RSS

Phuket Town to Patong on Christmas Time 2011

03 Jul

Malam ke-11 dari Thailand-Cambodia Trip kami, kami habiskan di Phuket Town. Di Phuket Town kami nginap di Sunwest Guesthouse yang ada di Phang Nga Road, Soi 2. Kami booking sebelumnya via hostelworld. Kami pilih Sunwest karna harganya yang murah dan ratingnya yang lumayan. Review tentang hostel ini bisa dilihat di sini. Malamnya kami jalan-jalan di seputaran kota. Kami ke daerah deket Robinson Department Store. Di deket situ ada semacam sentra tempat makan kaki lima. Ada banyak penjual makanan di pinggir jalan. Kebanyakan menunya seafood. Ada juga sate, mie-miean, ayam goreng, dll. Di seberang Robinson juga banyak kios yang jualan souvenir. Karna dah ga ngerti mau kemana lagi, pas lewat di depan lapaknya Swensen, kami langsung belok masuk ke dalem. Duduklah kami dan masing-masing dari kami pesen es krim. Nongkrong lah kami di situ sambil menikmati es krim. Sok-sokan jadi turis tajir. Padahal duit udah mulai menipis. Pikir ntar aja dah kalo kurang duit (jangan ditiru, hehehe). Di perjalanan balik ke hostel, kami mampir foto-foto dulu di Surin Traffic Circle yang ada clock tower-nya di tengah-tengah.

Es krim Swensen pesanan kami😀

Clock Tower di Surin Traffic Circle

Besok paginya kami lanjut ke Patong Beach. Kami jalan kaki ke arah Ranong Road sampai ketemu bus-bus yang ngetem di pinggir jalan berwarna biru putih. Jangan dibayangin bus yang bentuknya bus kayak yang biasa kita temui. Bus umumnya mirip kayak songthaew di Pattaya tapi lebih gede. Bukan dari mobil pick up tapi truck kecil. Karena kami mau ke Patong jadi kami naik bus yang tulisannya ada Patong-nya. Tarifnya sekali jalan 25 Baht per orang.

Bus Truck jurusan Phuket Town – Patong

Perjalanan dari Phuket Town ke Patong kurang lebih setengah jam. Patong adalah salah satu kota pantai di Phuket yang paling ramai dikunjungi turis dan mungkin juga kota pantai terbesar di Phuket. Selain terdapat mall besar, di sini juga ada Hard Rock Cafe Phuket dan juga Bangla Road yang terkenal akan wisata hiburan malamnya. 

jalan menuju Patong (Kota Patong nampak di foto kanan)

Sebelum masuk Kota Patong dari Phuket Town, kita harus melewati bukit yang jalanannya menanjak dan lumayan berkelok tetapi lebar. Kota Patong ada di balik bukit ini. Pas masuk Kota Patong, aku harus coba mengingat-ingat jalanan di sini, karena udah 2 tahun yang lalu aku kesini jadi udah agak lupa, karena aku harus tahu dimana nantinya kami turun di jalan dekat penginapan. Kalau melihat peta sih lokasinya ada di dekat perempatan Rat-U-Tit Road sama Bangla Road jadi kami akan turun di situ, dan untungnya aku masih inget. Kami turun tepat sebelum perempatan itu. Dari perempatan itu, kalau ke kanan masuk Bangla Road, sedang hostel kami lokasinya ada di jalan yang belok ke kiri masuk ke Soi Sansabai. Akhirnya kami menemukan hostelnya, namanya Crown Hostel yang ada di sebelah kiri jalan. Hostelnya berbentuk ruko di mana di bagian bawahnya dipakai untuk restoran sedang lantai 2 dipakai untuk resepsionis sekaligus tempat tinggal si pemilik, dan lantai 3 dst dipakai untuk kamar-kamar yang disewakan. Nampak depan ruko ini sempit. Untuk naik ke lantai 2 kami harus naik tangga besi di luar yang langsung berhubungan dengan jalan. Bangunannya juga bangunan lama yang agak suram. Beruntung si penjaga resepsionis sekaligus pemiliknya ini seorang Chinese yang ramah. Selain itu lokasinya juga sangat dekat dengan Jung Ceylon Mall dan Bangla Road yang terkenal dengan bar-bar nya di sepanjang jalan ini. Tinggal ngesot juga sampai🙂. Untuk harga, foto-foto dan review-nya bisa dilihat di Hostelworld. Kami juga booking hostel ini lewat hostelworld.

Berhubung kami masih kepagian untuk jam check in, jadi kami titip tas dulu di resepsionis dan kami jalan-jalan ke Jung Ceylon sekalian cari makan. Jung Ceylon ini adalah mall terbesar di Patong. Restoran internasional di sini juga cukup lengkap, mulai dari KFC, McD dan Burger King juga ada. Restoran-restoran lainnya dengan nama-nama yang ga ada di Indonesia juga banyak. Dan pastinya harganya standar mall. Dan kami juga akhirnya pilih makan siang di KFC. Masih bisalah makan dengan uang 100 Baht, tergantung sama menu yang dipesan. Habis makan kami jalan ke arah selatan nyusurin Rat-U-Thit Road. Tujuan utamanya mau ke Hard Rock Cafe Store. Si Elsa mau beli kaos Hard Rock titipan temen. Lumayan jauh juga jalan kaki dari Jung Ceylon ke Hard Rock Cafe. Tadinya sih cuma mau nganter Elsa doang, eh ujung-ujungnya semuanya tergoda ikutan beli kaos buat sendiri-sendiri meskipun duit Baht udah sekarat. Salah siapa bisa dibayar pakai kartu kredit. Hehehe. Ternyata si Dini dapat free bros/pin hardrock dan boleh pilih karena dia belanja banyak (kaos dia sendiri plus ngebayari dulu kaos Elsa ma temennya). Waktu itu aku nggak tau kalo ada syarat pembelanjaan minimal, aku ikut milih-milih juga padahal aku cuma beli 1 kaos doang seharga sekitar 1000 Baht. Eh si mbak-mbak kasirnya nawarin untuk membuat notaku dengan tambahan belanjaan Dini tapi sewaktu bayar pakai kartu kredit nge-charge-nya cuma sebesar harga kaosku doang. Trik biar aku juga bisa dapet free pin. Baik bener dah si Mbak-nya. Hehehe. Khawp Khun Krab! Lumayan dapet pin gitar Hard Rock Cafe gratis yang kalau beli harganya 400-an Baht lebih. Nggak afdol rasanya kalau udah sampai di suatu tempat yang ada Hard Rock Cafe-nya kalau nggak foto-foto di depan tulisan Hard Rock. Jadi kami lanjut buat foto-foto di depan cafe. Pas foto-foto di depan, eh kami malah ditawari sama mas-mas yang lagi beres-beres nyiapin cafe-nya yang mau buka buat foto di depan panggung cafe. Elsa ma Dini juga foto bareng mas-mas bartendernya. How lucky we are! Sepertinya kalau mau foto-foto di Hard Rock Cafe enaknya pas menjelang sore, pas orang-orang cafenya lagi siap-siap mau buka.😀

di depan Hard Rock Cafe

nggak minta tapi ditawarin foto di panggung😀

Elsa with the bartender

Dari Hard Rock Cafe kami jalan balik ke hostel untuk check in. Waktu booking aku pilih single room dan kamar mandi luar seharga 350 Baht, sedang Elsa ma Dini double room dan kamar mandi dalam seharga 500 Baht. Kamar kami tak ber-AC, cuma ada kipas aja. Meskipun aku booking kamar single tapi pas aku masuk kamar ternyata isinya twin bed, hanya saja cuma 1 kasur yang dikasih sprei, bantal plus selimut. Tapi kamarnya cukup luas dan ada jendela yang menghadap ke jalan depan. Sedang kamar Dini ma Elsa, meskipun double tapi kamarnya relatif sempit dan tak berjendela. Oke, siang-sore ini kami istirahat tidur dulu.

Jam 5 sore kami keluar jalan-jalan lagi. Kami berjalan ke arah pantai lewat Bangla Road. Saat itu Bangla Road sudah mulai rame. Bar-bar di sepanjang jalan ini sudah bersiap-siap untuk buka. Di pantai juga sudah ramai orang. Berhubung waktu itu pas malam Natal jadinya banyak hiasan-hiasan bertemakan Natal, begitu juga di pantai, ada pohon Natal yang cukup besar. Tadinya kami kesini mau liat sunset, tapi yang ada mataharinya sembunyi di balik awan. Jadi ya foto-foto ma duduk-duduk aja di pinggir pantai.

Patong Beach

Christmas tree at Patong Beach

Setelah langit mulai gelap, kami jalan lagi ke Jung Ceylon buat ngrasain ramainya malam Natal di salah satu pusat keramaian di Patong. Eh pas lewat Bangla Road yang sudah mulai ramai, di pinggir jalan nemu ada yang jualan makanan pakai gerobak dorongan atau semacamnya. Kami juga coba beli sate-satean dan lauk goreng-gorengan, ada ayam, udang, dll. Sekalian beli nasinya buat makan malam. Setelah beli makanan kami balik ke hostel buat makan malam, baru setelah itu cabut lagi ke Jung Ceylon.

beli sate-satean di tukang yang jualan pakai gerobak

Malam Natal di Jung Ceylon cukup meriah terutama dekorasinya. Kami duduk-duduk di taman tengah Jung Ceylon sambil makan es krim Dairy Queen yang jadi jajanan favorit kami selama di Thailand karena harganya yang jauh lebih murah dibanding di Indonesia. Harga di Thailand cuma 35 Baht (sekitar 11000 rupiah) buat yang small cup, sedangkan kalo beli di Indonesia harganya 20rb-an lebih. Kami juga foto-foto bareng Santa.😀

bagian depan Jung Ceylon

taman tengah Jung Ceylon

foto bareng Santa di Jung Ceylon

Sekitar jam 8-an malam, kami lanjut ke Bangla Road. Saat itu jalanan Bangla Road sudah penuh dengan orang. Di kanan kiri jalan berjajar bar-bar yang berlomba-lomba menyuguhkan “atraksi” cewek di depan bar-nya. Ulasan mengenai Bangla Road dan juga foto-fotonya bisa dilihat di postingan berikut Bangla Road

Setelah dari Bangla Road, kami lanjut jalan ke arah utara di sepanjang Rat-U-Thit Road. Kami mau cari toko kaos dan souvenir murah tempat aku dulu beli kaos pas ke Patong tahun 2009 lalu. Soalnya di situ harga kaosnya paling murah dibanding toko-toko lain. Harga kaosnya cuma 100 Baht dan semuanya udah fixed price jadi nggak perlu tawar-tawar dan takut kemahalan beli. Seingatku tokonya ada di kanan jalan kalau dari arah utara. Dulu sih penjaga tokonya kebanyakan waria. Aku ngarepnya pas kami jalan dan lewat tokonya, bisa inget mana tokonya. Pas kami jalan kami melihat ada toko yang ada tulisannya Phuket t-shirt 100 Baht. Tadinya aku nggak berpikir kalau itu toko yang dimaksud karena bentuk tokonya udah berubah. Tapi pas kami terus jalan kok nggak nemu-nemu akhirnya kami balik dan coba masuk ke toko itu dan pas aku liat si pemilik tokonya barulah aku inget kalau memang itu tokonya. Dari perempatan Bangla Road, letak toko ini memang cukup jauh kalau jalan kaki ke arah utara. Tokonya jadi satu dengan bangunan Hotel Azzurro Village (pintu masuk hotel ada di sebelah kanan toko).

toko kaos murah (foto dari google map)

Setelah belanja oleh-oleh kami jalan balik ke arah penginapan lagi sekalian nyari tempat thai massage yang kira-kira bisa dibayar pakai kartu kredit (inget duit tinggal beberapa lembar puluhan Baht doang). Jadilah kami nemu tempat massage yang cukup gede dan tampak eksklusif tapi harga sama aja sama sebelah-sebelahnya. Namanya C&N Massage yang merupakan bagian dari Hotel C&N. Kami masuk dan tanya bisa bayar pakai kartu kredit atau nggak dan beruntunglah kami ternyata bisa. Aku sama Elsa nyobain thai massage seharga 300 Baht sedang Dini cuma foot massage seharga 300 Baht juga kalau nggak salah. Tempat massage Dini ada di depan sedangkan aku sama Elsa dibawa ke belakang lewat jalan di samping hotel dan ternyata di bagian belakangnya ada ruangan panjang yang terdiri dari ruangan-ruangan yang cuma diberi sekat tirai. Tempatnya adem, bersih dan wangi. Namanya juga hotel. Hehehe. Tukang pijitku ibu-ibu tua tapi badannya gede, sedang si Elsa juga ibu-ibu tapi lebih mudaan. Kami pun di suruh masuk ke ruangan masing-masing dan disuruh buka baju. Si ibu pergi entah kemana, mungkin ngambil peralatan pijat.  Berhubung aku baru pertama kali nyoba thai massage, jadi agak bingung sampai sejauh mana lepas bajunya. Hanya berkira-kira, akhirnya aku lepas baju sampai cuma bersisa celana dalem aja. Nggak lama kemudian, si ibu datang dan nyuruh aku tengkurap dan trus masangin selimut setengah badan ke bawah trus si ibu mulai mijit. Enaknya.. Setelah sepuluh hari lebih jalan-jalan dari kota yang satu ke kota yang lainnya, akhirnya bisa dipijit badan yang pegel-pegel ini. Bagian paling mantap dari thai massage adalah bagian pas punggung ditekan dan badan ditarik ke belakang sampai bunyi krekkkk… Sensasinya manteb banget dah. Kayaknya si ibu agak sedikit akrobat dah pas nglakuin ini, soalnya aku ga ngliat ke belakang. Rasanya sih dia nekannya pake kaki cuma posisinya kayak apa yang aku nggak tau.😀 Eniwei, cukup lama juga pijatnya, sekitar 1 jam. Bingung mau kasih tips berapa, berhubung mijatnya berasa, aku kasih aja tips 100 Baht (padahal duit tipis, jadi tinggal sisa buat sarapan, makan siang, makan malam menu biasa besoknya). Badan rasanya jadi enteng lagi. Saatnya balik ke hostel dan tidur nyenyak..

C&N Massage (foto dari google map)

Patong Map (modified from Google Map)

Hari ke-13 yang juga jadi hari terakhir dari trip panjang kami ini kami habiskan seharian di Patong. Paginya kami bangun agak siangan. Semalem tidur kami agak keganggu sama suara musik dari Bangla Road yang terus digeber sampai subuh. Yang pasti semalam Bangla Road rame sampai pagi karena malam Natal. Tinggal di hostel ini memang serba salah. Di satu sisi tempatnya strategis, deket sama Bangla Road dan Jung Ceylon Mall, tapi di sisi lain karena lokasinya yang sangat dekat dengan Bangla Road jadi kalau malam jadi berisik. Kami keluar dari hostel sekitar jam 11. Sekalian kami check out dan nitip tas dulu sebelum kami dijemput sama mobil charteran ke bandara yang sudah kami pesan sebelumnya ke hostel kami. Harga sewanya untuk mobil sedan 600 Baht, jadi patungannya 200 Baht-an.

Dari siang sampai sore kami cuma jalan-jalan aja di seputar Patong. Pertama kami balik lagi ke toko kaos dan souvenir kemaren. Elsa masih ada yang mau dibeli lagi. Habis dari sana kami balik ke Jung Ceylon lagi. Udah males mau kemana-mana lagi. Buat ngabisin waktu kami berencana mau nonton bioskop di Jung Ceylon, tapi ternyata jadwal film yang pengen kami tonton nggak memungkinkan buat kami. Jadilah kami cuma keliling-keliling di dalem mall sampai dah mati gaya. Cari makan trus duduk-duduk di taman tengah sambil makan es krim dairy queen lagi. Sekitar jam 4-an sore kami balik lagi ke penginapan dan nunggu jemputan datang. Jam setengah 5 sore mobil jemputan kami datang dan langsung tancap ke Bandara Phuket. Lamanya perjalanan dari Patong ke bandara sekitar 1 jam.

salah satu dari patung-patung gajah di Jung Ceylon

foto-foto terakhir di Jung Ceylon buat ngabisin waktu sebelum ke Bandara😀

 
Leave a comment

Posted by on July 3, 2012 in Thailand

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: