RSS

Winter Trip in South Korea: Busan in 2 Days

19 Feb

Tanggal 5 Januari 2012 adalah hari pertama aku, Elsa, Rifki menginjakkan kaki di Korea Selatan. Kami turun dari pesawat menuju ke dalam ruangan di dalam gedung Bandara Incheon. Bandaranya cukup mewah dan modern meskipun masih kalah dibanding Changi di Singapore tapi jauh lebih bagus dibanding Soetta. Hehehe. Dari terminal tempat kami turun ke terminal kedatangan utama kita harus naik kereta antar terminal. Lolos dari imigrasi, kami menuju ke hall kedatangan dan mencari pintu keluar no.10 untuk membeli tiket bus ke Busan. Loket penjualan tiket ke Busan ada di blok 10C (liat peta di bawah).

Brrrrr.. Adem banget pas pintu otomatis menuju keluar dari gedung terminal terbuka. Jadi kami pun langsung pakai kostum winter lengkap sebelum keluar untuk membeli tiket bus. Tiket bus Incheon – Busan harganya sekitar 42rb KRW. Mahal juga untuk ukuran kita. Dan itu juga ga dapet makanan apa-apa. Setelah dapet tiket yang jam 10.20, kami balik lagi masuk ke gedung terminal buat cari makan, dan yang kami langsung menuju ke KFC (bingung mau cari makan apa). Standar sih harga paketan di KFC sekitar 6rb – 8rb KRW. Oiya, di Korea kalau makan di resto cepat saji macem KFC gini, setelah makan, sampah-sampahnya musti dibuang ke tempat sampah yang tersedia dan nampannya pun ditumpuk di tempat yang telah disediakan.

tempat sampah yang selalu ada di KFC Korea

tempat sampah yang selalu ada di KFC Korea

Waktu udah mendekati jam 10.20, kami segera menuju ke tempat pemberhentian bus di depan loket tempat beli tiket tadi. Bus juga udah datang, kami pun langsung naik ke Bus karena ga mau kedinginan di luar. Bus-nya cukup nyaman sih.. Berangkattt.. Bus berangkat tepat waktu.. Di sepanjang jalan kami puas banget ngeliat salju di kanan kiri jalan bahkan sempat hujan salju juga😀

Di tengah perjalanan, bus berhenti di semacam rest area. Standar lah seperti rest area di Indonesia, ada toilet, penjual makanan dan minuman. Yang beda bagi kami adalah pemandangannya, penuh dengan salju. Di belakang rest area juga ada perbukitan yang ditutupi salju.

Bus Incheon - Busan di Rest Area

Bus Incheon – Busan di Rest Area

Rest Area di percabangan jalan menuju Busan dan Seoul

Rest Area di percabangan jalan menuju Busan dan Seoul

bukit di bagian belakang Rest Area

bukit di bagian belakang Rest Area

Setelah berhenti sekitar 15 menit, perjalanan dilanjut lagi. Di sepanjang perjalanan berikutnya aku banyak-banyakin tidur biar fit lagi🙂 Akhirnya bus sampai juga di terminal bus Nopodong yang merupakan terminal bus antar kota-nya Busan. Letaknya di pinggiran kota Busan sebelah utara. Untuk menuju ke pusat kota, dari terminal ini kami naik subway train line 1 warna orange, dan tergantung dari tujuan masing-masing mau ke daerah mana, bisa transit ke jalur lain juga sesuai tujuannya. Tinggal lihat peta jalur subway aja. Berhubung kami mau ke penginapan yang udah kami booking sebelumnya (Kim’s House) yang lokasinya ada di deket stasiun subway Daeyeon, jadi kami naik line 1 dulu sampai stasiun Seomyeon trus ganti line 2 (warna hijau) yang ke arah Jangsan dan turun di stasiun Daeyeon.

Sampai di Daeyeon, kami agak kebingungan nyari alamat si Kim’s House dan kami harus nanya-nanya ke orang yang lewat. Untungnya mereka helpful sama orang asing meskipun orang yang kami tanyai itu agak kurang ngerti juga daerah situ. Tapi akhirnya ketemu juga. Kim’s House ini bentuknya nggak seperti penginapan tapi lebih ke rumah biasa. Sepertinya sama si empunya si Mr.Kim, rumah yang jadi tempat tinggalnya ini kamar-kamar kosongnya dimanfaatkan untuk disewakan ke turis-turis. Dia cuma tinggal berdua di situ sama istrinya. Umurnya juga masih muda, mungkin sekitar 30 tahunan ke atas. Jadi semua fasilitas di rumah itu bisa digunakan bersama-sama, si empunya dan para tamu-tamu yang menyewa rumahnya. Termasuk dapur dan ruang makannya. Mr. Kim-nya juga baik orangnya. Pas dateng kita dijelasin tempat-tempat wisata yang menarik dikunjungi di Busan pakai peta. Sebenernya sih aku juga udah buat itinerary-nya sih, jadi udah tau mau kemana aja dan kapan. Sore itu kami putuskan buat istirahat dulu, baru habis maghrib jalan keluar.

Kebingungan cari alamat Kim's House

Kebingungan cari alamat Kim’s House

Sekitar jam 7-an malam kami jalan keluar. Tujuan kami adalah ke Gwangalli Beach. Berhubung sekalian mau cari makan dan lokasinya nggak terlalu jauh dari penginapan, jadi kami putuskan buat jalan kaki. Wrrrr… anginnya kenceng juga di sepanjang jalan. Mungkin karena dekat dengan laut. Sebenernya ga ada masalah sama suhu musim dingin di Busan, asal nggak ada angin. Tapi begitu anginnya lumayan kenceng, dinginnya jadi berasa bangettt. Di sepanjang jalan kami bingung juga mau cari tempat makan. Mau masuk ke resto tapi kawatir harganya mahal dan merusak keuangan kami jadi ga brani deh masuk. Sampai akhirnya kami ketemu semacam warung mungkin kalo di Indonesia, jualannya semacam makanan cepat saji yang mereka masak dari makanan kemasan instan. Mungkin kalo di sini semacam warung burjo yang biasa jualan mie instan juga. Tapi ini lebih elit dikit, meja kursinya macem di foodcourt gitu meskipun space-nya kecil. Kami pesan nasi plus sup kimchi. Yah lumayan lah buat ngisi perut dan yang pasti harganya murah meriah.

Habis makan kami lanjut jalan kaki lagi dan akhirnya sampai juga di Gwangalli Beach. Agak aneh juga ke pantai malem-malem, di musim dingin pula. Hehehe. Kami kesini karena memang mau ngeliat suasana keramaian di sana karena banyak resto-resto dan tempat hangout orang Busan di sepanjang jalan di tepi pantai, apalagi waktu itu pas malem minggu. Selain itu kita juga pengen liat Gwangan Bridge yang tampak melintang di depan pantai dengan lampu-lampunya. Di pinggir pantai juga ada trotoar lebar dimana ada taman-taman kecil dan kursi-kursi buat duduk-duduk. Saat itu juga masih suasana natal & tahun baru, dekorasi-dekorasi natal dan tahun baru juga masih terpasang. Jadi kami bisa foto-foto juga di sana.

Gwangan Bridge from Gwangallin Beach

Gwangan Bridge from Gwangalli Beach

Gwangali Beach: (dari kiri atas searah jarum jam) cafe-cafe di tepi jalan sepanjang Gwangalli Beach; trotoar di tepi pantai yang masih berhias lampu-lampu dekorasi Natal & Tahun Baru; kertas-kertas yang digantung di bawah pohon lampu 2013 yang berisi harapan-harapan orang yang menulisnya di tahun yang baru; pohon lampu tahun baru 2013; kepiting salju di salah satu resto di pinggir pantai

Gwangali Beach: (dari kiri atas searah jarum jam) cafe-cafe di tepi jalan sepanjang Gwangalli Beach; trotoar di tepi pantai yang masih berhias lampu-lampu dekorasi Natal & Tahun Baru; kertas-kertas yang digantung di bawah pohon lampu 2013 yang berisi harapan-harapan orang yang menulisnya di tahun yang baru; pohon lampu tahun baru 2013; kepiting salju di salah satu resto di pinggir pantai

Puas jalan-jalan di Gwangalli Beach, kami pun mencari stasiun Metro (subway) terdekat yaitu Gwangan St. dan kami naik subway train jalur hijau ke Daeyeon St dan kembali ke penginapan.

Besok paginya kami siap-siap buat jalan lagi. Tujuan kami hari itu adalah ke Jagalchi Fish Market, Busan Film Festival Walk, Gukje Market, Busan Tower dan Dongnae Foot Bath Hot Spring. Sebelum berangkat jalan, kami sudah packing tas dan menitipkan tas ke Mr. Kim sekalian check out karena sorenya kami harus ke bandara untuk terbang ke Jeju. Tujuan pertama kami pagi itu ke Jagalchi Fish Market sekalian jalan-jalan di Busan Film Festival Walk, Gukje Market dan Busan Tower yang lokasinya nggak jauh dari Jagalchi Fish Market. Dari Daeyeon St. kami naik subway jalur hijau ke Seomyeon St. trus lanjut ganti jalur orange ke Jagalchi St. Sampai di Jagalchi St. kami jalan keluar melalui exit no.10 yang menuju ke Jagalchi Fish Market. Sampai di jalanan pasar, sudah banyak penjual ikan yang berjualan dagangannya di tepi jalan. Ada juga kios-kios yang merangkap resto-resto kecil yang menjual kepiting salju yang diletakkan hidup-hidup di akuarium-akuarium di depan resto mereka. Seneng banget ngeliatin ikan-ikan dan hasil laut lainnya dijual di pasar ini. Buanyak, baik kuantitas maupun jenisnya, jenis ikannya beragam dari berbagai macam ukuran, dan keliatan seger-seger. Masih belum masuk ke gedung pasarnya aja udah banyak banget yang jualan. Pas masuk ke dalam gedung pasar, pasarnya cukup bersih. Di lantai dasar berisi penjual hasil laut saja, sedangkan kalo kita naik ke lantai atas, terdapat warung-warung makan yang menjual menu-menu dengan bahan dasar hasil laut yang dijual di bawah. Berhubung waktu itu masih pagi jadi kami cuma liat-liat aja. Berbagai macam jenis hewan laut dijual di sana. Bahkan ada hewan laut yang belum pernah aku liat. Entah apa namanya. Kami turun lagi dan jalan keluar ke bagian belakang gedung yang berbentuk seperti pelabuhan dan bisa langsung memandang ke laut dari tempat tersebut. Pemandangannya bagus juga, jadi kami foto-foto di sana. Terasa banget Busan sebagai kota pelabuhan. Ada banyak burung camar juga yang berterbangan di sana.

Jalgachi Fish Market (searah jarum jam): lapak-lapak di jalanan depan gedung pasar (latar belakang gedung pasar Jagalchi); kerang super!; cumi dari berbagai ukuran; lapak di dalam gedung pasar; dagangan di salah satu lapak di dalam gedung pasar bentuknya aneh-aneh, yang warna ijo itu abalone kali ya; warung-warung di lantai atas gedung pasar

Jalgachi Fish Market (searah jarum jam): lapak-lapak di jalanan depan gedung pasar (latar belakang gedung pasar Jagalchi); kerang super!; cumi dari berbagai ukuran; lapak di dalam gedung pasar; dagangan di salah satu lapak di dalam gedung pasar bentuknya aneh-aneh, yang warna ijo itu abalone kali ya; warung-warung di lantai atas gedung pasar

View di Belakang Gedung Pasar Jagalchi dan Burung Camar yang hinggap dan berterbangan

View di Belakang Gedung Pasar Jagalchi dan Burung Camar yang hinggap dan berterbangan

Sambil menunggu jam makan siang, kami berjalan-jalan dulu ke Busan Film Festival Walk, Gukje Market dan Busan Tower. Busan Film Festival Walk lokasinya berada di seberang lurusannya jalan yang menuju ke Jagalchi Market. Jalan itu khusus untuk pejalan kaki saja  dan banyak penjual makanan yang berjualan di jalan tersebut. Salah satu makanan yang dijual adalah hotteok, semacam pancake goreng manis isi gula-kacang dan kacangnya bukan kacang tanah. Kalo diliat-liat sih mirip potongan-potongan pistachio. Aku beli sebiji. Enakkk ternyata dan dijualnya panas-panas jadi lumayan buat anget-anget. Harganya sebiji 1000 won. Di lantai sepanjang jalan ini juga ada cetakan tangan dan tanda tangan dari artis-artis yang datang di Busan International Film Festival ke-16.

Gapura Busan International Film Festival (atas); cetakan tangan dan tanda tangan di lantai jalan (bawah)

Gapura Busan International Film Festival (atas); cetakan tangan dan tanda tangan di lantai jalan (bawah)

ngantri beli Hotteok dan wujud Hotteok

ngantri beli Hotteok dan wujud Hotteok

Jalan terus ke arah utara kami menemukan Gukje Market. Masih banyak toko yang belum buka jadi kami lanjut jalan kaki ke arah timur laut menuju Busan Tower. Kami cuma foto-foto di depannya aja sih, yang penting ada foto bareng si towernya🙂

Busan Tower

Busan Tower

Kelar foto-foto sama Busan Tower, kami balik lagi ke Gukje Market. Elsa pengen beli boots lucu biar ga kalah trendy sama cewek-cewek Korea. Hehehe. Debenernya karena boots yang dia pake dari Indonesia, sol-nya udah lepas pas baru dipake jalan di Korea sih. Setelah keliling-keliling ketemulah toko yang jual sepatu dan modelnya macem-macem, akhirnya kebeli juga dah boots warna pink setelah ditawar-tawar. Selain sepatu, di Gukje Market ini banyak dijual juga syal, sarung tangan, kupluk dan segala macam pernak-pernik. Setelah keliling-keliling pasar dan waktu juga udah cukup siang, kami balik lagi ke Jagalchi Market. Tekad kami untuk makan kepiting salju udah bulat. Kami pun berhenti di salah satu resto/warung di tepi jalan yang masih termasuk kompleks Jagalchi Market. Tanya sama ibu-ibu penjual yang di depan harganya berapa. Dia bilang sekilonya kalo ga salah 65,000 won. Trus dia ambilin tuh seekor kepiting salju hidup dari akuariumnya. Pas ditimbang ternyata sekilo lebih dikit. Trus kami tawar deh 60,000 won dan udah dimasakin dan kami makan di tempat. Ok deal! Kami masuk ke dalam restonya. Bentuknya lesehan. Sambil nunggu kepitingnya matang, makanan pendamping seperti kimchi, pajeon (pancake korea yang mirip sama telur dadar kalo di Indonesia) dan berbagai macam sayuran lain dihidangkan. Dan itu semua gratis, termasuk di harga beli kepiting tadi, kecuali nasinya, kami harus nambah 1,000 won untuk semangkuk nasi. Setelah beberapa menit kemudian akhirnya kepiting kami dataaang. Baunya aja udah bikin ngiler.  Kami disediain penyungkil daging kepiting dari besi panjang gitu. Semacam garukan tapi langsing, jadi dia bisa masuk ke cangkang kaki si kepiting. Di semua kakinya ada daging yang bisa dimakan. Dagingnya lembut dan manis. Bentuk dagingnya seperti kumpulan benang berdiameter 1 mm gitu. Uenaaakkkk. Trus juga gampang banget lepas dari cangkangnya. Itu kepiting padahal cuma direbus doang masaknya tapi justru malah originalitas rasa daging kepitingnya jadi lebih terasa. Daging kepiting terenak yang pernah aku makan pokoknya. Untuk minumnya disediain pitcher air putih beserta gelasnya, jadi nggak perlu kluar duit lagi. Jadi lumayanlah 21,000 won seorangnya, udah puas.

kepiting salju di-display di dalam akuarium dan calon kepiting salju kami yang lagi ditimbang

kepiting salju di-display di dalam akuarium dan calon kepiting salju kami yang lagi ditimbang

kepiting salju siap santap plus segala makanan pendampingnya (all-in)

kepiting salju siap santap plus segala makanan pendampingnya (all-in kecuali nasi)

Selesai makan, kami lanjutin jalan ke Dongnae Foot Bath Hot Spring. Untuk ke sana kami harus naik subway ke Ocheonjang St. Dari Jagalchi St. kami naik subway jalur orange langsung ke Ocheonjang St.. Sampai di Oncheonjang St., keluar dari exit no.1 trus jalan ke kiri sampai ketemu lampu merah baru deh nyeberang jalan raya dan masuk ke jalan Geumganggongwon-ro trus ikuti petunjuk ke Dongnae Foot Bath Hot Spring. Begitu kami sampai sana, ehhhh malah lagi ditutup. Trus kami jalan lagi nyari Hur Shim Chung Spa yang katanya salah satu tempat spa terbesar di Asia. Susah bener nyari gedungnya. Setelah tanya ke orang baru deh ketemu. Bangunannya jadi satu sama hotel. Aku sebenernya pengen nyobain sih, tapi berhubung Elsa ma Rifki nggak pengen jadi ya foto-foto aja deh di depannya. Pas jalan mau balik ke Oncheonjang St., malah nemu tempat celup kaki yang lain, namanya Dongnae Spatopia dan tutup juga. Kolam-kolamnya pada kering, ga ada airnya. Apa mungkin sistem aliran air panasnya lagi under maintenance ya..

berbagai tempat di kompleks Dongnae Hot Spring

berbagai tempat di kompleks Dongnae Hot Spring

Karena kami harus segera ke Bandara Internasional Gimhae karena malamnya harus terbang ke Jeju dan kami nggak mau terburu-buru jadi kami putuskan untuk segera kembali ke penginapan untuk mengambil tas yang kami titipkan pagi tadi dan Shinsegae Centum City Mall terpaksa di-skip. Setelah pamitan sama Mr. Kim kami langsung menuju ke Daeyeon St. Untuk ke Bandara Gimhae, dari Daeyeon St. kami harus naik subway jalur hijau ke Sasang St. dan dari sana ganti naik Busan-Gimhae Light Metro yang harga tiketnya relatif lbh mahal dibanding harga tiket Metro (subway) biasa. Meskipun sampai di bandara lebih awal, kami tetep langsung check-in duluan. Kami naik Jeju Air yang sebelumnya sudah kami booking via website. Lumayan murah, cuma 42,800 won/person/one way. Tapi kita musti bikin akun dulu di website-nya biar dapet harga promo. Yah nggak masalah sih cuma isi-isi bentar dan kita dapet harga promo. Lumayan kan… Udah termasuk dapet bagasi pula. Hehehe.. Pesawatnya juga bagus, setipe sama Airasia. Jam 19.15 kami pun terbang menuju Pulau Jeju..

Cerita berlanjut di Jeju.. dan sampai saat ini masih ditulis.. sabar yaa.. ^_^’

 
7 Comments

Posted by on February 19, 2014 in South Korea

 

7 responses to “Winter Trip in South Korea: Busan in 2 Days

  1. ainun

    February 20, 2014 at 12:35 pm

    seru juga ceritanya nih hehehe

     
  2. Yudi Pho

    March 1, 2014 at 1:00 am

    menunggu yang jeju, seru ceritanya, april ini juga mau jalan ke busan jeju seoul, tapi masih bingung transportasi di jejunya

     
    • Noviar

      March 1, 2014 at 5:19 am

      Jalan ber berapa orang? Aku kemaren di Jeju nyewa mobil di sini https://www.ktkumhorent.com/eng/rental/guide_01.do
      Murah kok. Apalagi kalo rame2. Yg agak mahalan itu bbm nya. Sktr 20rban rupiah/lt.
      Sblm reserve km dftr dl jd member nya biar dpt harga diskon. Gampang kok registrasinya. Nah tp yg jd supirnya nanti musti punya sim internasional. Ttg sim internasional bisa baca tulisanku ini https://catatantraveling.wordpress.com/2013/02/01/bikin-sim-internasional-ternyata-gampang/
      Selain gampang kemana2 kl nyewa mobil, rasanya jg seru bgt bs muter2 di jeju nglewati jalanan desa di sana.😀

       
      • samuelbudi

        April 9, 2014 at 3:35 pm

        Saya mei mau ke jeju,, dan saya coba tanya2 ke ktkumho dan avis korea, katanya sim internasional indonesia tidak berlaku disana.. bisa dishare dong pengalamannya.. makasih seblumnya

         
      • Noviar

        April 9, 2014 at 4:06 pm

        Waktu saya ke sana Januari 2013, saya sewa mobil di ktkumho rent dan pakai sim international Indonesia, ga ada masalah kok. Booking via online dan sampai bandara jeju lgsg lapor ke counternya yg di bandara dg mnnjukkan bukti booking. Nanti sama petugasnya diberitahu kl kita akan dijemput semacam shuttle ke kantornya ktkumho yg ga jauh jg dr bandara. Nanti di kantornya ini kami serahkan paspor dan sim international dan sama petugas akan difotocopy kmdn isi2 form dan bayar. Stlh itu diantar lgsg ke mobil yg kita sewa. Mrk akn mnnjkkan jmlh gasoline yg udh full dan nanti harus kmbali dlm posisi full lg, juga jam brp maksimal kita hrs kembaliin itu mobil. Udah deh hbs itu lgsg cabut.

         
  3. samuelbudi

    April 10, 2014 at 6:53 am

    jawaban dari avis korea: Lastly, Indonesia and Korea don’t have convention between two country.
    It means, International driving permit issued by Indonesia is not available drive in Korea.
    jawaban dari ktkumho: I’m afraid to inform that we are not accepted the international driving permit issued by Indonesia.
    bingung dah saya.. hehehe
    apa peraturan baru x ya..?
    waktu disana selain paspor dan sim internasional apalagi yang diminta..?

     
  4. Tiara

    July 24, 2015 at 11:42 pm

    aduh kepiting saljuuu…..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: