RSS

Solo-Trip to Kuala Lumpur and Penang (Part 1)

01 Jun

Akhir Maret 2012 ini aku traveling ke Kuala Lumpur sama Penang sendirian. Seperti biasa, aku jadi korban promo AirAsia. Aku beli tiketnya awal tahun 2011. Tiket yang tadinya untuk 8 orang tapi pada kenyataannya pas hari H batal berangkat semua kecuali aku. Yah gara-gara dapet tiket Jakarta – KL PP seharga 95rb rupiah per orang dan tiket KL – Penang PP seharga 31.2 ringgit (93600 rupiah, dengan kurs 1 RM = 3000 IDR), jadi mereka pikir batal juga nggak masalah, murah ini. Mereka nggak mikir betapa besar usaha dan susahnya untuk dapat tiket ini. Mungkin nggak ngerti juga mereka karena aku yang susah payah booking tiket ini. Ya udahlah siapa takut pergi traveling sendiri! Aku malah bebas mau ngapain dan kemana, nggak perlu mikirin orang lain.

Beberapa hari sebelum tanggal keberangkatan, segala persiapan aku lakuin, terutama booking penginapan di Penang dan nyusun itinerary. Untung di KL ada temen kuliah dulu yang tinggal di sana, jadi nggak perlu sewa penginapan di KL. Penginapan di Penang aku booking TuneHotel-nya AirAsia seharga 127.6 RM (sekitar 382800 IDR) untuk 2 malam. Total travelingku 5 hari, 2 hari full aku di KL (hari pertama dan ke-2), hari ke-3 pagi-pagi berangkat ke Penang, di Penang 2 malam (hari ke-3 dan ke-4), hari ke-5 pagi-pagi balik
ke KL dan sorenya balik ke Jakarta.

Untuk sim card HP aku beli kartu Tune Talk yang dijual di terminal kedatangan Bandara LCCT. Aku pilih ini karena sepertinya memang yang paling murah untuk paket BB-nya. Kios penjualan TuneTalk ada di terminal kedatangan, setelah lewat gate imigrasi trus turun lewat eskalator. Di situ juga banyak kios-kios yang menjual sim card dari provider lain.

Dalam 2 hari di KL, cukup banyak tempat yang bisa aku kunjungi, antara lain:

1. Genting Highland

Genting Highland adalah sebuah resort di sebuah puncak dari Perbukitan Titiwangsa, jaraknya tak jauh dari Kuala Lumpur, sekitar 1 jam berkendara. Bangunan utamanya terdiri dari semacam mall, hotel dan taman bermain. Di dalam mall terdapat beberapa casino. Hanya di tempat inilah judi dilegalkan oleh Pemerintah Malaysia, hanya saja tidak semua orang bisa masuk ke casino-casino tersebut, cuma turis dari luar Malaysia atau penduduk asli Malaysia yang non-Muslim yang boleh masuk.

Untuk bisa ke Genting Highland ini kita bisa naik bus dari KL Sentral. Loket pembelian tiket ada di dekat pemberhentian bus KL Sentral, dekat dengan pemberhentian bus-bus bandara seperti Skybus dan Aerobus. Harganya 10.3 RM untuk sekali jalan (termasuk tiket bus KL Sentral – Skyway Lower Station dan tiket skyway ke Genting Highland Resort di atas). Sebenernya ada beberapa tempat lain yang menjadi pemberangkatan dari bus ini. Informasinya bisa dilihat di website resminya berikut.

Perjalanan dari KL Sentral sampai Skyway Lower Station sekitar 1 jam. Sampai di Lower Station, dari tempat pemberhentian bus, kita naik ke lantai paling atas untuk antri naik gondola skyway. Kalau beli tiket bus-nya nggak terusan sama tiket skyway berarti harus beli tiket skyway dulu di konter tiket. Perjalanan naik gondola ini sekitar 15 menit sampai ke kompleks Genting Highland yang ada di atas. Perjalanan skyway ke atas ini cukup menegangkan terutama bagi orang yang phobia ketinggian, karena jalur kabelnya sangat tinggi dan menanjak terjal dengan sesekali ada jalur yang menurun mengikuti perbukitan yang ada di bawahnya. Stasiun skyway yang ada di atas berada di gedung yang merupakan bagian dari shopping center atau mall-nya Genting. Begitu turun dari gondola kita jalan menyusuri koridor-koridor mall mengikuti petunjuk sesuai tempat yang mau kita tuju.

Sebenernya aku bela-belain ke Genting Highland lagi (meskipun pernah ke sini juga tahun 2009) karena pengen naik flying coaster-nya. Jadilah aku cari-cari petunjuk untuk menuju ke theme park (taman bermain) yang indoor. Karena dapat info sebelumnya kalau flying coaster ada di area indoor. Masuk ke theme park indoor ini kita nggak perlu bayar, yang harus bayar itu kalau kita naik wahana-wahana yang ada di sana yang kebanyakan cuma wahana untuk anak kecil. Sedang kalo masuk ke yang outdoor baru deh kita harus bayar macam kalau mau masuk dufan. Pas sampai di sana, muter-muter ke segala penjuru theme park indoor, tapi nggak ketemu-ketemu juga. Akhirnya aku nanya ke mbak-mbak petugas di sana. Ternyata flying coaster tepat ada di luar gedung theme park indoor lewat pintu masuk yang berada di seberang terminal bus. Flying coaster ini sebenernya nggak termasuk theme park indoor maupun outdoor. Dia wahana tersendiri yang punya loket penjualan tiket tersendiri. Dan sialnya pas sampai ke flying coaster ternyata lagi nggak jalan. Mungkin karena gerimis kali, ngga tau dah. Sia-sia dah pengorbananku ke Genting. Tujuan utamanya malah nggak tercapai. Jadilah aku cuma foto-foto doang di sana, habis itu terus pulang ke Kuala Lumpur lagi.

Wahana Flying Coaster di Genting Highland

Wahana Flying Coaster di Genting Highland

Outdoor Theme Park di Genting Highland

Outdoor Theme Park di Genting Highland

Indoor Theme Park di Genting Highland

Indoor Theme Park di Genting Highland

Harga Tiket Terusan di Genting Highland

Harga Tiket Terusan di Genting Highland

Dari Genting, aku balik ke Kuala Lumpur naik bus langsung dari terminal Genting. Penasaran juga pengen liat jalan yang langsung menghubungkan dengan Genting Highland yang ada di atas bukit ini. Soalnya pas ngeliat bukit-bukit yang ada di bawah waktu naik sky train, lumayan curam juga. Ternyata pas lewat naik bus, jalannya mulus dan lebar. Jadi ga ada serem-seremnya lewat jalan ini, meskipun menanjak dan berkelok-kelok. Bus langsung dari Genting ke Kuala Lumpur akan berakhir di Terminal Titiwangsa dan aku turun di terminal ini. Harga tiketnya 5.9 RM.

Terminal Bus Genting Highland

Terminal Bus Genting Highland

Di dalam bus Genting - Kuala Lumpur

Di dalam bus Genting – Kuala Lumpur

2. Batu Cave

Untuk ke Batu Cave dari Kuala Lumpur, dari informasi yang aku dapet, paling mudah adalah naik KTM (Kereta Commuter Line) jurusan Batu Cave dari KL Sentral. Jadi dari Titiwangsa, aku naik monorail ke KL Sentral dulu. Sebenernya bisa juga sih naik LRT “Star Line” ke KL Sentral tapi harus transit di Masjid Jamek Station dulu ganti LRT “Putra Line”. Kalo dari segi harga sih umumnya lebih murah naik LRT dibanding naik monorail. Berhubung waktu itu aku masih agak bingung ada dimana pas turun dari bus, pas liat ada stasiun monorail, langsung aja ke sana, karena yang aku tahu, jalur monorail pasti bisa ke KL Sentral. Stasiun LRT-nya ga keliatan. Aku juga kurang tau, mungkin dari terminal Titiwangsa ini ada bus yang ke Batu Cave. Soalnya ke Batu Cave lebih deket dari Titiwangsa daripada dari KL Sentral.

Sampai stasiun monorail KL Sentral, aku harus jalan kaki dan menyebrang jalan untuk masuk ke kompleks KL Sentral. Stasiun monorail ini memang terpisah sama bangunan kompleks KL Sentral. Agak repot kalau pas bawa koper yang pakai roda.

Begitu sampai di KL Sentral aku langsung beli tiket KTM. Perjalanan dari KL Sentral ke Batu Cave kurang lebih 1 jam atau kurang. Lokasi Batu Cave ini ada di utara kota Kuala Lumpur. Stasiun KTM Batu Cave tidak jauh dari kompleks wisata Batu Cave itu sendiri. Sepertinya stasiun ini dibuat memang sengaja ditujukan untuk wisatawan yang akan mengunjungi Batu Cave dan merupakan ekstensi dari jalur KTM yang tadinya hanya sampai Sentul saja. Harga tiket berangkat cuma 1 RM.

Platform KTM di KL Sentral

Platform KTM di KL Sentral

Interior kereta KTM yang baru (kiri) dan tiket KTM (kanan)

Interior kereta KTM yang baru (kiri) dan tiket KTM (kanan)

Stasiun KTM Batu Caves

Stasiun KTM Batu Caves

Batu Cave merupakan gua karst di perbukitan batugamping (mirip dengan gua-gua di Gunung Kidul, Yogyakarta). Hanya saja gua ini dibangun kuil Hindu di dalamnya untuk beribadah umat Hindu penduduk Malaysia yang umumnya dari keturunan India. Di depan bukit Batu Cave ini ada juga patung berukuran raksasa yang merupakan seorang Dewa dari umat Hindu. Untuk naik ke gua, kita harus menaiki tangga yang cukup tinggi dengan jumlah anak tangga 272 buah. Lumayan kringetan juga pas sampai di atas. Di tengah-tengah perjalanan naik ke atas, di sebelah kiri jalur tangga ada semacam gua kelelawar gitu kalo baca dari tulisan di depan mulut guanya. Waktu itu sedang tutup jadi ga bisa masuk. Di sepanjang tangga juga ada cukup banyak gerombolan monyet yang datang menghampiri pengunjung, terutama yang memang sengaja membawa pisang atau buah-buahan lain untuk diberikan pada mereka. Selesai foto-foto di dalam gua, aku balik turun dan menuju ke stasiun KTM untuk kembali lagi ke KL Sentral mengambil ransel yang aku titipkan sebelum jalan-jalan ke Genting.

tampak depan Batu Caves

tampak depan Batu Caves

Kuil Hindu di dalam Batu Caves

Kuil Hindu di dalam Batu Caves

Kuala Lumpur dari atas Batu Caves

Kuala Lumpur dari atas Batu Caves

gerbang masuk ke Dark Cave

gerbang masuk ke Dark Cave

interior kereta KTM waktu pulang (model lama)

interior kereta KTM waktu pulang (model lama)

Di KL Sentral ini memang ada tempat penitipan barang. Sebenernya di lantai dasar (di belakang tangga) dekat dengan toilet, ada loker yang disewakan untuk menyimpan barang. Tapi berhubung aku ga yakin sama ukuran lokernya muat buat ranselku dan agak ribet juga dengan cara pakai loker ini (meskipun ada penjaganya sih) jadilah aku titip ransel di tempat penitipan tas aja. Tempat penitipan tas ada di lantai 1. Dari lantai dasar naik eskalator atau tangga sekali trus belok ke kanan. Penitipan tasnya ada di sebelah kanan. Tarif penitipannya 3 RM/tas/hari, lebih murah dibanding loker yang kalau ga salah harga paling murahnya 5 RM untuk sekali tutup-buka dan tas segede apapun bisa dititipin di sini. InsyaAllah aman karena nanti dikasih kuitansi untuk dipakai pas ambil tas. Kalau ga salah, tempat penitipan ini ada jam tutupnya. Jadi tanya dulu kalau misal tasnya mau diambil lagi pas udah malem, tutupnya jam berapa. Selesai ambil tas, aku lanjut jalan-jalan ke Pasar Seni, Chinatown (termasuk ke Petaling Street) dan Tanah Merdeka.

3. Pasar Seni

Dari KL Sentral ke Pasar Seni, naik LRT dan turun di stasiun LRT Pasar Seni. Di Pasar Seni dijual berbagai macam pernak-pernik souvenir dan tekstil. Di sini jg ada lapak yg jual coklat dan permen. Lokasinya di lantai dasar, pas di tengah-tengah. Di lapak ini aku beli coklat berryl, coklat yang merupakan produk asli Malaysia. Ada macem-macem rasa. Selain coklat berryl, coklat lainnya yg terkenal adalah coklat tongkat ali. Katanya coklat ini berkhasiat untuk pria dewasa. Bahannya dicampur sama akar apa gitu yang bisa menambah stamina pria. Ada-ada aja. Hahaha.. Selesai keliling pasar seni, aku jalan ke jalan Hang Kasturi di samping kiri pasar yang di situ juga banyak penjual souvenir dan makanan. Dari situ aku cari jalan menuju Petaling Street dengan mengandalkan google map di BB.🙂

Pasar Seni

Pasar Seni

Counter penjual coklat di dalam Pasar Seni

Jalan Hang Kasturi di samping Pasar Seni

Jalan Hang Kasturi di samping Pasar Seni

4. Chinatown, Petaling Street

Daerah di antara Pasar Seni hingga Petaling Street itu termasuk daerah Chinatown. Di daerah ini banyak toko-toko yang pemiliknya orang Chinese, selain itu juga banyak hostel-hostel yang murah di area ini. Lokasi Petaling Street tidak terlalu jauh dari Pasar Seni. Begitu sampai di seberang ujung jalan (gerbang) Petaling Street sebelah utara, aku merasa nggak asing dengan wujud dari Petaling Street ini. Ternyata bentuknya mirip banget sama jalan Pasar Baru di Jakarta. Di sepanjang jalan, di kanan kirinya toko yang jual pakaian dan lain-lainnya, trus bagian tengah jalan juga berderet padat lapak-lapak non-permanen di sini aku cuma jalan-jalan sambil liat-liat barang aja, trus beli chestnut bakar, penasaran sama rasanya gara-gara nonton film Thailand “The Billinoaire” (film yang nyritain tentang kisah si pencipta rumput laut kemasan “Tao Kae Noi”). Enak ternyata..🙂

gerbang atau pintu masuk Petaling Street sebelah utara

gerbang atau pintu masuk Petaling Street sebelah utara

suasana di Petaling Street

suasana di Petaling Street

chestnut bakar

chestnut bakar

Berhubung perut juga udah laper banget jadi aku mulai cari makan malem. Aku jalan ke arah Jalan Sultan. Di pinggir jalan itu ada banyak yang jualan makan (semacam kaki lima di Indonesia). Akhirnya aku makan di situ. Menunya ada nasi agoreng, mie goreng, bihun goreng, kwetiau goreng, mie instan, roti tawar aneka rasa dan minuman standar (menunya bisa diliat di foto). Aku pesen teh ais alias es teh yang di sini pasti pakai susu. Kalau mau es teh manis yang sama ma di Indonesia mesennya musti bilang teh/tea O ais yang artinya es teh manis tanpa susu.

lapak makanan di pinggir Jalan Sultan

lapak makanan di pinggir Jalan Sultan

Daftar menu warung makan di pinggir Jalan Sultan

Daftar menu lapak makanan di pinggir Jalan Sultan

Makan malam nasi goreng Kampung (kiri atas), Nasi Lemak (kiri bawah), Tea Ais (kanan)

Nasi Goreng Kampung (kiri atas), Nasi Lemak (kiri bawah), Tea Ais (kanan)

5. Tanah Merdeka

Setelah kenyang makan malam, aku lanjut jalan kaki lagi menuju tanah merdeka. Lagi-lagi aku pakai google map di BB. Di sekitar tanah merdeka banyak bangunan-bangunan menarik peninggalan zaman penjajahan Inggris yang sekarang jadi kantor-kantor pemerintahan.

Museum Tekstil

Museum Tekstil

Prasasti di Dataran Merdeka

Prasasti di Dataran Merdeka

Sultan Abdul Samad Building (Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur)

Sultan Abdul Samad Building (Pengadilan Tinggi KL)

6. Masjid Jamek

Dari tanah merdeka aku lanjut jalan ke Masjid Jamek sekalian naik LRT dari stasiun Masjid Jamek. Foto-foto bentar di Masjid Jamek trus aku masuk ke stasiun dan cari platform yang ke arah Stasiun Dang Wangi. Stasiun Masjid Jamek ini merupakan stasiun transit jadi jangan sampai salah jalur dan arah, soalnya aku sempat salah jalur dan arah gara-gara ga merhatiin petunjuk. Setelah ikut dlm LRT di jalur yang salah sampai 2 stasiun dan akhirnya balik lagi ke Masjid Jamek, akhirnya aku nemu jalur yang bener juga dan sampai Stasiun Dang Wangi dengan selamat. Aku janjian ketemu sama temen kuliah dulu di stasiun LRT Dang Wangi. Selama di KL, aku bakal nginap di apartemen dia. Lumayan penginapan gratis. Hehehe. Setelah menunggu beberapa menit, temenku datang dan kami jalan menuju apartemen. Akhirnya sampai juga di apartemennya dan bisa istirahat. Jam udah menunjukkan jam 10 malam. Capek bener seharian kliling KL dan sekitarnya.

Masjid Jamek

Masjid Jamek

7. KLCC dan Petronas Twin Tower

Esok paginya aku berencana ke KLCC, pengen naik ke Petronas Twin Tower & ke bridge-nya. Cari-cari info dari internet tiket naik ke tower musti ngantri sejak pagi. Jadi aku berangkat pagi-pagi dari apartemen temen naik bus. Si temen udah ngasih tau bus nomor berapa yang lewat KLCC. Ternyata jam berangkat kantor di KL jalanannya juga lumayan macet. Sampai di KLCC aku janjian ketemu dulu sama temen orang Malaysia yang kerja di Petronas, kenal pas training bareng di Jakarta. Aku cerita sama dia kalau aku mau naik ke atas tower dan dia nganterin aku ke loket pembelian tiket naik ke tower. Waktu itu antriannya udah lumayan panjang padahal loket belom buka. Setelah nganter, temenku pamit karena dia harus ngantor. Begitu loket dibuka, antrian mulai maju perlahan-lahan tapi pasti. Loketnya lumayan banyak jadi ga butuh waktu lama aku sampai di depan loket. Aku memilih jadwal yang masih ada yang kosong yang cukup buatku cari sarapan dulu. Tiap jadwal jam atau 1 rombongan berisi 10 orang kalau ga salah. Update info jadwal dan jumlah slot kosongnya bisa diliat di layar tv yang dipasang di jalur antrian. Jadi kita tau di jam brapa aja yang masih kosong. Aku pilih yang 1 jam berikutnya pas masih kosong untuk 1 orang. Harga tiketnya 50 RM.

Loket Pembelian Tiket Petronas Tower

Loket Pembelian Tiket Petronas Tower

Sambil nunggu jam masuk/naik, aku cari makan di semacam minimarket ga jauh dari antrian tiket yang di situ ada meja dan kursinya buat yang mau makan di tempat. Di situ dijual berbagai macan menu sarapan yang udah dibungkusin. Harganya nggak terlalu mahal juga. Banyak juga para pegawai-pegawai di gedung petronas yang sarapan di situ.

minimarket di dekat loket pembelian tiket

minimarket di dekat loket pembelian tiket (kiri) dan nasi goreng yang dijual (kanan)

Begitu udah mendekati jam masuk, aku buru-buru ke pintu masuk. Sebelum masuk kita dikasih name tag yang dikalungin pake tali berwarna gitu. Dalam 1 rombongan, warna talinya sama. Dan utk rombongan sebelum dan sesudahnya dikasih warna yang berbeda untuk membedakan rombongan. Di pintu masuk juga disediakan tempat penitipan tas karena kita nggak boleh bawa tas ke atas. Kami di antar oleh seorang pemandu. Sebelum naik lift kami ditunjukin video mengenai petronas twin tower.

tiket dan name tag visitor

tiket dan name tag visitor

Video 3D yang menceritakan pembangunan Petronas Tower sebelum naik lift

Video 3D yang menceritakan pembangunan Petronas Tower sebelum naik lift

Selanjutnya kami naik lift menuju ke lantai di mana ada jembatan yang menghubungkan twin tower. Di situ kami diberi waktu sekitar 15 menit buat foto-foto dan liat pemandangan di luar. Setelah itu kami naik lift lagi menuju ke lantai 86, kalau ga salah 1 lantai di bawah lantai teratas. Di situ ada semacam museum kecil mengenai Petronas Tower. Di situ juga disediakan teleskop untuk ngeliat berbagai obyek di KL secara lebih dekat dari atas tower. Sekitar 15 menit kemudian kami dipanggil sama pemandu kami untuk kembali naik lift turun ke lantai asal. Sebelum pintu kluar seperti biasa pengunjung dilewatkan toko souvenir. Di sini banyak dijual souvenir yang bertemakan twin tower. Aku sih cuma liat-liat doang. Harganya harga mall sih. Hehehe. Habis itu aku langsung kluar.

Sky Bridge Menara Petronas

Sky Bridge Menara Petronas

Taman di belakang Menara Petronas tempat biasa turis mengambil foto berlatarkan Menara Petronas (difoto dari sky bridge)

Taman di belakang Menara Petronas, tempat biasa untuk foto2 berlatarkan Menara Petronas (difoto dari sky bridge)

City View from Sky Bridge

City View from Sky Bridge

Museum lantai 86 Menara Petronas

Museum lantai 86 Menara Petronas

City View dari atas lantai 86

City View dari atas lantai 86

Setelah puas naik ke Menara Petronas, aku menuju ke halaman belakang KLCC buat foto-foto sama si menara kembar ini. Yah menara ini kan udah jadi ikon dari Kuala Lumpur, bahkan Malaysia. Jadi ya foto dengan latar belakang menara ini jadi menu wajib kalau lagi jalan-jalan ke Kuala Lumpur. Pas ke sini tahun 2009 dulu juga udah pernah foto-foto di sini sih, tapi waktu itu malem-malem, agak bermasalah dengan pencahayaan orangnya.

Foto Wajib kalo main ke Kuala Lumpur untuk pertama kalinya

Foto wajib di depan Menara Petronas kalo baru pertama kali ke Kuala Lumpur

8. Putrajaya

Tujuanku selanjutnya setelah dari Menara Petronas adalah ke Putrajaya. Putrajaya adalah kota baru yang dibuat memang khusus sebagai kota pemerintahan. Semua kantor pemerintahan negara Malaysia, istana dan tempat tinggal dinas Perdana Menteri sampai tempat tinggal buat para pegawai pemerintahan ada di Putrajaya. Lokasinya kurang lebih 1 jam dari pusat kota Kuala Lumpur ke arah Sepang atau bandara.

Ada beberapa alternatif angkutan umum yang bisa digunakan untuk menuju ke Putrajaya. Di antaranya adalah kereta ekspres dengan tujuan bandara KLIA dan bus. Berhubung harga tiket kereta mahal, aku lebih memilih naik bus yang harganya hanya sekitar 4 RM dengan nomor bus E1. Bus ini start dari Pasar Seni, tepatnya di jalan Hang Katsuri (jalan di samping kanan gedung yang ada di seberang Pasar Seni). Dari KLCC aku naik LRT Kelana Jaya line dan turun di stasiun Pasar Seni trus jalan kaki menuju jalan Hang Kasturi. Di situ ternyata ada banyak bus dengan nomor yang berbeda-beda. Jadi agak susah juga cari nomor E1. Begitu ketemu aku langsung naik ke dalam bus.

Bus E1 Pasar Seni - Putrajaya

Bus E1 Pasar Seni – Putrajaya

Sekitar kurang dari 1 jam perjalanan aku ketiduran di dalam bus, bangun-bangun udah sampai di kompleks Putrajaya. Aku liat di sisi kanan kiri jalan rumah-rumah dan apartemen khusus untuk pegawai pemerintahan. Bus pun berhenti di terminal bus Putrajaya. Sampai terminal ini ada banyak bus nadiputra yang siap mengantar keliling kompleks Putrajaya. Tinggal tanya aja sama petugas di sana tujuan kita kemana dan harus naik bus yang mana. Tarif bus-nya murah cuma 50 sen (0.5 RM) sekali jalan kalau nggak salah. Karena rencananya aku nggak mau terlalu lama di Putrajaya, aku pilih 1 lokasi aja buat didatengi, yaitu Masjid Putra dan sekitarnya. Aku naik bus nadiputra yang ditunjuk sama si petugas. Di dalam bus cukup sepi, hanya beberapa orang Malaysia dan serombongan keluarga turis Arab yang (maaf) ribut banget. Sabar dahhh… Aku turun di halte bus terdekat dengan kompleks Masjid Putra dan rombongan itu pun ternyata juga mau ke sana. Jalan kaki ke arah Masjid lumayan jauh juga ternyata. Aku foto-foto di sekitar kompleks masjid Putra. Lumayan banyak obyek ikonik yang bisa dijadiin latar buat foto. Dan berhubung udah masuk waktu Dzuhur, sekalian aku ke Masjid Putra buat sholat. Habis itu jalan balik lagi ke halte, nunggu bus nadiputra buat balik lagi ke terminal Putrajaya. Aku naik bus E1 lagi buat balik ke Pasar Seni.

Terminal Putrajaya Sentral

Terminal Putrajaya Sentral

Dataran Putra (kiri) dan Bangunan Perdana Putra sebagai Kantor Perdana Mentri (kanan)

Dataran Putra (kiri) dan Bangunan Perdana Putra sebagai Kantor Perdana Mentri (kanan)

Jembatan Seri Wawasan dan Istana Darul Ehsan

Jembatan Seri Wawasan dan Istana Darul Ehsan

Masjid Putra

Masjid Putra

Perumahan dan Apartemen buat Pegawai Pemerintah

Perumahan dan Apartemen buat Pegawai Pemerintah

Taman di pinggir Danau dekat Souq Putrajaya (sebelah selatan Masjid Putra)

Taman di pinggir Danau dekat Souq Putrajaya (sebelah selatan Masjid Putra)

9. Bukit Bintang

Tujuanku berikutnya setelah dari Putrajaya adalah Bukit Bintang, sebuah daerah yang merupakan pusat perbelanjaan yang menjadi tujuan para turis kalau mau shopping, semacam Orchard Road-nya Kuala Lumpur lah, dan yang pasti nggak cocok buat turis gembel macem aku ini. Hehehe.. Tapi tetep penasaran jadi harus didatengi. Dari Pasar Seni aku naik LRT ke KL Sentral trus transit naik monorail yang harus jalan kaki lagi karena stasiunnya di luar kompleks KL Sentral. Aku turun di stasiun monorail Bukit Bintang. Dan ternyata memang bener mirip sama Orchard Road Singapore. Keliling-keliling bentar sambil foto-foto, aku lanjut jalan kaki ke arah barat menyeberang perempatan besar dan menyusuri jalan Bukit Bintang yang di kanan kirinya didominasi bangunan lama semacam ruko-ruko, beda dengan di sebelah timur yang didominasi sama mall-mall besar. Pas jalan kaki di trotoarnya ternyata banyak mbak-mbak ato mungkin udah ibu-ibu kali ya yang nawarin jasa pijat (malah berasa lagi jalan kaki di jalanan pinggir pantai Patong, hehehe). Dari dandanannya sih pijatnya pasti ++, hahaha. Dari jalan Bukit Bintang aku cari jalan belok ke kanan menuju jalan Alor yang sejajar sama jalan Bukit Bintang. Jalan Alor ini terkenal sebagai food street. Pada waktu itu udah sekitar jam 6-an sore (belum gelap kalau di Kuala Lumpur, baru gelapnya jam 7-an malam), jalan Alor masih belum terlalu ramai. Warung-warung/resto di kiri kanan jalan sedang berbenah, bersiap untuk buka lapak. Meja-meja dan kursi-kursi plastik sedang mulai di susun hingga ke bahu jalan. Beberapa penjual makanan dengan gerobak sudah ada beberapa yang mulai berjualan. Aku cuma jalan aja nyusuri jalan Alor trus balik lagi ke stasiun monorail Bukit Bintang. Selesai sudah jalan-jalanku di Kuala Lumpur. Aku balik lagi ke apartemen temen buat istirahat dan nyiapin buat ke Penang besok paginya karena rencananya aku nggak akan bawa semua barangku. Cerita berlanjut ke Solo-Trip to Kuala Lumpur and Penang (Part 2).

Stasiun Monorail Bukit Bintang

Stasiun Monorail Bukit Bintang

Mall-Mall di Bukit Bintang

Mall-Mall di Bukit Bintang

Jalan Bukit Bintang yang berisi bangunan lama berbentuk ruko

Jalan Bukit Bintang yang berisi bangunan lama berbentuk ruko

Suasana di Jalan Alor (kiri) dan penjual chestnut di Jalan Alor (kanan)

Suasana di Jalan Alor (kiri) dan penjual chestnut di Jalan Alor (kanan)

 
16 Comments

Posted by on June 1, 2013 in Malaysia

 

16 responses to “Solo-Trip to Kuala Lumpur and Penang (Part 1)

  1. Leorien

    June 15, 2013 at 11:35 am

    Salam kenal,
    Mau tanya Penangnya gak dibahas ya.? Soalnya mau jalan ke Penang jd mau tau tempat wisata disana apa aja.?
    Makasiy

     
    • Noviar

      June 15, 2013 at 12:09 pm

      Salam kenal juga Leorien.
      Penang-nya masih in-progress. Maklum blogger yg rada2 pemalas, apalagi harus recall ingatan lebih dr 1 thn yg lalu. ;p
      Ditambah aku lagi ga ada waktu yg cukup banyak buat nulis.😦
      Mudah-mudahan sblm 2 mnggu ke depan bisa publish ya..🙂

       
  2. Adi W

    June 19, 2013 at 11:26 am

    Salam kenal mas..salute juga bisa jalan-jalan sendirian ke luar negeri. Selama ini saya selalu mencoba tapi gak pernah keampaian karena teman yang booking tiket barengan selalu jadi pergi. Akhirnya perginya gak pernah sendiri. Tolong diulas yang penang dong karena agustus ini saya mau ke penang. Cuma masih bingung mau ngapain dan kemana…

    Kapan-kapan bisa kita jalan-jalan bareng ke luar negeri kalau gak ada teman…

    salam jalan jalan

     
    • Noviar

      June 19, 2013 at 12:22 pm

      Salam kenal juga.. Penangnya masih on progress.. Mdh2an bs publish seminggu lagi^^’
      Sip..sip.. setahun ini bkl minim jln2 krn lg bnyk kesibukan lain.

      Salam traveling😀

       
  3. Novita Putri

    June 29, 2013 at 4:30 pm

    salam kenal mas.. bulan oktober tahun kemarin saya juga solo trip ke KL tapi cuma 3 hari.. wah kayaknya taman di pinggir danau dekat masjid putra bagus yaa.. sayang banget kemarin gak bisa pose disana…

     
    • Noviar

      June 29, 2013 at 4:55 pm

      Salam kenal jg Novita. Iya bagus.. aku jg cuma jalan di sekitar masjid putra aja, nggak ke tempat lain di Putrajaya.

       
  4. mbafi

    September 25, 2013 at 4:38 pm

    Catatannya sangat bermanfaat, bulan november saya rencana ke KL… terima kasih informasinya…

     
    • Noviar

      September 25, 2013 at 5:11 pm

      sip.. semoga lancar dan menyenangkan perjalanannya ^^

       
  5. Elyant

    February 16, 2014 at 8:53 pm

    Catatan perjalanannya memberikan informasi banget…thanks

     
    • Noviar

      February 16, 2014 at 10:04 pm

      Senang bs membantu🙂

       
  6. prasetio

    March 13, 2014 at 1:16 am

    salam kenal mas….. berapa lama perjalanan dari solo tuk sampai penang? enaknya rutenya mana? saya ada rencana ke penang tuk tengok orang sakit…

     
    • Noviar

      May 22, 2014 at 8:39 am

      maaf baru bales, kemarin2 terlewat pas mau bales.. kalo mau ke Penang dari Solo bisa naik Airasia Solo – Kuala Lumpur trus lanjut Kuala Lumpur – Penang..

       
  7. Vie Lauhrechnztzh

    April 22, 2014 at 8:20 pm

    infonya bermanfaat bingiitt🙂

     
    • Noviar

      April 23, 2014 at 9:55 am

      Siplah kalo begitu.. ^^

       
  8. fenny

    March 26, 2016 at 12:05 pm

    Halo . Mau tny dong . kreta gantung yg si genting bs utk ke penang kaga ? Trus tu KL central adlh pudu raya bukan ?😀

     
    • Noviar

      March 26, 2016 at 5:42 pm

      Ngga bisa, kereta gantung di genting itu cuma menghubungkan stasiun bawah yg ada di Gohtong Jaya ke stasiun Genting Highland di atas. Penang itu jauh dan dia pulau terpisah dr Semenanjung Malaka ( ada jembatannya yg menghubungkan sih)
      KL Sentral beda sama Terminal Pudu Raya. KL Sentral itu pusat angkutan umum dalam kota KL dan sekitarnya, kalo Pudu Raya itu terminal bis antar kota antar negara bagian. Kayaknya ada jg yg sampai ke Singapura.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: