RSS

Hal yang Masih Terkenang dari Traveling ke Saigon (Ho Chi Minh City)

20 Feb

Sebenernya cerita ini udah cukup lama berlalu. Oktober tahun 2009, Ho Chi Minh City (HCMC) atau yang dikenal dengan nama Saigon menjadi kota terakhir yang kami bertujuh kunjungi setelah 7 hari berkeliling ke Kuala Lumpur, Phuket, Bangkok dan Pattaya. Sebenernya sih dari Jakarta kami cuma berlima, tapi ada 2 teman yang nyusul pas kami udah di Bangkok. Sebenernya yang paling berkesan dengan kota ini justru malah cerita yang kurang mengenakkan dibanding cerita seru yang menyenangkan. Tapi itu malah jadi warna lain dari pengalaman ber-traveling yang juga bisa dijadikan pelajaran berharga.Kami berangkat ke HCMC naik AirAsia dari Bangkok malam hari. Sampai di Bandara HCMC, kami langsung nuker duit USD yang kami bawa dari Indonesia jadi mata uang Vietnam Dong (VND). Nilai tukarnya 1 USD sekitar 18.000 VND. Akhirnya nemu mata uang yang lebih kecil nilainya dibanding Rupiah. Hehehe. Meskipun Vietnam punya mata uang sendiri tapi di sini berlaku 2 mata uang untuk transaksi, jadi bisa bayar pakai USD atau VND.Selesai tukar duit kami keluar terminal kedatangan, tapi di luar sepi dan kami bingung mau naik apa ke kota. Akhirnya kami balik ke dalam dan nyewa mobil dari car rent counter yang ada di dalam. Harga sewanya 300.000 VND.

Lumayanlah dibagi bertujuh. Dari hasil browsing kami, kami berencana akan menginap di jalan Pham Ngu Lao yang merupakan daerah backpacker di HCMC. Pas sampai Pham Ngu Lao malah gerimis, ditambah belum tau mau nginep dimana. Pas kami turun dari mobil, kami dihampiri sama ibu-ibu tua yang bawa payung. Dia nawarin penginapan murah dan nyuruh kami untuk lihat dulu. Berhubung kami belum ada tujuan, jadi ya ngikut aja. Kami dibawa masuk ke dalam salah satu gang di Pham Ngu Lao sampai akhirnya masuk ke rumah bertingkat di dalam gang. Ruangan depan yang dijadikan “lobby” cukup luas untuk ukuran rumah. Tempatnya juga bersih. Di situ ada 2 PC lengkap dengan monitornya yang merupakan salah satu fasilitasnya, bisa untuk dipakai tamu yang menginap secara gratis.

Kami bertemu dengan si pemilik penginapan dan dia kasih harga per orang 5 USD/malam. Kami diantar ke atas untuk liat kamarnya. Lumayan juga kamarnya, bersih, ber-AC dan ada kamar mandi dalamnya, lengkap dengan air panas. Worth it bangetlah untuk harga 5 USD. Akhirnya kami sewa 2 kamar, 1 kamar untuk bertiga dan 1 kamar lagi untuk berempat. Oya, ternyata ibu-ibu yang nawarin tadi cuma tukang yang nawar-nawarin dan dia dapat upah kalau berhasil bawa tamu. Hebat juga si pemilik penginapan ini memanfaatkan rumahnya yang berada di area strategis dan bangun rumahnya yang sebenernya space-nya ga terlalu luas menjadi bertingkat-tingkat dan dibuat kamar-kamar untuk disewakan.

Pham Ngu Lao di siang hari

Pham Ngu Lao di siang hari

kamar seharga 5 USD/orang/malam lengkap dengan AC, TV, kamar mandi dalam

kamar seharga 5 USD/orang/malam lengkap dengan AC, TV, kamar mandi dalam

kamar mandi dalam di kamar tempat kami menginap

kamar mandi dalam di kamar tempat kami menginap

Berhubung hari itu udah cukup larut malam, kami memutuskan untuk keluar cari makan di restoran KFC terdekat aja. Kami tanya-tanya ke orang buat nemuin si KFC ini. Harga paket KFC di Vietnam nggak terlalu mahal, sekali makan paling cuma keluar duit sekitar 40.000 – 60.000 VND.  Selesai makan, kami langsung balik lagi ke penginapan dan tidur.Besok paginya kami berangkat jalan-jalan keluar. Rencananya kami mau keliling kota seharian, mengunjungi tempat-tempat menarik untuk dikunjungi seperti museum-museum perang, bangunan-bangunan unik peninggalan penjajah dan Ben Tanh Market buat belanja oleh-oleh. Tujuan pertama kami adalah Remnant War Museum. Kami jalan kaki ke sana. Di tengah jalan kami selalu berhenti di spot yang menarik buat foto-foto. Kami banyak foto-foto pakai kamera SLR yang dibawa sama 1 temanku. Selama berjalan kaki kamera ini selalu ditenteng tangan di depan perut temanku dan talinya juga cuma dicangklongin sekali aja di lengannya, tanpa dibelitkan berulang-ulang. Kesialan kami datang pas kami menyebrang jalan di zebra cross perempatan jalan. Saat kami menyeberang, tiba-tiba ada sebuah motor yang melaju kencang dari arah kanan lewat depan 2 temanku yang jalan paling belakang (termasuk yang bawa kamera) dan org yang ngebonceng motor itu pun dengan cepat menjambret kamera DSLR yang dibawa temanku. Temanku cuma bisa bengong, malah temanku yg jalan di samping dia yang teriak trus coba ngejar. Pas itulah kami yang udah jalan di depan jadi nengok ke belakang dan ngeliat temanku lari. Udah jelaslah nggak akan terkejar, lari lawan motor mana bisa terkejar. Waktu ngeliat ke si penjambret, dia ngliat ke kami sambil tersenyum puas. Grrrrr.. Bisa-bisanya mereka ngebut naik motor melawan arus di jalan yang seharusnya 1 arah. Sepertinya mereka memang udah ngincar sejak kami jalan kaki dan foto-foto di jalan. Mereka mengikuti kami terus sampai kami berada di lokasi yang pas menurut mereka menjalankan aksinya.

jalanan di kota Saigon yang cukup ruwet

jalanan di kota Saigon yang cukup ruwet

Sial bener dah, baru mulai jalan di Saigon udah dapet masalah begini. Kami semua langsung ilfil buat lanjut jalan-jalan. Tapi kami berpikir traveling must go on jadi kami putuskan buat menenangkan diri dulu dengan nyari tempat makan dan nemu sebuah resto fastfood. Habis makan siang itu, jadi agak mendinganlah kondisi kami. Kami pun memutuskan buat ke Reunification Palace, sebuah istana yang menjadi simbol penyatuan Vietnam Selatan dan Utara. Waktu itu, harga tiket masuknya tergolong murah, cuma 15.000 VND atau sekitar 8.000 IDR. Di dalam istana ini mirip seperti museum, banyak terdapat barang-barang peninggalan perang dan ruangan-ruangan bersejarah.

Reunification Palace

Reunification Palace

halaman depan Reunification Palace

halaman depan Reunification Palace

Selesai muterin seisi bangunan istana, kami pun berlanjut ke tempat wisata berikutnya. Pilihan kami jatuh ke War Remnant Museum. Harga tiket masuknya pun sama dengan Reunification Palace, hanya 15.000 VND. Museum ini berisi segala macam benda sisa perang Vietnam. Bangunannya nggak terlalu besar tapi lumayan bikin merinding barang-barang yang dipajang di dalamnya, beda sama Reunification Palace. Di sini banyak dipajang foto-foto kekejaman masa perang Vietnam. Selain itu, di sini juga ada replika penjara jaman perang serta dipajang juga guillotine yang digunakan untuk memenggal kepala tahanan. Meskipun mungkin nggak asli, tapi auranya tetep aja serem.

War Remnant Museum

War Remnant Museum

Guillotine di War Remnant Museum

Guillotine di War Remnant Museum

Setelah bosen dengan segala sesuatu yang berhubungan sama perang-perangan, dari Remnant War Museum kami memilih untuk lanjut ke Ben Tanh Market. Ben Tanh Market ini sangat terkenal di Saigon dan merupakan obeyek wisata yang wajib dikunjungi oleh para turis. Segala macam oleh-oleh khas Vietnam bisa ditemukan di pasar ini. Harganya pun murah-murah. Syal-syal seukuran kerudung panjang yang katanya dari bahan sutera harganya cuma 40.000 VND. Kami muter-muter di pasar ini sampai hari gelap trus cari makan malem lagi di KFC sebelum balik lagi ke penginapan.

Esok harinya, kami memang udah kehilangan semangat buat jalan-jalan lagi, dan hari itu diputuskan buat jalan ke Ben Tanh Market lagi buat menuntaskan hasrat belanja oleh-oleh sekalian ngabisin duit (macam punya sisa banyak duit aja, hahaha). Sorenya kami udah balik lagi ke penginapan buat packing dan siap-siap ke bandara. Dari penginapan ke bandara kami pesen mobil lagi sama travel yang kami pakai pas dari bandara ke Pham Ngu Lao. Malamnya kami terbang balik ke Jakarta. Saat itulah rangkaian trip panjangku di 3 negara Asia Tenggara (KL – Phuket – Bangkok – Pattaya – Saigon) berakhir. Untuk itinerary-nya saat itu kami susun sendiri, kami bagi-bagi tugas. Untuk penginapan kami go show, nggak pesen dulu sebelumnya hanya saja kami sudah memilih beberapa alternatif penginapan dan dicatat alamatnya saja, dengan pertimbangan waktu itu bukan pas peak season. Trip ini adalah trip pertamaku ke luar negeri dan merupakan awal yang membuat aku jadi ketagihan suka jalan-jalan berbiaya rendah alias low budget trip yang itinerary-nya secara lengkap disusun sendiri hanya dengan cari info melalui internet.😀

 
8 Comments

Posted by on February 20, 2013 in Vietnam

 

8 responses to “Hal yang Masih Terkenang dari Traveling ke Saigon (Ho Chi Minh City)

  1. omnduut

    February 20, 2013 at 1:53 pm

    Beneran gak kebayang kalo kamera hilang saat traveling. Soalnya itu senjata andalan untuk merekam jejak di tempat itu. *ikutan geram*

     
    • Noviar

      February 20, 2013 at 1:59 pm

      apalagi kameranya DLSR dan lensanya masih baru banget.. sengaja beli buat trip ini -___-

       
  2. Ryvo

    February 20, 2013 at 2:57 pm

    Harusnya ditulis juga ada hiburan setelah kehilangan dslr, yaitu saat mengetahui hape penjual es kelapa muda disana sama persis dengan hape teman yang gajinya berjuta-juta..😛

     
    • Noviar

      February 20, 2013 at 3:05 pm

      weits.. kejadian yg mana ya itu? gw kok ga inget. pas kita duduk2 di taman depan reunification palace itu yak? hp nok*a jadul kah? *lupa beneran*

       
  3. Dina

    April 25, 2013 at 11:38 pm

    Di vietnam emang harus waspada bgt sama jambret dan pencuri. Waktu gw kesana ada bule yg di jambret. Tas harus di taro di depan badan dijaga pake dua tangan.

     
  4. dennbaguzz

    May 17, 2013 at 1:08 pm

    pengalamannya sangat berharga bang. tapi jangan kapok, travelling tetep lanjut😀

     
    • Noviar

      May 17, 2013 at 1:17 pm

      pastinya.. itu cuma sebagian kecil pengalaman buruk dari sekian banyak pengalaman seru dan menyenangkan dari sebuah aktivitas yg dinamakan “Traveling” ^^

       
      • dennbaguzz

        May 20, 2013 at 12:16 pm

        setuju. hidup ini akan lebih berarti jika sering “travelling”😀

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: