RSS

The Other Story of Patong in 2009

21 Jul

Oktober tahun 2009, aku berlima sama temen-temen kantor yang kesemuanya cowok nge-trip ke beberapa kota di Asia Tenggara antara lain Kuala Lumpur, Phuket, Bangkok, Pattaya dan Saigon (Ho Chi Minh City/HCMC) dengan total lamanya 9 hari 8 malam: KL 1 malam, Phuket 2 malam, Bangkok 2 malam, Pattaya 1 malam, Saigon 2 malam. Selama di Phuket kami menginap di Patong.

Ada beberapa catatan yang mau aku share tentang Phuket yang belum aku share di catatan Patong-ku sebelumnya antara lain transportasi Bandara Phuket – Patong, penginapan, makanan murah, jalan-jalan ke luar Patong.

Transportasi Bandara Phuket – Patong

Kami tiba di Bandara Phuket masih pagi karena memang flight dari Kuala Lumpur pagi-pagi. Saat itu belum ada direct flight dari Jakarta ke Phuket, jadi terpaksa kami mampir dulu di KL. Di pintu keluar terminal kedatangan Bandara Phuket kami disambut oleh orang-orang yang menawarkan jasa transportasi ke beberapa kota/pantai di Phuket. Ada temenku yang iseng tanya, kalau ke Patong berapa dan ada yang menawarkan 750 Baht. Tapi karena plan kami mau naik bus umum jadi kami tetap jalan terus ke arah kiri setelah pintu keluar. Busnya terlihat parkir di paling ujung bangunan bandara. Begitu kami lihat kondisi bus yang nampak tidak meyakinkan dan mempertimbangkan lama dan ribetnya kalau harus naik bus ke Phuket Town dulu baru nyambung angkutan umum lagi ke Patong dan kami juga belum booking hostel sama sekali, alhasil kami putuskan untuk sewa mobil yang ditawarkan bapak-bapak tadi aja. Masing-masing bayar 250 Baht cukup worth it lah untuk perjalanan kurang lebih 1 jam. Kami berjalan ke parkiran mobil mengikuti si bapak tadi. Kagetlah kami pas liat mobilnya. Busettt.. Mobil sewaan kami adalah toyota fortuner! Saking udiknya kami mau naik fortuner, kami foto-foto di depan mobilnya.😀

mobil fortuner yang kami charter

Temenku yang paling bongsor duduk di depan dekat si bapak sopir, sedang aku sama tiga lainnya duduk di row seat tengah. Seat bagian belakang dilipat dan dijadikan bagasi. Di jalan, kami ngobrol dengan pak sopirnya. Eh ternyata sopir itu adalah si pemilik mobilnya sendiri. Dia beli mobil memang untuk cari uang begini dan itu semua dia lakuin sendiri mulai dari cari penumpang sampai jadi sopirnya. Harga mobil fortuner baru di Thailand memang murah dibandingin di Indonesia. Kalau nggak salah inget harganya sekitar 250 juta rupiah.

Penginapan

Sampai Patong kami malah disambut sama hujan deras, padahal kami harus cari alamat hostel yang kami pilih dari hasil googling. Untunglah kami pilih sewa mobil jadi nggak terlalu repot nyari hostelnya. Sebelum berangkat kami memang sudah googling dulu, buat list sekitar 5 hostel pilihan. Hostel yang kami tuju pertama ini adalah yang ada di urutan pertama dari list kami (itu berarti yang paling oke menurut kami). Nama hostelnya adalah My Thai Guest House. Lokasinya relatif berada di sebelah utara dari pusat keramaian Patong. Berbekal alamat dan print peta lokasi hostel, kami cukup cepat menemukan lokasi hotstelnya yang memang di pinggir jalan Rat-U-Thit. Lokasinya ada di sebelah kanan jalan. Hostelnya berbentuk ruko.

Pemilik My Thai ini adalah seorang bule cowok yang dia kelola sendiri bersama istrinya yang seorang penduduk lokal. Menurut kami saat itu, hostel ini fasilitasnya sudah lengkap dan bersih. Dengan harga per kamar yang double 500 Baht dan yang triple 600 Baht, kamarnya sudah lengkap dengan AC, TV, kamar mandi dalam, air panas, WiFi gratis, jendela menghadap keluar dan kamarnya pun luas. Harga ini tergolong murah karena saat itu memang sedang low season. Beda dengan pas aku ke Patong Desember tahun 2011 yang lagi peak-peaknya. Harganya bisa naik cukup signifikan. Lokasinya juga cukup strategis, dekat kalau mau jalan ke pantai. Menurutku kekurangannya adalah kalau mau ke Bangla Road dan pusat keramaian, jalannya lumayan juga. Tapi itu juga jadi kelebihan sih, karena lokasinya malah tenang karena jauh dari hingar-bingar musik bar. Kalau untuk masalah tangga naik ke kamar sih memang standar hostel memang begitu. Musti naik turun tangga sampai beberapa lantai. Di My Thai ini juga lantai yang kamarnya disewakan mulai dari lantai 3 ke atas.

Review lengkap, foto-foto dan peta penunjuk arahnya bisa dilihat di sini.

Makanan Murah

Kalau mau bener-bener irit, di pinggir jalanan Patong banyak yang jual ayam goreng tepung yang lumayan crunchy. Harganya murah meriah. Waktu itu (tahun 2009), untuk sepotong ayam goreng yang lumayan gede plus sticky rice (nasi ketan) dan sambel kita cuma perlu merogoh kantong 35 Baht atau sekitar 10.500 rupiah. Yang bikin kurang pas di lidah kita ya sticky rice sama sambelnya. Kita nggak terbiasa makan nasi ketan, apalagi nasi ketannya agak-agak keras. Sambelnya juga pasti nggak nendang buat lidah kita. Sambelnya berwarna merah orange mirip saus sambal tapi encer, agak-agak asem khas Thailand dan nggak pedes sama sekali. Waktu itu kami sampai beli saus botolan di 7eleven, tapi tetep aja, meskipun kental layaknya saus tapi nggak ada pedesnya kurang nendang dan rasanya beda sama saus sambal di Indonesia. Mungkin karena bumbu rempah-rempahnya beda. Saus sambal di Indonesia memang yang paling mantep. Makanya kalo pergi ke luar negeri, sebaiknya bawa saus sambal dari Indonesia, paling nggak bawa yang sachet-an aja.

Jalan-Jalan ke Luar Patong

Kalau punya waktu yang cukup lama di Patong, ada pilihan aktivitas yang bisa dilakukan yaitu jalan-jalan ke luar Patong naik motor. Harga sewa motor cuma berkisar antara 150 – 250 Baht per hari dan bisa dipakai berdua (berboncengan). Umumnya motor yang disewakan adalah motor matic. Banyak tempat yang menyewakan motor. Biasanya di depan toko/rukonya ada tulisannya menyewakan motor dalam bahasa Inggris. Waktu itu kami sewa 3 motor untuk berlima di ruko sebelah penginapan kami. Waktu itu rencana kami adalah beach hoping di sepanjang pantai barat Phuket ke arah selatan Patong, antara lain Kata Beach dan Karon Beach serta ke Chalong. Sebelum berangkat kita harus isi bensin dulu. Pom bensin yang kami tau waktu itu cuma di utara Patong sebelum masuk kota kalo dari arah bandara atau Phuket Town. Harga bensin per liternya cukup mahal. Kalau nggak salah hampir sama dengan harga Pertamax di Indonesia.

jalan-jalan naik motor

Keluar Patong ke arah selatan kita harus melewati perbukitan dengan jalan yang berkelok-kelok. Setelah itu jalanan relatif rata. Kata dan Karon Beach sama indahnya dengan Patong, tapi relatif lebih sepi dibanding Patong.

Karon Beach

Kata Beach

Setelah itu kami ke arah Chalong. Sebelum sampai Chalong, kami liat ada patung Buddha berukuran besar di atas bukit. Dan kami pun memutuskan untuk ke sana. Untuk ke sana, dari jalan raya ke Chalong, kita belok kiri. Ada petunjuknya The Big Buddha of Phuket, itu namanya. Jalan menuju ke Big Buddha relatif kecil, menanjak dan cukup berbelok-belok. Sampai-sampai satu motor kami nggak kuat naik kalau dipakai berboncengan. Akhirnya motor yang nggak kuat, cuma dipakai 1 orang aja. Di tengah perjalanan ada juga kandang gajah lengkap dengan gajahnya di pinggir jalan yang memang sengaja untuk tontonan. Ada beberapa gajah di sana. Lega juga pas udah sampai di atas. Sayangnya waktu itu patung Big Buddha nya masih dalam tahap penyelesaian jadi masih ada rangkaian kayu-kayu yang dipakai untuk tukang-tukang berpijak menyelesaikan patung Buddha ini. Dari atas sini kita bisa liat kota Chalong dan juga Teluk Cahlong yang nampak indah dilihat dari atas. Setelah puas di Big Buddha, kami turun menuju Chalong. Tujuan kami adalah Wat Chalong. Selesai keliling dan foto-foto di Wat Chalong, kami kembali lagi ke Patong.

gajah-gajah di pinggir jalan menuju Big Buddha

di depan Big Buddha

patung The Big Buddha of Phuket

patung Buddha di samping patung Big Buddha

lonceng di Big Buddha dengan latar Chaliong Bay

Chalong Bay bisa dilihat dari atas

 

Wat Chalong

bagian dalam Wat Chalong

katanya serpihan tulang Sang Buddha yang disimpan di dalam tabung kaca bulat di bagian puncak Wat Chalong

Sebenernya ada banyak tempat yang bisa kita kunjungi di Phuket kalau kita menyewa motor. Semua tergantung dengan waktu yang kita punya. Kita bisa pilih mana aja tempat yang mau dikunjungi dengan melihat peta wisata Phuket. Salah satunya bisa liat di link map berikut.

 
7 Comments

Posted by on July 21, 2012 in Thailand

 

7 responses to “The Other Story of Patong in 2009

  1. gemabuluk

    July 21, 2012 at 5:03 pm

    wah jln2 terus ya nov.

    asik jg klo fortunernya bs dibawa ke indo😀

    btw itu di karon beach ada patung naga. ada crita / folklorenya ngga? kok keren ketok e.

     
    • Noviar

      July 21, 2012 at 5:55 pm

      hobi, buat ngilangin stres di kantor mulu😉

      iya euy.. gile ya fortuner buat carteran!?

      mustinya sih ada.. tapi ga nanya waktu itu.. dan ga ada yg bs ditanyain jg.. tulisannya pun ga ada…

       
  2. Pattaya Beer Bar Review

    April 29, 2013 at 5:33 pm

    Greetings! Very useful advice within this post! It is the little changes that produce the biggest changes.

    Thanks for sharing!

     
  3. Women Of Pattaya Thailand

    May 1, 2013 at 1:35 pm

    You could certainly see your expertise in the work you write.
    The arena hopes for more passionate writers like you who aren’t afraid to say how they believe. Always follow your heart.

     
  4. gegekrisopras

    June 30, 2016 at 9:51 am

    Halo Noviar salam kenal,
    mau tanya kamu masih ada nomor kontak bapak driver Fortuner-nya gak? Email atau nomor handphone-nya gitu.
    Makasih ya🙂

     
    • Noviar

      June 30, 2016 at 11:10 am

      Maaf udah ga ada. Udah lama banget soalnya^^’
      Dan ga tau juga kan skrg si bapak masih narik ato ga?! hehe

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: