RSS

Solo-Trip to Kuala Lumpur and Penang (Part 2)

03 Jul

Dari Kuala Lumpur, cerita perjalanan Solo-Trip to Kuala Lumpur and Penang (Part 1) ku berlanjut ke Penang. Berhubung pesawatnya pagi jam 7.15, jadilah aku berangkat subuh-subuh dari apartemen temen. Berhubung masih pagi banget, bus umum dan MRT masih belum jalan, akhirnya aku naik taksi ke KL Sentral. Sampai KL Sentral aku langsung menuju ke pool aerobus rute KL Sentral – LCCT. Sampe LCCT sekitar jam 6 dan aku langsung masuk ke ruang tunggu. Untuk sarapan aku beli roti ma minuman di minimarket yang ada di bandara. Terbanglah aku menuju Penang.Penang adalah salah satu negara bagian di Malaysia yang terletak di Barat Laut dari Semenanjung Malaysia. Negara bagian ini terdiri dari 2 bagian, bagian daratan (di Semenanjung Malaysia) yang disebut Seberang Perai dan bagian pulau yang disebut Pulau Pinang dimana ibukotanya George Town berada. Pulau inilah yang menjadi daya tarik wisatawan. Sebagai pulau bekas jajahan Inggris, bangunan-bangunan di pulau ini terutama di kota George Town, sebagian besar merupakan bangunan peninggalan Inggris dan sampai saat ini masih terawat dengan baik. Selain wisata kota dengan peninggalan-peninggalan bangunan bersejarahnya yang sudah menjadi salah satu dari World Herritage Site UNESCO, ada juga wisata pantai yaitu Pantai Batu Ferringhi dan juga yang paling menarik adalah wisata kulinernya.

Setelah sekitar 1 jam perjalanan udara dari Kuala Lumpur akhirnya sampai juga di Penang. Bandara di Penang tidak terlalu besar. Waktu itu bandaranya lagi direnovasi dan sepertinya mau diperbesar. Keluar dari pintu kedatangan aku bingung mau cari loket yang jual kartu rapid Penang yang merupakan kartu prabayar untuk naik Bus Rapid Penang, jadi biar bayar-bayarnya simpel dan bus ini yang bakal jadi transportasi utamaku selama di Penang. Udah cari sana-sini dan nanya petugasnya katanya ga ada yang jual di bandara. Padahal pas googling sebelumnya perasaan ada counter-nya di bandara. Ya sudahlah. Naik aja dulu bus menuju George Town. Aku naik Bus # 401E jurusan George Town via Queensbay Mall. Dari itinerary yang udah aku buat, dari bandara aku mau mampir dulu di Queensbay Mall, bukan untuk nge-mall pastinya (masih tutup juga toko-tokonya jam segitu) tapi buat ngeliat Jembatan Pulau Pinang yang menghubungkan Semenanjung Malaysia dengan Pulau Pinang. Aku jalan ke seberang mall, ke pinggir laut buat foto-foto jembatan.

Queensbay Mall

Queensbay Mall

Jembatan Pulau Pinang

Jembatan Pulau Pinang

Setelah puas foto-foto aku lanjut menuju Komtar (terminal bus pusat kota George Town) naik Bus # 401E juga dari halte tempat aku turun tadi. Untuk tarif bus ini akan bertambah sesuai jarak. Aku juga ga gitu ngerti sama itung-itungannya. Sewaktu naik (lewat pintu depan) kita sebutin tujuan kita ke mana sama pak supirnya trus nanti dia kasih semacam karcis kecil sesuai dengan jarak dan tarif perjalanan kita. Bayarlah sebesar harga yang tercantum di karcis, karena kalo uang kita lebih beberapa sen, kita ga bakal dikasih uang kembalian. Kalo sekali dua kali sih ga masalah, lah kalo berkali-kali kan lumayan, apalagi buat turis kere sepertiku. Jadi itulah kenapa lebih enak pakai kartu prabayar aja dibanding bayar tunai. Ribet bayar-bayar dan nyiapin duitnya.

Sampai Komtar, mulailah aku membuka google map dari BB, ke mana aku musti jalan untuk menuju ke Tune Hotel. Terpaksalah aku booking Tune Hotel karena cari-cari hostel yang punya single room dengan harga yang murah dan dekat dengan pusat kota susah. Sebelum ke hotel, karena masih terlalu dini buat check in, aku mampir dulu ke Chowrasta Market yang nggak jauh di sebelah utara Komtar. Rencananya sih di Pasar Chowrasta mau liat-liat sapa tau ada barang murah yang bisa dibeli buat oleh-oleh seperti magnet kulkas, dll. Tapi pas aku jalan kok nggak nemu. Kebanyakan tokonya jual makanan aja. Atau mungkin aku yang nggak tau dimana tempat yang jual.

Chowrasta Market

Chowrasta Market

Ibu Pejabat Polis Kontinjen Pulau Pinang (kantor Mabes Kepolisian Pulau Pinang) di depan Chowrasta Market

Ibu Pejabat Polis Kontinjen Pulau Pinang (kantor Mabes Kepolisian Pulau Pinang) di depan Chowrasta Market

Dari Chowrasta Market ke Tune Hotel nggak terlalu jauh tapi lumayan capek juga. Sampai hotel karena masih belum waktunya check-in jadilah aku nitip tas dulu. Berhubung budget hotel jadinya sgala sesuatunya ada charge-nya. Nitip tas aja musti bayar. Ya udahlah daripada capek bawa-bawa tas. Dari hotel aku jalan kaki menuju halte CAT (Central Area Transit) Free Shuttle Bus terdekat yaitu Halte Jalan Kedah yang ada di pinggir Jalan Transfer. Bus ini muterin pusat kota George Town dan free alias gratis jadi kalo mau keliling kota yang murah ya naik bus ini aja. Bus-nya pun AC, bersih dan bagus.

Halte CAT Jalan Kedah (Halte No. 11) di tepi Jalan Transfer

Halte CAT Jalan Kedah (Halte No. 11) di tepi Jalan Transfer

Tujuanku adalah Masjid Kapitan Keling dan sekitarnya. Aku naik CAT Bus dari Halte Jalan Kedah (Halte No. 11) ke Halte Kampung Kolam (Halte No. 15). Dari halte ini, jalan sedikit bisa mengunjungi Sri Maha Mariamman Temple dan Masjid Kapitan Keling. Berhubung hari itu pas hari Jum’at, jadilah sekalian sholat Jum’at di Masjid Kapitan Keling. Tapi berhubung pas sampai sana masih jam 11-an, jadinya aku ke Sri Maha Mariamman Temple dulu trus makan siang di warung makan yang ada di samping kiri masjid. Selesai makan pas jamnya sholat. Selesai sholat Jum’at barulah aku foto-foto di depan masjid.

Sri Maha Mariamman Temple

Sri Maha Mariamman Temple

tampak depan Masjid Kapitan Keling dan tempat wudhu yang berbentuk kolam

tampak depan Masjid Kapitan Keling dan tempat wudhu yang berbentuk kolam

Tujuan selanjutnya adalah ke Esplanade dan sekitarnya. Dilihat dari peta sih nggak terlalu jauh kalau jalan kaki jadi ya jalan kaki aja. Perjalanan dari masjid ke City Hall kita bisa liat Goodest of Mercy Temple, foto-foto di depan St. George’s Church, dan bangunan-bangunan bergaya Eropa yang lain.

Goodess of Mercy Temple

Goodess of Mercy Temple

St. George's Church dan gedung Mahkamah Tinggi Pulau Pinang

St. George’s Church dan gedung Mahkamah Tinggi Pulau Pinang

Dari St. George’s Church jalan dikit ke arah utara udah sampai Padang Esplanade. Esplanade ini semacam alun-alun kota, berwujud lapangan berumput yang cukup luas. Di sebelah barat Esplanade ini ada 2 gedung yang cukup menarik untuk foto-foto yaitu gedung Penang City Hall (Gedung Balai Kota) dan Jabatan Perlesenan (kalau bahasa Indonesia-nya Departemen Lisensi yang entah apa tugasnya). Di sebelah utara Esplanade ada yang namanya Dataran Pidato. Dataran Pidato itu semacam pelataran di tepi utara Esplanade yang biasanya digunakan untuk berpidato di Esplanade. Ada syarat-syarat tertentu kalau mau pidato/orasi di sini yang tertulis dengan jelas di papan petunjuk yang telah dipasang.

City Hall (kiri) dan gedung Pejabat Perlesenan (kanan)

City Hall (kiri) dan gedung Pejabat Perlesenan (kanan)

Dataran Pidato

Dataran Pidato

Di sebelah timur Esplanade ada Taman Kota Lama dan di sebelah timurnya Taman Kota Lama terdapat Fort Cornwallis (Kota Cornwallis). Kota ini dikelilingi oleh benteng dan bentuknya seperti bintang dengan 4 sudut. Kota ini dibangun pada tahun 1786 oleh Francis Light dan pasukannya dalam rangka untuk mengambil alih Pulau Pinang. Di sinilah mereka mendarat. Francis Light bisa disebut sebagai Bapak Pendiri Pulau Pinang karena dia yang membangun kota pertama kali di pulau ini. Di dalam kota ini ada beberapa bangunan yang masih kokoh berdiri antara lain kapel atau gereja kecil dan gudang bahan peledak atau bubuk senjata api. Anehnya kenapa pintu di kapel kok rendah banget ya? Apakah badan orang-orang saat itu nggak terlalu tinggi atau ada maksud lain? Entahlah. Selain itu ada bangunan lain yang dijadikan tempat untuk display yang menceritakan sejarah Pulau Pinang mulai dari latar belakang Francis Light, Francis Light mendarat di Pulau Pinang dan mulai membangun kota, hingga serangan Jepang pada PD II. Di sudut sebelah barat laut ada juga meriam yang diberi nama Meriam Seri Rambai.

dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah: bagian luar Fort Cornwallis, gerbang masuk Fort Cornwallis, tiket masuk Fort Cornwallis, patung Francis Light, gereja kecil, gudang bahan peledak, Meriam Seri Rambai

dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah: bagian luar Fort Cornwallis, gerbang masuk Fort Cornwallis, tiket masuk Fort Cornwallis, patung Francis Light, gereja kecil, gudang bahan peledak, Meriam Seri Rambai

Keluar dari Fort Cornwallis, tujuanku selanjutnya adalah ke arah halte CAT no. 1 Pangkalan Weld (Weld Quay), aku pengen mengunjungi Church Street Pier yang ada tak jauh dari halte tersebut. Dari Fort Cornwallis aku jalan kaki ke Church Street Pier, pertama menyusuri Lebuh Light kemudian ketemu dengan sebuah menara jam yang berada di tengah-tengah persimpangan jalan di ujung Lebuh Light. Nama menara ini adalah Queen Victoria Memorial Clocktower, sebuah menara jam setinggi 60 ft yang dibangun untuk memperingati Quuen Victoria Diamond Jubilee dan 60 ft diartikan sebagai 60 tahun masa pemerintahan Ratu Victoria (Ratu Inggris). Dari menara jam aku jalan lurus ke arah Jalan Pengkalan Weld kemudian jalan berbelok ke kanan. Di belokan Jalan Pengkalan Weld itu ada juga bangunan yang menarik yaitu Swettenham Pier, sebuah pelabuhan yang dibangun pada tahun 1903 dan hingga sekarang masih difungsikan sebagai pelabuhan kapal pesiar. Tak jauh dari Swettenham Pier, di sebelah kiri jalan ketemu sama halte Pengkalan Weld. Aku masih jalan lurus lagi untuk sampai ke Church Street Pier. Church Street Pier adalah sebuah pelabuhan yang dibangun pada tahun 1897 dan saat ini sudah tidak difungsikan lagi. Bangunannya cukup unik sebagai sebuah pelabuhan.

Queen Victoria Memorial Clocktower

Queen Victoria Memorial Clocktower

Swettenham Pier dengan latar belakang kapal pesiar yang sedang berlabuh

Swettenham Pier dengan latar belakang kapal pesiar yang sedang berlabuh

Church Street Pier (berhubung aku nggak dapet foto yg bagus jadi aku ambil dari sini http://www.asiaexplorers.com/malaysia/penang/churchstpier/01.jpg)

Church Street Pier
(karena aku ga dapet foto yg bagus jadi aku ambil dari sini http://www.asiaexplorers.com/malaysia/penang/churchstpier/01.jpg)

Dari Church Street Pier, tujuan selanjutnya adalah ke Pinang Peranakan Mansion. Berhubung tanggung kalau mau naik CAT Bus, aku pilih jalan kaki lagi ke Pinang Peranakan Mansion. Bangunan ini ada di Church Street (Lebuh Gereja) jadi dari pier aku jalan lurus aja menjauhi pier. Lumayan juga sih kalau jalan kaki, tapi sekalian bisa liat-liat bangunan-bangunan tua di sepanjang jalan ini. Pinang Peranakan Mansion ada di sebelah kiri jalan setelah melewati 1 perempatan besar. Pinang Peranakan Mansion adalah rumah megah yang diperbaharui sebagai museum untuk menunjukkan kehadiran pemukiman Cina di Penang pada masa lalu. Rumah megah ini dulunya adalah kediaman sekaligus kantor Kapten Cina Chung Keng Kwee. Dia adalah penambang timah Hakka pada abad ke-19 dan pemimpin perkumpulan rahasia Hai San. Pinang Peranakan Mansion berisi lebih dari 1.000 koleksi barang antik. Mansion yang dibangun pada tahun 1890-an ini unik karena menggabungkan berbagai arsitektur Cina dan menggabungkan panel ukiran kayu Cina dengan ubin lantai dari Inggris dan besi-besi dari Skotlandia. Jika kita masuk ke dalamnya kita tidak boleh mengambil foto sama sekali. Berhubung untuk masuk harus bayar 10 RM dan aku harus menghemat pengeluaran, jadilah aku cuma foto-foto di depannya doang sambil ngintip-ngintip yang bisa diliat dari pintu masuk. Kasian banget ya. Hehehe.

Pinang Peranakan Mansion

Pinang Peranakan Mansion

Selesai foto-foto di (depan) Pinang Peranakan Mansion, aku lanjut jalan lagi dan kali ini aku mau naik CAT Bus jadi harus cari halte. Kalau liat dari peta sih halte terdekat itu halte no. 3 Little India, tapi karena pengen liat-liat bangunan-bangunan tua yang lain jadi aku lewat jalan yang lain dan langsung menuju ke halte no. 5 Bank Negara. Dari halte no. 5 aku naik CAT Bus dan turun di halte no. 7 Lebuh Muntri, halte terdekat dengan Cheong Fatt Tze Mansion yang jadi tujuanku selanjutnya. Lumayan juga jalan kaki dari halte ke sana. Eh pas sampai sana, Cheong Fatt Tze Mansion tutup. Mansion ini dibangun pada akhir abad ke-19 oleh Cheong Fatt Tse yang diharapkan cukup untuk rumah tinggal keluarga 9 generasi berikutnya. Tanahnya dipilih berdasarkan hasil pemilihan ahli feng shui. Dia memutuskan untuk membangun rumah tradisional Cina meskipun orang-orang peranakan Cina yang lain di sekitar tempat tersebut saat itu membangun rumah dengan gaya Anglo-India. Kamar-kamar di mansion ini juga disewakan untuk umum. Untuk keterangan lebih lanjut bisa dilihat di website resminya berikut. Di sebelah kiri Cheong Fatt Tze Mansion ini juga ada sebuah toko coklat namanya The Chocolate Boutique. Aku sih tertarik pengen masuk sebenernya. Tapi lagi-lagi mengingat duit di kantong jadilah aku mengurungkan niat buat masuk. Lain kali kalau kesana lagi, aku harus bisa masuk ke sana. Hehehe.

Cheong Fatt Tze Mansion

Cheong Fatt Tze Mansion

The Chocolate Boutique di samping Cheong Fatt Tze Mansion

The Chocolate Boutique di samping Cheong Fatt Tze Mansion

Berhubung hari udah sore dan aku juga udah lumayan capek jadi dari Cheong Fatt Tze Mansion aku naik CAT Bus lagi, balik ke halte no. 11 Jalan Kedah dan jalan balik ke hotel. Sampe hotel aku ambil tas di penitipan dan masuk ke kamar. Hufff… akhirnya bisa rebahan juga di kasur yang empuk, meskipun pendinginnya cuma pakai kipas angin gede tepat di atas kasur. Sejak sampai di Penang, perutku rasanya udah agak-agak nggak enak dan sekarang mulai agak pusing. Tampaknya aku diare gara-gara ada salah makan pas di KL. Jadi bikin nggak enak aja buat jalan-jalan. Tidur sore dulu lah aku sebelum ntar malem beredar lagi, berharap ntar bangun tidur udah baikan sakitnya.

Bangun tidur sekitar jam 7-an sore, mandi, sholat, trus siap-siap jalan lagi meskipun badan masih rada-rada nggak enak. Aku jalan ke seberang hotel dan ke arah Komtar, ada halte bus di situ. Aku naik Bus Rapid Penang no. 101 ke arah Gurney Drive. Tujuanku adalah Gurney Drive Hawker Center sekalian mau cari makan malam. Sebenernya bus ini bisa sampai sana, tapi karena aku pengen jalan kaki menyusuri pantai, jadi aku turun di Jalan Kelawei sebelum sampai Gurney Drive trus jalan kaki menuju ke Jalan Persiaran Gurney dan jalan kaki menyusuri pantai sampai ke Gurney Drive Hawker Center. Lumayan jauh juga ternyata.

Gurney Drive Hawker Center adalah semacam area berkumpulnya banyak pedagang kaki lima yang menjual berbagai makanan khas Penang. Areanya dipisahkan antara makanan yang halal dan non halal. Bagian yang halal ada di paling ujung utara. Malam ini aku pilih makan Rojak Pasembur. Makanan ini berupa goreng-gorengan seperti bakwan udang, tahu goreng, dll yang bisa kita pilih sendiri lalu nanti si penjual yang akan memotong-motong dan akan dikasih potongan sayuran (kayaknya sih timun) dan bumbu semacam bumbu dari gula dan kacang, mirip bumbu rujak di Indonesia. Si bapak-bapak penjualnya atraktif banget pas motong-motong gorengan sama ngasih bumbunya. Pakai nyanyi-nyanyi segala. Sebenernya aku suka banget makanan ini, tapi gara-gara kondisi perut ini jadi bikin aku nggak terlalu bernafsu buat makan. Selesai makan aku balik lagi ke hotel. Untuk ke hotel aku musti ke halte bus, dari Gurney Drive aku nyebrang ke arah utara ke Jalan Tanjung Tokong di sebelah kanan jalan. Aku naik bus no. 101 lagi dan turun di halte Jalan Kedah di Jalan Transfer dan jalan balik ke hotel. Hari pertama di Penang yang cukup melelahkan. Saatnya istirahat mengumpulkan energi buat besok.

Gurney Drive Hawker Center

Gurney Drive Hawker Center

Penjual Rojak Pasembur

Penjual Rojak Pasembur

Rojak Pasembur

Rojak Pasembur

Keesokan harinya aku berangkat dari hotel pagi-pagi. Rencana hari itu aku mau ke Keh Lok Si Temple, Bukit Bendera dan Pantai Batu Ferringhi. Tujuan pertama adalah ke Keh Lok Si Temple dan Bukit Bendera (Penang Hill) yang lokasinya satu arah jika naik Bus RapidPenang. Dari hotel aku jalan kaki ke terminal Komtar dan naik bus no. 204 jurusan Penang Hill. Perjalanan dari Komtar ke Air Hitam (daerah di mana Keh Lok Si Temple dan Penang Hill berada) lumayan jauh. Bus 204 akan melewati Keh Lok Si Temple dulu sebelum sampai ke tujuan akhir Penang Hill, jadi aku turun di Jalan Pasar, Air Hitam dulu, tempat turun bus terdekat dengan jalan menuju Keh Lok Si Temple. Untuk menuju Keh Lok Si Temple, dari Jalan Pasar aku belok ke kiri dikit (menuju Jalan Balik Pulau) kemudian di sebelah kiri ada semacam gang kecil mirip terowongan menuju ke atas yang kanan kirinya penuh dengan orang jualan. Aku berjalan ke atas menyusuri gang berundak-undak. Selesai menyusuri gang aku ketemu semacam serambi yang isinya juga pertokoan, banyak kios-kios yang menjual souvenir. Setelah itu juga ada kolam yang berisi banyak kura-kura lalu ada taman-taman juga. Sampai serambi terakhir sebelum naik ke atas Pagoda atau Patung besar Dewi Kwan Yin (Dewi Kwan Im) terdapat beberapa patung tempat berdoa dan toko souvenir resmi. Untuk naik ke kedua tempat tersebut kita harus bayar. Aku pilih ke salah satu tempat aja yaitu ke Patung Dewi Kwan Yin. Untuk naik ke atas Patung Dewi Kwan Yin kita harus naik inclined lift. Di atas area tempat patung Dewi Kwan Yin berdiri ada taman, patung-patung dari semua shio yang ada dan ada beberapa bangunan. Dari sini kita juga bisa melihat ke bawah, kota Air Hitam yang tepat berada di bawahnya dan George Town yang agak jauh ke arah pantai.

Keh Lok Si Temple

Keh Lok Si Temple

mie goreng & es sari tebu pinggir jalan

jalan naik menuju Penang Hill Station

jalan naik menuju Penang Hill Station

Kelar foto-foto aku balik lagi turun. Aku mampir beli tempelan kulkas di pedagang yang ada di pinggiran gang. Pas aku sampai di Jalan Pasar lagi, eh bus 204-nya barusan lewat. Berhubung aku males nungguin lama, jadilah aku jalan kaki ke Penang Hill. Aku buka google map di BB. Di tengah jalan pake acara gerimis yang lumayan deres pula, untung bawa payung. Sampai persimpangan Jalan Air Hitam dan Jalan Bukit Bendera, aku mampir dulu beli makan siang. Ada pedagang kaki lima yang jualan di pojokan jalan. Aku beli mie goreng dan minum sari tebu. Selesai makan aku lanjut lagi jalan kaki menanjak menyusuri Jalan Bukit Bendera ke Penang Hill Station. Keringetan dah sampai Penang Hill Station. Aku langsung ngantri beli tiket naik kereta menuju ke atas Bukit Bendera. Harga tiketnya seorang 30 MYR buat turis asing, kalau penduduk Malaysia cuma 8 MYR. Kereta yang dioperasikan saat ini tergolong baru. Kereta sebelumnya lebih klasik bentuknya, sedangkan yang sekarang lebih modern, mirip dengan kereta MRT tapi desainnya dibuat miring jadi pada saat kereta dalam posisi miring, lantai di dalam kereta posisinya datar. Kereta mulai bergerak naik menyusuri jalur rel yang sangat menanjak hingga kemiringan kira-kira 60 derajat. Setelah beberapa lama akhirnya sampai juga di stasiun atas Bukit Bendera. Udaranya lumayan dingin. Dari atas Bukit Bendera kita bisa melihat ke arah kota George Town. Di atas sini ada beberapa bangunan antara lain cafe Sky Terrace, Owl Museum, Masjid Bukit Bendera, Kuil Hindu Murugan dan Guard House. Masjid dan Kuil Hindu ini lokasinya bersebelahan. Aku sekalian sholat jama’ Dzuhur dan Ashar di Masjid Bukit Bendera.🙂

Bukit Bendera (Penang Hill)

Selesai keliling dan foto-foto di Bukit Bendera, aku balik turun lagi naik kereta sampai stasiun bawah. Dari stasiun bawah aku naik bus 204 jurusan Bukit Bendera – George Town yang memang sudah ngetem di sana karena Bukit Bendera memang terminal terakhirnya. Aku turun di terminal Komtar. Dari terminal komtar aku langsung naik bus 101 ke Pantai Batu Ferringhi. Di tengah perjalanan, setelah kota Tanjung Bungah di sisi kanan kita bisa liat ada Masjid Terapung Tanjung Bungah. Sampai Batu Ferringhi aku turun di depan Pom Bensin Petronas Batu Ferringhi. Dari situ aku nyebrang trus cari jalan masuk ke arah pantai. Aku jalan kaki menyusuri pantai ke arah barat daya karena rencananya aku mau ke Hard Rock Hotel, seperti biasa mau beli kaos Hard Rock Cafe (dibela-belain beli tiap dateng ke suatu kota yang ada Hard Rock Cafe-nya meskipun biasanya bayarnya pake kartu kredit, hehehe). Pantai Batu Ferringhi ini panjan, lurus dan tergolong bersih dengan pasirnya yang berwarna putih. Di sini juga tersedia berbagai macam olahraga pantai seperti jet ski, parasailing, banana boat, dan lain-lain. Di pinggir pantai juga ada banyak penginapan-penginapan kecil yang langsung menghadap ke pantai. Lumayan jauh juga aku jalan kaki sampai Hard Rock tapi ga terlalu berasa karena di sepanjang pantai aku foto-foto sambil liat pemandangan. Pas banget juga waktu itu udah hampir sunset. Sampai Hard Rock Hotel aku langsung cari tempat rock shop yang jual kaos dan berbagai souvenir Hard Rock. Aku nemu Rock Shop di bagian depan hotel. Tokonya kecil, barang yang dijual pun macamnya nggak banyak. Agak susah juga milih kaos yang pas di hati, meskipun akhirnya dapet juga. Kelar beli kaos, aku foto-foto di depan gitar khas-nya Hard Rock bentar trus jalan nyusuri jalan raya sampai nemu halte bus yang nggak jauh di sebelah kanan hotel. Nah pas jalan itu baru tau kalo ada Rock Shop-nya Hard Rock Cafe di sisi sebelah kanan kompleks hotel dan lebih gede tempatnya. Barangnya juga nampak banyak pilihan. Zzzzzz… Udah terlanjur, ya udahlah..

Lumayan lama juga aku duduk di halte nungguin bus 101 lewat sampai akhirnya ada juga bus yang nongol. Rencananya aku mau mampir di Gurney Drive, cari makan malem sekalian. Sampai Gurney Drive aku nyobain char kway teow yang terkenal di Penang. Char kway tiaw itu kalau di Indonesia mirip kweitauw goreng tapi ditambah udang dan sayuran seperti tauge dan daun bawang. Bumbu-bumbunya juga sepertinya agak beda. Bumbu char kway teow lebih complicated saos-saosannya. Malam terakhir di Penang ditutup dengan sepiring char kway teow, segelas teh dan es jeruk.🙂

Char Kway Teow

Char Kway Teow

Selesai makan aku naik bus 101 lagi dan seperti sebelumnya aku turun di halte yang ada di Jalan Transfer. Sampai hotel, mandi trus packing karena besok pagi-pagi buta harus berangkat ke bandara, balik lagi ke KL.

Besok paginya, aku naik bus 401E lagi dari Komtar ke bandara. Akhirnya balik lagi ke KL dan sampe LCCT masih cukup pagi. Pesawatku untuk balik ke Jakarta masih sorenya. Aku harus balik ke apartemen temenku dulu buat ambil barang-barangku yang aku tinggal pas pergi ke Penang. Buat ke kota, aku beli tiket aerobus ke KL Sentral sekalian untuk PP karena lebih murah 2 MYR itungannya kalau PP. Sampe KL Sentral aku mampir makan siang dulu di food court-nya sekalian mau ngabisin duit ringgit. Aku pesen nasi ayam hainan, semacam es campur, sama tea-o-ice. Pas makan aku sambil itung-itung sisa ringgit yang aku punya. Aku harus bisa ke apartemen temenku dan balik lagi ke KL Sentral hanya dengan uang 2.65 MYR (kalau nggak salah ingat). Kalau untuk ke bandara dari KL Sentral sih udah aman karena tadi udah beli tiket aerobus PP pas di LCCT. Waktu aku ke mesin tiket LRT, untuk ke stasiun Masjid Jamek (stasiun terdekat sama apartemen temenku kalo dilihat dari peta) aku butuh duit 1.4 MYR, kalo harus PP berarti butuh 2.8 MYR, nggak akan cukup duitku. Akhirnya aku putar otak, cari alternatif lain yang lebih murah. Aku liat jalur transportasi yang lain selain LRT. Aku liat jalur kereta komuter dan nemu stasiun yang masih bisa terjangkau kalau harus jalan kaki ke apartemen temen (meskipun lebih jauh jalannya dibanding kalau naik LRT dan turun di Masjid Jamek) yaitu stasiun Bank Negara. Aku langsung ke counter tiket Komuter trus nanya dulu ke Mbak penjualnya, kalau ke Bank Negara brapa duit, dia bilang 1 MYR. Mantaplah. Berangkat naik Komuter 1 MYR, baliknya naik LRT dari Masjid Jamek 1.4 MYR, total cuma 2.4 MYR dan duitku sisa 25 sen. Hehehe. Sampai apartemen temen, aku langsung beres-beres dan packing. Temenku bilang mau pergi keluar dulu sama temennya (yah karena waktu itu libur hari Minggu dia pasti mau jalan-jalan juga), ya udahlah aku juga malah seneng, bisa tidur dulu sambil nunggu sore. Begitu bangun tidur, ga lama temen datang bawain burger McD. Hehehe. Berhubung aku buru-buru harus berangkat, jadilah aku bilang ke temenku, gimana kalai makanannya aku bawa aja (nggak tau diri, hehehe). Sekitar 3 jam sebelum jam terbang, aku udah berangkat dari apartemen temen, jalan kaki ke stasiun Masjid Jamek, naik LRT ke KL Sentral trus langsung naikaerobus ke bandara. Pas lah aku sampai di bandaranya. And finally, selamat kembali lagi ke tanah air. *langsung males mikirin besok harus mulai kerja lagi*

Terminal Komtar di pagi buta

Terminal Komtar di pagi buta

Bagian Depan Terminal Bandara Penang

Makan Siang penghabisan di KL Sentral

Makan Siang penghabisan di KL Sentral

 
19 Comments

Posted by on July 3, 2013 in Malaysia

 

19 responses to “Solo-Trip to Kuala Lumpur and Penang (Part 2)

  1. Felix Halim

    July 22, 2013 at 4:39 pm

    Nice Trip.. cuman bagi agan2 yang mau menghemat boleh naik Hoop On Free CAT bus yang tidak memungut biayan sama sekali.. Agan dapaet menaikinya dari terminal komtar.. dan saya sarankan tinggal di hotel Old Penang karena wilayahnya yg sangat strateggis.. dekat dengan komtar dan lebuh cecil yg terkenal akan kwetiau gorengnya.. dan jangan lupa selalu cek peta dan melihat Place of Interestnya

     
    • Noviar

      July 22, 2013 at 5:20 pm

      Thanks sharing-nya. Iya mmg CAT bus sangat berguna buat keliling kota George Town. ^^

       
    • Property Broker :

      November 20, 2014 at 6:35 pm

      Bro, postingannya sangat bermanfaat. Ohya, aku juga akan nginap di tune hotel georgetown. kalau hotel old penang itu dekat gak dengan tune hotel?
      soalnya aku belum pernah ke penang dan nantinya perginya bawa keluarga kecilku yaitu saya, istri dengan 2 anak kecil.
      kami tiba di bandara penang sekitar jam 8 malam, apakah susah cari kendaraan ke tune hotel ?
      trims sebelumnya.

       
      • Noviar

        November 21, 2014 at 12:18 pm

        Hotel old penang lumayan sih kalo jalan kaki dr tune hotel. Coba aja dilihat di google map.
        Saran saya sih karna sampai sana sudah cukup malam dan bawa anak2, mending naik taksi resmi aja, sktr 38 RM.
        Kalo mau naik bus rapidPenang bisa jg tp hrs transfer. Ini pilihannya:

        Option 1:
        Route 102 bus to Maybank Gelugor
        Transfer Route 304 bus to New World Park
        (Tune Hotel is next door to New World Park)

        Option 2:
        Route 401E to Lebuh Lintang
        Route 10 to New World Park

        Option 3:
        Route 306/401E to Queensbay Mall
        Route 304 to New World Park

         
  2. ainun

    January 4, 2014 at 11:52 am

    nemu artikel buat pegangan di penang nih. Rencana aku juga nginep di tune hotel nih, liat rutenya, tune hotel masih masuk wilayah kota kan ? Ceritanya ada petunjuk jalannya lagi, nice info ^^

     
    • Noviar

      January 5, 2014 at 1:02 pm

      Betulll.. ke Komtar jg ga terlalu jauh.. msh bs jln kaki. Have a nice trip ya! ^^

       
  3. alfathriqz

    March 30, 2014 at 12:49 am

    Misi mas. Ada saran kalau mau ke kedah gak? Tepatnya kulim. Kalau dari bandara kl naik apa turun di mana. Soalnya ada rencana mau kesana pertengahan april ini. Kalo boleh share via email juga yaa di alfathor93@gmail.com makasih banyak mas🙂

     
  4. andre pandjaitan

    July 7, 2014 at 12:44 am

    Keren trip reportnya. Kebetulan bulan depan mau ke Penang. Btw, frekuensi bus di Penang itu sering apa agak lama ya mas?
    Thank you
    Salam

     
    • Noviar

      July 7, 2014 at 3:55 am

      Lmyn sering kok.. 15 mnt an kalo ga salah udh ada bus berikutnya

       
  5. Property Broker :

    November 20, 2014 at 6:38 pm

    katanya penang terkenal dengan kulinernya dan street foodnya…kira kira dimana lokasi street food dan pusat kulinernya ?
    thanks before

     
    • Noviar

      November 21, 2014 at 12:31 pm

      Ke gurney drive hawker center aja.. lengkap di situ.. aku critain jg kok di catatanku di atas..

       
  6. MeKia

    December 31, 2014 at 9:14 pm

    Mas, mo tnya nih… Airport tax di bandara Penang berapaan y??
    Terimakasih

     
    • Noviar

      December 31, 2014 at 9:16 pm

      Di bandara2 di Malaysia ga perlu bayar airport tax seperti di Indonesia..

       
  7. Endi

    January 23, 2015 at 2:43 pm

    Kalau mau ke Kulim Kedah gmn Bos

     
  8. Neng Yanti

    November 17, 2016 at 11:25 am

    tanya mas, aku dari bandung udah punya voucer hotl di penang. baiknya gmn cara ngatur tripnya ke KL sampai penang ya? thx

     
    • Noviar

      November 28, 2016 at 8:23 pm

      Naik airasia kan? Km booking aja, from nya bandung, to nya ke penang. Ntar keluar pilihan connecting flight (transit di KL). Pilih aja yg jam nya comfortable buat kamu, dan tentunya harganya jg cocok😀

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: