene of the ceremony is so awesome.

Attention!

Even though tourists can go into the location of the ceremony and it is for free, tourists have to respect serenity of the ceremony and buddhists who are praying. Please behave and keep quiet. We hope that chaos which happened at Vesak Day Ceremony 2013 won’t recur and the next Vesak Day Ceremony will run serenely and peacefully.

 

Thanks to Rifki for the nice photos ^^

 
Leave a comment

Posted by on May 24, 2013 in Indonesia

 

Hal yang Masih Terkenang dari Traveling ke Saigon (Ho Chi Minh City)

Sebenernya cerita ini udah cukup lama berlalu. Oktober tahun 2009, Ho Chi Minh City (HCMC) atau yang dikenal dengan nama Saigon menjadi kota terakhir yang kami bertujuh kunjungi setelah 7 hari berkeliling ke Kuala Lumpur, Phuket, Bangkok dan Pattaya. Sebenernya sih dari Jakarta kami cuma berlima, tapi ada 2 teman yang nyusul pas kami udah di Bangkok. Sebenernya yang paling berkesan dengan kota ini justru malah cerita yang kurang mengenakkan dibanding cerita seru yang menyenangkan. Tapi itu malah jadi warna lain dari pengalaman ber-traveling yang juga bisa dijadikan pelajaran berharga.Kami berangkat ke HCMC naik AirAsia dari Bangkok malam hari. Sampai di Bandara HCMC, kami langsung nuker duit USD yang kami bawa dari Indonesia jadi mata uang Vietnam Dong (VND). Nilai tukarnya 1 USD sekitar 18.000 VND. Akhirnya nemu mata uang yang lebih kecil nilainya dibanding Rupiah. Hehehe. Meskipun Vietnam punya mata uang sendiri tapi di sini berlaku 2 mata uang untuk transaksi, jadi bisa bayar pakai USD atau VND.Selesai tukar duit kami keluar terminal kedatangan, tapi di luar sepi dan kami bingung mau naik apa ke kota. Akhirnya kami balik ke dalam dan nyewa mobil dari car rent counter yang ada di dalam. Harga sewanya 300.000 VND.

Lumayanlah dibagi bertujuh. Dari hasil browsing kami, kami berencana akan menginap di¬†jalan Pham Ngu Lao yang merupakan daerah backpacker di HCMC. Pas sampai Pham Ngu Lao malah gerimis, ditambah belum tau mau nginep dimana. Pas kami¬†turun dari mobil, kami dihampiri sama ibu-ibu tua yang bawa payung. Dia nawarin penginapan murah dan nyuruh kami untuk lihat dulu. Berhubung kami belum ada tujuan, jadi ya ngikut aja. Kami dibawa masuk ke dalam salah satu gang di Pham Ngu Lao sampai akhirnya masuk ke rumah bertingkat di dalam gang. Ruangan depan yang dijadikan “lobby” cukup luas untuk ukuran rumah. Tempatnya juga bersih. Di situ ada 2 PC lengkap dengan monitornya yang merupakan salah satu fasilitasnya, bisa untuk dipakai¬†tamu yang menginap¬†secara gratis.

Kami bertemu dengan si pemilik penginapan dan dia kasih harga per orang 5 USD/malam. Kami diantar ke atas untuk liat kamarnya. Lumayan juga kamarnya, bersih, ber-AC dan ada kamar mandi dalamnya, lengkap dengan air panas. Worth it bangetlah untuk harga 5 USD. Akhirnya kami sewa 2 kamar, 1 kamar untuk bertiga dan 1 kamar lagi untuk berempat. Oya, ternyata ibu-ibu yang nawarin tadi cuma tukang yang nawar-nawarin dan dia dapat upah kalau berhasil bawa tamu. Hebat juga si pemilik penginapan ini memanfaatkan rumahnya yang berada di area strategis dan bangun rumahnya yang sebenernya space-nya ga terlalu luas menjadi bertingkat-tingkat dan dibuat kamar-kamar untuk disewakan.

Pham Ngu Lao di siang hari

Pham Ngu Lao di siang hari

kamar seharga 5 USD/orang/malam lengkap dengan AC, TV, kamar mandi dalam

kamar seharga 5 USD/orang/malam lengkap dengan AC, TV, kamar mandi dalam

kamar mandi dalam di kamar tempat kami menginap

kamar mandi dalam di kamar tempat kami menginap

Berhubung hari itu udah cukup larut malam, kami memutuskan untuk keluar cari makan di restoran KFC terdekat aja. Kami tanya-tanya ke orang buat nemuin si KFC ini. Harga paket KFC di Vietnam nggak terlalu mahal, sekali makan paling cuma keluar duit sekitar 40.000 Р60.000 VND.  Selesai makan, kami langsung balik lagi ke penginapan dan tidur.Besok paginya kami berangkat jalan-jalan keluar. Rencananya kami mau keliling kota seharian, mengunjungi tempat-tempat menarik untuk dikunjungi seperti museum-museum perang, bangunan-bangunan unik peninggalan penjajah dan Ben Tanh Market buat belanja oleh-oleh. Tujuan pertama kami adalah Remnant War Museum. Kami jalan kaki ke sana. Di tengah jalan kami selalu berhenti di spot yang menarik buat foto-foto. Kami banyak foto-foto pakai kamera SLR yang dibawa sama 1 temanku. Selama berjalan kaki kamera ini selalu ditenteng tangan di depan perut temanku dan talinya juga cuma dicangklongin sekali aja di lengannya, tanpa dibelitkan berulang-ulang. Kesialan kami datang pas kami menyebrang jalan di zebra cross perempatan jalan. Saat kami menyeberang, tiba-tiba ada sebuah motor yang melaju kencang dari arah kanan lewat depan 2 temanku yang jalan paling belakang (termasuk yang bawa kamera) dan org yang ngebonceng motor itu pun dengan cepat menjambret kamera DSLR yang dibawa temanku. Temanku cuma bisa bengong, malah temanku yg jalan di samping dia yang teriak trus coba ngejar. Pas itulah kami yang udah jalan di depan jadi nengok ke belakang dan ngeliat temanku lari. Udah jelaslah nggak akan terkejar, lari lawan motor mana bisa terkejar. Waktu ngeliat ke si penjambret, dia ngliat ke kami sambil tersenyum puas. Grrrrr.. Bisa-bisanya mereka ngebut naik motor melawan arus di jalan yang seharusnya 1 arah. Sepertinya mereka memang udah ngincar sejak kami jalan kaki dan foto-foto di jalan. Mereka mengikuti kami terus sampai kami berada di lokasi yang pas menurut mereka menjalankan aksinya.

jalanan di kota Saigon yang cukup ruwet

jalanan di kota Saigon yang cukup ruwet

Sial bener dah, baru mulai jalan di Saigon udah dapet masalah begini. Kami semua langsung ilfil buat lanjut jalan-jalan. Tapi kami berpikir traveling must go on jadi kami putuskan buat menenangkan diri dulu dengan nyari tempat makan dan nemu sebuah resto fastfood. Habis makan siang itu, jadi agak mendinganlah kondisi kami. Kami pun memutuskan buat ke Reunification Palace, sebuah istana yang menjadi simbol penyatuan Vietnam Selatan dan Utara. Waktu itu, harga tiket masuknya tergolong murah, cuma 15.000 VND atau sekitar 8.000 IDR. Di dalam istana ini mirip seperti museum, banyak terdapat barang-barang peninggalan perang dan ruangan-ruangan bersejarah.

Reunification Palace

Reunification Palace

halaman depan Reunification Palace

halaman depan Reunification Palace

Selesai muterin seisi bangunan istana, kami pun berlanjut ke tempat wisata berikutnya. Pilihan kami jatuh ke War Remnant Museum. Harga tiket masuknya pun sama dengan Reunification Palace, hanya 15.000 VND. Museum ini berisi segala macam benda sisa perang Vietnam. Bangunannya nggak terlalu besar tapi lumayan bikin merinding barang-barang yang dipajang di dalamnya, beda sama Reunification Palace. Di sini banyak dipajang foto-foto kekejaman masa perang Vietnam. Selain itu, di sini juga ada replika penjara jaman perang serta dipajang juga guillotine yang digunakan untuk memenggal kepala tahanan. Meskipun mungkin nggak asli, tapi auranya tetep aja serem.

War Remnant Museum

War Remnant Museum

Guillotine di War Remnant Museum

Guillotine di War Remnant Museum

Setelah bosen dengan segala sesuatu yang berhubungan sama perang-perangan, dari Remnant War Museum kami memilih untuk lanjut ke Ben Tanh Market. Ben Tanh Market ini sangat terkenal di Saigon dan merupakan obeyek wisata yang wajib dikunjungi oleh para turis. Segala macam oleh-oleh khas Vietnam bisa ditemukan di pasar ini. Harganya pun murah-murah. Syal-syal seukuran kerudung panjang yang katanya dari bahan sutera harganya cuma 40.000 VND. Kami muter-muter di pasar ini sampai hari gelap trus cari makan malem lagi di KFC sebelum balik lagi ke penginapan.

Esok harinya, kami memang udah kehilangan semangat buat jalan-jalan lagi, dan hari itu diputuskan buat jalan ke Ben Tanh Market lagi buat menuntaskan hasrat belanja oleh-oleh sekalian ngabisin duit (macam punya sisa banyak duit aja, hahaha). Sorenya kami udah balik lagi ke penginapan buat packing dan¬†siap-siap ke bandara.¬†Dari penginapan ke bandara kami pesen mobil lagi sama¬†travel¬†yang¬†kami pakai pas dari bandara ke Pham Ngu Lao.¬†Malamnya kami terbang balik ke Jakarta. Saat itulah rangkaian trip panjangku di¬†3 negara Asia Tenggara (KL – Phuket – Bangkok – Pattaya – Saigon) berakhir. Untuk itinerary-nya saat itu kami susun sendiri, kami bagi-bagi tugas. Untuk penginapan kami go show, nggak pesen dulu sebelumnya hanya saja kami sudah memilih beberapa alternatif penginapan dan dicatat alamatnya saja, dengan pertimbangan waktu itu bukan pas peak season.¬†Trip ini adalah trip pertamaku ke luar negeri dan merupakan¬†awal yang membuat aku jadi ketagihan suka¬†jalan-jalan berbiaya rendah alias low budget trip¬†yang itinerary-nya secara lengkap disusun sendiri hanya dengan cari info melalui internet.ūüėÄ

 
8 Comments

Posted by on February 20, 2013 in Vietnam